Bad Students

Bad Students
[30]



***


"Mulai saat ini anda tidak perlu mengajar di sekolah ini lagi. Dan tidak perlu berusaha untuk melamar ke sekolah manapun. Sebab, tidak ada sekolah yang akan menerima anda" Tegas kepala sekolah SMA Nusa dan Bangsa.


Guru itu hanya mendengarkannya, dengan perasaan kesal, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia terus menundukan kepalanya, merasakan jika dia memang tak seharusnya melakukan itu. Dia terlalu ceroboh, dan tak memikirkan kehidupannya untuk kedepannya.


Keluar dari ruangan kepsek, teman-teman Giorgino sudah menunggu disana. Sambil membawa karangan bunga, menandakan mereka ikut sedih akan kepergian guru itu dari sekolah. "Semoga dari sini, bisa buat Ibu menjadi lebih baik untuk kedepannya" Ucap Haru, sambil memberi karangan bunga itu.


"Oh ya! Saya mau kasih tau ke Ibu, karena Ibu selalu meremehkan murid bodoh di kelas. 'Memang kita bodoh, tapi kita gak sepenuhnya bodoh. Semua orang punya skill nya masing-masing dalam pelajaran. Jadi, gak usah terlalu meremehkan anak bodoh lagi. Sekarang bisa kita lihat, siapa yang paling bodoh di situasi saat ini' " Dibuat tambah malu akan perlakuan anak muridnya itu kepadanya. Mereka langsung pergi setelah mengucapkan salam perpisahan.


Ketiga murid yang membuat Stella di keluarkan dari SMA Nusa dan Bangsa, kini di keluarkan dari sekolah. Sebab, Haru dan teman yang lainnya memberi semua video kepada kepsek. Dimana berisi ketiga dari mereka sedang membully, mabuk-mabukan, sampai melecehkan beberapa siswi di sekolah itu.


"Tugas selesai~"


***


"Gue takut hamil, gara-gara kita berhubungan malam itu"


"Tenang aja, gue kan udah pake ******. Bakal aman kok"


"Kalo gue beneran hamil, lo bakal tanggung jawab kan?"


"Kok diem aja sih?! Gue ngomong begini buat jaga-jaga aja. Lo bakal tanggung jawab kan?!"


***


"Udah cium adik gue, lo pernah apain lagi dia?"


"Astaga, Rami! Gue gak akan sebejad itu kali!"


"Gue emang nakal, tapi otak gue masih berfungsi dengan baik! Karena gue sayang Stella, gue jaga kehormatannya!"


"Bagus deh! Kalo lo lakuin hal yang engga-engga, gue cekik, gantung lo di langit-lagit sekolah. Biar mati lo jadi pameran di pagi hari"


"Nah, gini nih! Sama aja lagi membuat rencana buat bunuh gue, kalo beneran terjadi lo bunuh gue. Lo bakal kena kasus pembunuhan berencana tau! Masuk penjara lo nanti!"


"Umur gue belum 17, masih aman kan?"


"Belum 17?! Stella aja umur udah 17 tahun mau ke 18! Jangan banyak ngibul lo!"


"Gue di sekolahin kecepatan sama Ibu asli gue. Jadi, gue gak akan diperjara karena belum 18 tahun"


"Gini nih otak-otak bocil makin kesini makin menggila. Harusnya tuh anak umur 14 tahun udah bisa di jeblosin ke penjara. Zaman sekarang anak makin menjadi, kalo dibiarin terus ya bakal terus bertindak gegabah. Orang tua bisa berhasil mendidik anaknya, tapi kan gatau pergaulannya di luar kaya gimana"


"Kenapa lo jadi mencurahkan kekesalan lo ke gue?! Males denger gue, telinga gue seakan mau meledak!"


"Ini gue mengingatkan lo ke jalan yang benar!"


"Jalan gue udah bener, yang gak bener lo!"


"Astaga, ni anak lama-lama nyari ribut ke gue!"


"Yang, emang beneran si Rami umurnya belum 17 tahun?"


"Rami di denger. Orang dia udah 20 tahun kok. Dia telat dimasukin sekolah sama Ibunya, mangkanya dia jadi pinter. Untung nyokap gue nikah sama bokapnya, tugas-tugas gue dari smp di bantu terus sama dia. Hhaha"


"Nakal juga yah pacar gue ini. Tapi, gak apa-apa selagi bisa dimanfaatkan kenapa engga" Rami yang sedari tadi di hadapan mereka, hanya duduk terdiam dengan wajah sinisnya menatap mereka dengan tatapan tajam.