Bad Students

Bad Students
[51]



"Stell maafin gue yah, gue gak bisa putusin Starla. Karena, gue udah sayang sama dia. Gue gak bisa putus tiba-tiba, Starla pasti sakit nantinya. Lo gak mau kan gue buat 2 hati sakit sekaligus? Udah saatnya lo lawan rasa suka lo ke gue dengan rasa kebencian lo ke gue" Ucapnya, sambil menatap ke arah Stella yang masih tengah berbaring.


Ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Yudistira, terdengar jelas di telinga Stella. Amat sakit, namun dia menahannya. Air matanya sudah membendung di kedua matanya. Tak tau harus bagaimana lagi menahannya. Setelah memberi tahu akan perasaannya sekarang pada Stella, dia langsung pergi meninggalkan.


"Gak ada kesempatan sekecil pun untuk gue menetap di hati lo lagi, Dis?" Tanyanya, dengan penuh harapan.


"Sorry, Stell" Mendengar balasan dari Yudistira, kini Stella menangis sejadi-jadinya. Sudah tak bisa berkata apapun lagi. Rami yang mendengar dari luar pun, langsung memeluk Stella, menutupi kesedihannya.


Stella terus menangis, hingga terseguk-seguk. Dadanya amat sesak, terus memeluk Rami sangat erat, dengan menahan rasa sakitnya yang terus melanda dirinya. Tak tau lagi harus bagaimana, dia sudah amat sangat malu sekali bertemu Yudistira. Dunianya benar-benar suram sekarang.


Setelah dinyatakan sehat, dan boleh kembali belajar. Stella pun menyiapkan mentalnya untuk bertemu Yudistira di kelas nanti, menahan rasa cemburunya saat melihat Yudistira dengan Starla bermesraan, juga menahan rasa malunya.


Stella yang berusaha menahan rasa cemburunya selama sebulan, kini sudah tak kuasa lagi. Hatinya tambah sakit, dia sudah tak bisa lagi menahannya. Dan memutuskan untuk menghindar, setiap kali Starla menghampiri Yudistira. Stella memutuskan pergi ke perpustakaan, sendirian, membaca buku, dan menenangkan diri. Berharap semuanya cepat berlalu, dan rasa sukanya pun cepat menghilang dengan sendirinya.


Bukan salah Yudistira, karena sudah menolak rasa sukanya. Semua karena dirinya sendiri yang terus membolak-balikan rasa sukanya, entah itu untuk siapa.


"Stell, mau sampe kapan lo begini terus?"


"Sampe gue bener-bener lupa sama lo"


"Ya, tapikan gak terus menyendiri begini"


"Terus lo mau gue liat kebucinan lo sama Starla? Yang ada gue tambah sakit kali, Dis"


"Biar gue aja yang jauh-jauh dari lo"


"Udahlah, Dis. Mending lo balik ke kelas, gak usah terus samperin gue begini. Jangan terus buang waktu lo, cuma karena bujuk gue"


"Masih aja keras kepala"


"Ini cara gue, buat ngelupain lo sepenuhnya. Lo sendiri kan yang suruh gue buat lupain lo?"


"Ya tapi, lo gak harus terus menghindar dari gue kali Stell!"


"Ini cara gue! Ngomong emang gampang, tapi gue gak bisa ikutin omongan lo. Stop datengin gue!"


"Maafin gue, karena udah buat lo begini. Maafin gue karena udah nyakitin hati lo"


"Lo begini pun, karena gue juga kan? Karena, gue lebih milih Gino di banding lo. Baguslah, jadi gue sadar sekarang. Sekarang gue rasain rasa sakit lo selama ini"


"Kita ke kelas sekarang" Ucap Yudistira, sembari menggenggam tangan Stella.


"Gue punya cara sendiri, gue yang paling tau diri gue, Dis. Jadi, tolong"


"Lo sengaja kan begini, mau buat gue sama pacar lo itu ribut lagi?!"


"Astaga, Stella. Suuzon mulu!"


"Yaudah, pergi sana!"


"Gak!"


"Yaudah, gue yang pergi"


"Stell! Ayo dong!" Menahan Stella, agar tidak terus pergi.


"Bagus! Berusaha nikung Yudistira dari gue lagi lo?! Gak malu apa?! Cowok di dunia ini gak cuma Yudis kali, mau sampe kapan lo terus begini? Mau tunggu sampe kita putus? Itu gak akan terjadi, Stell! Gue, hamil" Jelasnya, membuat Stella terdiam. Tatapannya terus teralihkan pada Yudistira. Yudistira pun tak mengelaknya, membuat Stella menghela nafasnya amat berat. Dan memutuskan pergi dari perpustakaan.


"Stell! Stella! Dengerin gue dulu, Stell!"


"Gue bukan siapa-siapa lo lagi, gak perlu susah payah lo jelasin ke gue"


"Gue gak ngerasa lakuin itu, gue juga sempet syok sama kaya lo"


"Karena ini lo suruh gue buat berhenti suka sama lo? Gue bakal berusaha, Dis"


"Stell!"


"Lepas! Apa-apaan sih kamu! Pegang-pegang tangan Stella segala! Lo juga, mau sampe kapan begini terus? Mau sampe kapan lo terus berharap sama Yudistira? Udah tau kenyataannya, masih aja gak terima! Apa telinga lo gak berfungsi dengan baik?"


"Gue denger semuanya, gue pun akan berusaha lupain pacar lo ini dari kehidupan gue. Jadi, gak usah susah payah ceramahin gue!"


"Bagus deh, akhirnya sadar juga! Pasti butuh waktu lama sih bagi cewek kayak lo lupain Yudistira. Lagi pula mungkin ini karma, karena lo udah pernah sia-siain Yudistira. Jadi, nikmatin aja sekarang rasa sakitnya"


Starla pergi menggandeng Yudistira. Sementara, Stella terus menahan rasa sakit atas ucapan Starla barusan padanya. Kini, memang sudah saatnya bagi dirinya pergi melupakan Yudistira. Sudah saatnya melupakan semua kenangannya. Jika terus dipaksa, diri sendiri juga yang akan tersiksa. Sudah tak ada lagi tempat untuknya. Dan juga Yudistira sudah menyimpan benih pada Starla. Yang berarti, itu tandanya Yudistira benar-benar mencintai Starla.


Fikiran Stella tambah kacau, buyar. Sakit hati bercampur aduk. Menangis lagi dan lagi. Dia sudah tak bisa terus menahan air matanya untuk mengalir. Aneh sekali, bulan ini Stella penuh akan kesedihan. Entah, untuk bulan kedepannya. Berharap tidak menjamin akan harapan. Semua sudah usai, tak ada lagi yang harus di perjuangkan. Sudah saatnya perjuangan itu terhenti.


Kini, fokus untuk mengejar mimpi. Bukan lagi fokus untuk mengejar rasa yang tak terbalas. Sudah saatnya melangkah keluar dari zona nyaman, agar kembali hidup, dan melihat semua yang tak pernah terbanyangkan sebelumnya.


Perasaan sakit mungkin akan terus membekas. Memang tak ada obatnya, walaupun ada masih bisa kita ingat luka itu sampai kapanpun. Sudah saatnya Stella mengikhlaskan, berhenti berharap pada seseorang lagi. Kini, hanya dirinya sendiri saja yang bisa menjadi harapannya. Bukan orang lain.


Walau memang berat, apa boleh buat. Sudah seharusnya Stella melakukan itu, demi hatinya tidak terus terpaku akan perasaannya pada Yudistira. Walau memang kenyataannya dia masih menyimpan rasa. Tapi, tak sama seperti dahulu. Kini, rasa itu perlahan memudar, semakin memudah, hingga hilang dengan sendirinya.


Hubungan Yudistira dengan Starla kini makin romantis. Yudistira pun sudah tak mendekati Stella, begitu pun Stella. Stella pun sudah terbiasa melihat itu, hingga rasa sakitnya kini sudah tak lagi terasa. Namun, saat semuanya sudah berhasil Stella lupakan. Yudistira malah kembali. Membuat Stella kembali kacau balau lagi dan lagi.