
Sinar matahari memancari wajah Stella yang masih terlelap tidur di ranjang. Seketika senyuman terpancar di bibir manisnya, kecupan seseorang sampai di dahinya. Stella sudah sadar akan siapa seseorang itu, aroma parfum. Ya, Stella sudah amat peka sekali dengan aroma parfumnya.
"Mau ikut anter Ibu sama Ayah ke bandara gak?"
"Mereka udah gede, ngapain pake di anter segala sih?"
"Yaudah, aku berangkat yah"
"Hmmm"
"Dis, ayo! Gue gak sabar nih cuci mata liat ciwi-ciwi cantek di bandara"
"Ayo!" Ucap Stella langsung beranjak dari selimut yang sedari tadi memeluk erat tubuhnya.
"Ngapain ikut sih? Ganggu aja lo!"
"Mending diem, banyak bacot gue sentil mulut lo pake linggis" Yudistira malah tertawa mendengar itu.
"Gak mandi?"
"Gak! Hemat air, lagian gak mandi juga muka gue udah cantik"
"Belek dimana-mana, lo sebut cantik?"
"Berbelek juga cewek gue tetep cantik!" Tekan Yudistira, sambil membersihkan belek di mata Stella.
"Idih, najes!"
"Kesian banget nasib jomblo yah, mangkanya jangan ngejomblo mulu"
"Mending gue ngejomblo dari pada hubungan lo banyak dramanya"
"Bener-bener pengen gue tabok pake linggis yah tuh mulut!" Kesal Stella sambil terus berusaha menendang-nendang ke arah Rami. Namun, di tahan oleh Yudistira.
Sampainya, mereka di bandara mengantarkan kedua orang tuanya untuk berbulan madu ke ibu kota prancis. Terlihat jelas sepasang insan yang sudah tak muda lagi itu, sedang merasakan puber keduanya. Mereka bergitu mesra, layaknya anak muda yang baru mabuk berahi ; jatuh cinta.
"Kami cuma seminggu saja. Ingat yah Rami, untuk menjaga mereka berdua selama Ibu dan Ayah pergi. Hanya kamu yang bisa Ibu andalkan dalam situasi saat ini"
"Walau Ayah dan Ibu sudah mengijinkan kalian kembali menjalin hubungan. Jangan berbuat hal yang tidak-tidak selama kami pergi, Oke?"
"Oke"
"Baiklah, kami pergi dulu. Jaga diri kalian" Kedua orang tua mereka mulai pergi, dan mulai menghilang dari pandangannya.
"Oke! Mari berpesta!" Sorak Rami, membuat Stella dan Yudistira tersenyum.
Benar saja, mereka berpesta di rumah keluarga Jinata. Tak hanya mereka bertiga, disana juga kedatangan sembilan temannya. Rasa rindu kini terbayarkan, padahal belum sampai sebulan mereka tak bertemu. Pernikahan kedua orang tuanya masih mereka sembunyikan dari teman-temannya. Mereka memutuskan untuk melakukan semua itu, sampai mereka siap membuka suara.
"Lo mau tau gak, rumah gue segede apa? percis banget seukuran kamarnya si Jinata, Hhaha"
"Masih mending lo, gue seukuran kamar mandi si Jinata. Awokwokwok"
"Nat, ini rumah nyewa yah?"
"Jangan sembarang kalo ngomong! Yakali nyewa. Bengek duluan yang ada keluarga gue, Hhahaha"
"Oke-oke gais. Gue udah bawa pemanis nih"
"Bangsat! Lo ngapain bawa ciu ke rumah gue?! Emak gue masih ada di rumah!"
"Nata! Ingat apa yang tadi Ibu bilang yah, boleh berpesta. Namun, tidak dengan hal yang tidak-tidak" Ucap Bu Popi, sembari menuruni setiap anak tangga di rumahnya. Melihat Bu Popi yang semakin mendekat, membuat wajah kedua belas anak itu kini sangat pucat sekali.
"Kenapa? Kenapa muka kalian pucat semua? Oh! Saya tau! Kalian sembunyiin sesuatu kan?!"
"Ingat Ibu apa kata Papah. Gak boleh Suudzon harus Husnudzon. Bilangan Papah nih~"
"Bukan Ibu mau Suudzon. Tampang-tampang kalian ini terlihat mau berbuat dosa, apa yang kalian sembunyikan? Jika tidak perlihatkan sekarang, saya akan tetap disini sampai pestanya selesai!" Tegasnya.
"Terlalu goblok si otak lo, Je"
"Boleh cakep asal jangan goblok!"
"Napa lo pada jadi nyerocosin gue?!"
"Cepat! Perlihatkan sekarang juga!" Tegas Bu Popi lagi.
Jije pun yang amat tersuduti, perlahan memberi sebotol minuman berakohol itu kepada Bu Popi. Melihat itu Bu Popi langsung menjewer telinga Jije, dengan amat menyakitkan. Membuat Jije pun amat kesakitan. Tak henti-hentinya dia teriak kesakitan.
"Bu... Bu... Bu... SAKIT!!!"
"Jangan buat rumah saya ternodai akan kelakuan kalian disini!" Jelasnya dengan wajah sinis.
"Mursih! Jika mereka sudah selesai berpesta, panggil pak ustad. Langsung doakan rumah ini, agar para setan keluar dari sini" Sambungnya.
"Baik bu!"
"Parah banget emak lo Nat, sampai segitunya"
"Bukan emak gue yang parah, lo nya aja yang gak tau tempat!"
"Gue selepet juga lo, Je! Belum aja mulai pestanya, udah buat jantung gue berhenti berdetak aja lo!" Ketujuh temannya itu langsung berembuk menghabisi Jije di tempat.