Bad Students

Bad Students
[63] Kejadian 17 tahun terulang kembali



"Sayang! Apa-apaan sih kamu! Harusnya ngelarang dong, ini malah restuin gitu aja!"


"Lagian kita juga salah, kita gak berhak buat paksa perasaan mereka"


"Tetep aja gak bisa! Nama baik kita di mata orang-orang nanti gimana?" Mendengar itu, Stella langsung memasang wajah kesalnya sembari menatap sinis ke Ibundanya.


"Berhenti tatap Ibu seperti itu, Stella!"


"Emangnya kenapa? Natap aja gak boleh?"


"Ini Ibu, kamu gak boleh tatap Ibu seperti itu!"


"Kenapa gak sekalian aja suruh Stella berhenti napas. Biar sekalian hidup Ibu tenang!" Tekan Stella, sambil berjalan ke arah kunci motor yang sedari tadi tergeletak di meja.


"Stella! Mau kemana kamu!"


"Bukan urusan Ibu! Stella udah cukup sesek hidup sama Ibu!" Jelas Stella, kepada Ibundanya.


Tamparan keras menghampiri wajah Stella, itu tamparan dari Rami. Tanpa dia sadar, dia sudah menampar dengan amat sangat keras wajah Stella. Kini, Stella hanya bisa menghela nafas tidak percaya. Sembari terus menatap kearah Rami.


"Stell. Stell. Gue gak sengaja" Ucapnya, sembari terus menghalangi Stella pergi.


"Stell sorry banget Stell, gue beneran gak sengaja" Sambungnya.


Stella acuh tak acuh akan semua ucapan Rami juga Ibundanya, dia langsung menaiki motor vespa miliknya dan mentancap gas. Tak memedulikan siapapun yang menghalangi jalannya, hingga tak sadar kengebutannya membuat semua pengendara lain di jalanan terganggu. Dan mengakibatkan kemacetan parah.


Rami yang sedari tadi mengikutinya pun, sudah menyangka akan apa yang terjadi. Ini bukan kali pertamanya Stella seperti itu. Kejadian ini mengingatkannya akan kecelakaan Stella saat umur 17 tahun. Ya, Stella pernah mengalami kecelakaan mengenaskan.


Dia sengaja menancapkan gas berlawanan arah dan menghantam motor miliknya ke kendaraan lain. Dan mengakibatkan kedua kakinya tidak bisa di gerakan. Untungnya, Ibunda Stella langsung memberi perawatan yang serius untuk Stella. Dan akhirnya Stella pun bisa berjalan dengan normal kembali.


"Stell, berhenti gak lo!" Ucapan Rami, terus dia tak perdulikan. Stella terus menatap ke arah satu titik, dan saat Rami fokus akan tatapan itu. Dia melihat di arah kejauhan ada satu truk besar.


"Stella! Gue bilang berhenti! Jangan main-main lo!"


"Jangan kacauin apa yang harus terjadi" Jawabnya dengan tatapan kosong. Rami benar-benar melihat kedua mata Stella tidak ada kehidupan sama sekali.


"Gue kangen Ayah, Ram"


"Stella, berhenti sekarang. Kalo lo begini terus, gue gak jamin hubungan kita bakal balik" Ucap Yudistira, yang tiba-tiba muncul. Wajahnya amat sangat kepanikan, tidak bisa dia sembunyikan. Stella hanya melayangkan senyuman kecil, juga tak menepikan motornya itu. Dia terus melaju, seakan dirinya akan melakukan kembali kejadian itu.


"STELLA!!"


BRAK!!


"Jangan buat hal gila lo, Stella! Bangun sekarang! Stella!" Kesal Yudistira.


"ARG!!!"


"Kenapa sih lo pake nendang motor gue segala!! Harusnya gue udah ketemu sama Ayah sekarang"


"Stell, jangan ngomong begitu mulu napa!"


"Emang seharusnya begitu kan, Ram?"


"Kalo lo, biarin gue mati tadi. Hidup gue bakalan tenang, Dis. Gue pasti udah susul Ayah gue yang udah di surga"


"Stella dengerin gue! Lo gak boleh lakuin itu lagi. Lo gak boleh celakain diri lo sendiri, bukan cuma lo yang ngerasain kejamnya dunia ini Stell. Semua orang juga pasti pernah ngerasain yang lo rasain. Jangan pernah berfikir dunia cuma kejam sama diri lo doang" Ucap Yudistira sambil memegang wajah Stella dengan kedua tangannya. Air mata Stella itu sudah membanjiri wajahnya.


"Gue mau lo janji ke gue, apapun masalahnya. Sesakit apa lo sama omongan orang, secapek apapun lo, lo harus tetep kuat. Ada gue, gue bakal selalu ada buat lo. Gue bakal jaga lo dengan baik, asalkan lo juga bantu gue dengan omongan gue barusan"


Mendengar itu, tatapan yang tadinya kosong. Kini, Yudistira melihat tatapan itu kembali hidup. Dia pun langsung memeluk tubuh Stella, sesekali pun dia mengecup kening Stella. Rami yang melihat itu pun merasa sedikit lega, Yudistira berhasil membuat Stella menjadi tenang dengan kata-katanya.


Kembalinya ke rumah, terlihat jelas raut wajah kedua orang tuanya penuh akan kekhawatiran. Ibunda Stella yang melihat anaknya kembali pun, langsung memeluknya sembari terus meminta maaf. Dengan kedua tangan yang amat sangat gemetar, sembari membelai rambut anaknya itu.


"Maafkan Ibu nak, mulai sekarang Ibu akan mengabaikan semua ucapan orang-orang di luar sana. Ibu akan izinkan kamu untuk kembali menjalin hubungan dengan Yudistira. Tapi, kamu tidak boleh melakukan hal seperti tadi lagi. Oke? Ibu benar-benar gak mau kehilangan kamu, Stell. Kamu sangat berharga untuk Ibu"


***