Bad Students

Bad Students
[65]



Pesta dimulai dengan sangat meriah, di kediaman Jinata yang megah. Padahal mereka berpesta tak sekampung, hanya berdua belas saja, ditambah dengan Mursih yang sedari tadi memata-matai mereka. Awalnya mereka tidak risih akan keberadaan Mursih. Namun, semakin kesini semakin membuat mereka agak sedikit risih akan keberadaannya. Sebab, kini Mursih memegang kamera dan mempotret kegiatan mereka semua.


"Mpok. Mending Mpok pulang aja sekarang, nanti pagi buta Mpok baru balik kesini"


"Emoh ah Den, saya masih harus disini sampai pesta Aden selesai. Saya juga kan harus panggil pak ustad, buat bersihin rumah ini"


"Di bayar berapa sih Mpok, sama si kanjen ratu?"


"Gak banyak si Den, cuma sekitaran 12 juta untuk malam ini. Lumayan buat nonton konser BTS bareng cucu"


"12 Juta?!" Mursih mengangguk, sambil tersenyum.


"Gila banget emak lo Nat. Ngebayar Mpok Mursih 12 juta, cuma buat mata-matain kita doang?"


"Yaudah, coba Jinata liat kameranya sebentar" Dengan patuhnya Mursih langsung memberi kamera itu ke Jinata.


Dengan santainya, Jinata langsung menghapus semua foto-foto mereka. Mulai dari Jinata yang berpelukan dengan Mutiara. Jimi yang bermesraan dengan Arumi. Yudistira yang berciuman dengan Stella pun tertangkap. Sampai-sampai kedua mata Jinata dan Yudistira membesar, saat mereka lihat dengan kedua matanya sendiri. Dimana, dikamera itu mereka lihat ada Rami sedang berpelukan dengan Suga.


Bukan berpelukan layaknya teman. Suasana yang mereka lihat amat sangat berbeda sekali. Seakan-akan ada suatu hubungan diantara mereka. Jinata juga Yudistira kini saling menatap satu sama lain, dengan perasaan aneh di wajahnya.


"Eyyy! Gak mungkin lah, yakali kan?"


"Kalo kenyataannya begitu gimana?" Ucapan Jinata, membuat Yudistira kini masih tak mempercayainya.


Baru saja berusaha untuk tidak mempercayai itu semua, tiba-tiba saja mereka melihat dari kejauhan terlihat jelas ada Rami dan Suga yang baru saja keluar dari dapur secara bersamaan. Seketika, langsung membuat fikiran itu menjadi membeludak. Kini, mereka percaya bahwa ada hubungan lebih di antara keduanya.


Karena, tidak mau membuat acara menjadi hancur. Mereka berdua memutuskan untuk tidak membuka suara, menceritakan ini ke teman-temannya. Termasuk Stella.


Di perhatikan dan makin Yudistira juga Jinata perhatikan. Gerak-gerik yang mereka saling berikan memang agak sedikit melenceng. Mereka melihat dengan kedua matanya sendiri, Rami dan Suga saling menggenggam tangan. Namun, mereka sembunyikan. Saling melayangkan senyuman satu sama lain. Juga saling berbisik hal yang entah apa yang mereka bicarakan. Namun, itu membuat Yudistira juga Jinata menjadi sedikit tidak nyaman.


"Lo liat tadi?" Tanya Jinata dengan wajah yang amat kebingungan tidak jelas.


"Jelas begitu, gak mungkin gue gak liat" Jawab Yudistira, sembari memainkan kening yang terus dia kerutkan dengan jari-jari tangan.


"Gimana gue jelasin ke Stella yah?" Sambung Yudistira.


"Jangan dulu dikasih tau! Otak lo dimana sih? Kalo si Stella syok, terus masuk RS gimana?"


"Syok ya syok, gak sampe masuk RS juga kali anjeng!"


"Aku dari tadi nyari kamu loh, perasaan berdua terus sama ni orang. Kamu selingkuh kan?"


"Astagfirullah, ayang gak boleh berfikiran begitu. Dosa. Masa aku selingkuhin kamu sama cowok"


"Bisa aja kan, lagi zamannya" Mendengar itu membuat Yudistira dan Jinata kini menjadi patung.


"Gu-gue balik ke dalem yah gais"


"Ngerasa yah?" Celetuk Stella, membuat langkah kaki Jinata terhenti.


"Gue masih normal Stell, banyak-banyak istigfar lo!"


"Kok ngamuk?!"


"Lo yang mancing duluan!"


"Kalo gak ngerasa, kenapa ngamuk?!"


"Astaga! Mending urus bae-bae pacar lo, Dis. Takutnya dia lesbian"


"Monyet!!!" Kesal Stella langsung menjambak rambut Jinata, tanpa ampun.


"Lepasin tangan kotor pacar lo ini dari rambut gue, Yudis!!" Tekan Jinata penuh kekesalan.


"Apa kata lo barusan?!" Sebelum Stella mengamuk, Yudistira berhasil memisahkan mereka lebih dulu. Kedua mata diantara Stella juga Jinata, kini terasa ada listrik yang terus menyambar satu sama lain. Pertikaian di awal mereka bertemu kini terluapkan kembali ke masa itu.


Jantung Yudistira masih berdetak kencang, akan pertikaian mereka. Namun, mereka malah asik tertawa mengikik satu sama lain. Dan membuat Yudistira menganga akan kelakuan dua bocah yang sedari tadi hanya mempermainkan dirinya.


"Selingkuh beneran, gue mah serius!" Celetuk Yudistira, sambil merangkul Mutiara yang baru saja hendak bergabung dengan mereka.


"Apa ni?" Ucap kebingungan Mutiara, yang di bawa pergi Yudistira ke dalam.


"Pa-parah banget, Yudis!!" Teriak cemburu Stella. Membuat Yudistira tertawa puas, dan disisi lain Mutiara yang melihat Yudistira menjadi ketakutan.


"Nil, Nila! Bantu gue, si Yudis kesurupan!!"