Bad Students

Bad Students
[56]



Keesokan harinya, hujan sudah membasahi permukaan dengan suara merdu tetes demi tetes hujan yang turun. Stella tengah duduk di bingkai jendela perpustakaan yang terbuka, sembari asik membaca buku yang belum selesai dia baca kemarin. Senyuman terus dia pancarkan di bibirnya, sembari mengurai rambut gelombangnya berwarna auburn terang dengan model half ponytail. Halaman demi halaman dia buka, sembari meminum teh hangat yang dia buat.


Baru saja merasakan ketenangan di dirinya, ponsel yang sedari tadi ada di sampingnya terus berdering. Di biarkan namun semakin mengencang, membuat konsentrasinya dalam membaca ancur bunyar. Stella mulai menghela nafasnya dengan sangat berat. Kedua matanya perlahan menatap layar ponsel itu, dan siapa lagi jika bukan Yudistira yang masih belum puas menghantuinya setiap hari.


Stella kini memasang wajah kesalnya, dan langsung menganggkat telfon itu dengan berat hati. Baru saja mengangkatnya, omelan demi omelan terus dilontarkan padanya. Entah apa yang Yudistira omeli, Stella hanya mendengar 'nga-nge-ngo' saja. Telinga nya terus menolak ocehan Yudistira. Tidak ada satupun kalimat yang dia resapi dan bisa dia cerna.


Selesai Yudistira mengomelinya, Stella langsung mematikan telfon itu tanpa menjawab. Dia langsung mematikan ponselnya juga, karena dia tau jika Yudistira akan tambah ngamuk padanya. Beberapa menit setelah ketenangan Stella kembali, terdengar suara yang samar-samar, entah itu dari mana. Stella terus menoleh sana sini, membuat suasananya menjadi sangat mencengkram baginya. Perlahan dia mendengar seseorang memanggilnya, namun kini dia mendengar suara familiar di telinganya. Benar, itu Yudistira yang sedari tadi berdiri mengomelinya dari bawah.


Kini, dia melihat jelas kepalan tangan dengan jari jempol yang menyayat leher. Mimik wajah yang terlihat kesal, seakan ingin melahap. Yudistira mulai masuk ke gedung sekolah, dan saat itu pun Stella berlari mencari tempat yang aman. Dimanapun, yang penting tidak ketahuan.


Tambah panik saat mendengar langkah kaki yang kini semakin jelas di telinganya. Namun, masih saja dia belum menemui tempat yang aman untuk bersembunyi. Dia terus berlari kesana-kemari melawati rak-rak buku besar yang berjejer rapih. Hingga, pada akhirnya persembunyian yang tak jelas itu pun ketahuan. Kini, Yudistira ada di hadapannya, sambil memasang wajah yang masam dengan tatapan yang tajam. Yang Stella bisa berikan sekarang hanya senyuman terpaksa saja, sambil menatap lesu kearah Yudistira.


"Sini lo!" Ucapnya sambil menarik tangan Stella, kembali ke tempat semula Stella tempati.


"Kok tau gue ada disini?" Tanya Stella, Yudistira melirik ke arah jam jati besar yang ada di perpustakaan.


"Tadi kenapa matiin telfonnya? Terus di hubungin lagi gak bisa! Kemarin juga kenapa lo terus bilang gue bocil?! gue itu lebih tua 1 tahun dari lo yah! Seenaknya panggil gue bocil!"


"Umur sih boleh tua, tapi kan kalo emang kelakuannya amat sangat bocil. Ya, mau bagaimana lagi? Lo berarti masih bocil!" Jawaban yang amat sangat tidak di inginkan Yudistira. Namun, sengaja Stella ucapkan.


Yudistira terus mencubit kedua pipi Stella, terus dia tarik kesana-kemari tanpa henti. Rasa sakit pun terus Stella rasakan, jari jemarinya kini ikut mencubit kedua pipi Yudistira, 2 kali lipat dari yang Yudistira berikan padanya. Lagi-lagi, Yudistira yang merengek kesakitan.


"Stell, lepas Stell!"


"Ya, lepasin dulu cubitan lo dari pipi gue!" Sambungnya. Yudistira pun perlahan melepaskannya.


Yudistira terus memegang kedua pipinya yang sakit, kedua pipinya sangat merah akibat cubitan Stella tadi. Stella yang melihat itu pun langsung mengusap-usap kedua pipi Yudistira dengan lembut. "Bocil!". Ekspresi yang Yudistira berikan, kini membuat Stella tak bisa menahan tawa lagi. Benar-benar menggemaskan sekali, bukannya terus mengusap pipi Yudistira, Stella malah mencubit kembali pipi itu.


"Sa-kitttt!!!" Kesal Yudistira.


"Abisnya gemesin~"


"Tapi, bisa kan gak panggil gue bocil terus?"


"Lagian, gue baru banget liat tingkah lo yang kayak bocil begini tau. Perasaan di depan Starla lo terus bersikap cool loh"


"Harusnya seneng dong, cuma ke lo aja gue bisa liatin kelakuan gemesin gue yang tersembunyi selama ini"


"Sebenarnya, seneng sih engga. Lebih jadi ke beban hidup gue sih, kalo lo terus bersikap kayak bocil begini" Mendengar itu, wajah Yudistira kembali masam. Dia juga mulai menghelakan nafas beratnya. Stella pun tersenyum, karena dia senang melihat Yudistira terpengaruh akan ucapannya. Stella langsung mengacak-acak rambut Yudistira yang setengah basah, sambil tersenyum. Senyuman Yudistira pun kembali terpancar di wajahnya.


Kini, hubungan mereka semakin dekat. Layaknya seperti sepasang kekasih nyata, namun nyatanya bukan. Mereka hanya sepasang insan yang menjalin kasih, namun tersembunyi. Perasaan tidak akan bisa di ubah, hanya karena seseorang yang kita sayangi sedang menjalin kasih dengan orang lain. Kebanyakan orang zaman sekarang begitu bukan? Mencintai orang yang sudah berstatus, walau mengetahui resikonya akan sangat menyakitkan.


Ada yang memilih untuk berhenti, sebelum dia mendapatkannya.  Ada juga yang seperti Stella, yang terus berjuang mendapatkan cintanya. Walau dari awal dia tau, jika semua itu salah. Tapi, apa salahnya jika terus mempertahankan rasa suka pada seseorang yang kita cinta? Dari pada terus merasakan rasa sakit itu, ditambah tak mendapatkan yang kita inginkan. Stella lebih memilih memperjuangkan cintanya pada Yudistira, walau sakit tak masalah baginya. Yang terpenting dia tetap merasakan kebahagiaan bersama seseorang yang di sayang, walau memang hanya menjadi yang kedua. Tapi, dia percaya dihati Yudistira, namanya tetap nomor satu.


***