
Perpustakaan sekolah, Stella berdiri sambil mencari buku pelajaran untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru pagi tadi. Seperti di drama-drama adegan mengambil buku di rak paling atas, pasti akan ada seorang laki-laki membantu untuk mengambilkannya dari arah belakang. Dan benar saja, seseorang membantunya. Siapa lagi jika bukan Giorgino.
Stella membalikkan tubuhnya, sehingga tubuh mereka saling berhadapan. Kedua mata saling menatap satu sama lain, mereka juga saling melayangkan senyuman manisnya. Perlahan Giorgino membungkukkan tubuhnya, sambil terus menatap kearah kekasihnya itu tanpa henti.
"Udah kayak di drama-drama aja"
"Terus kalo udah adegan gini, biasanya yang terjadi apa?" Tanya Giorgino, sambil tersenyum dengan mengangkat satu halisnya.
"Kecup aja, bukan cium oke?" Bisik Stella tepat di dekat telinga Giorgino.
Giorgino mengecup bibir Stella, bukan hanya 1 kali saja. Namun, berkali-kali. Membuat Stella terus tersenyum akan hal itu. Giorgino yang melihatnya pun ikut tersenyum, dan terus mengecup bibir Stella lagi dan lagi.
"Udah kali, ngebucin di bawa sampe perpus!" Celetuk Suga.
"Emang yah udah pacaran tuh beda banget. Gak bisa sama sekali ngertiin perasaan para kaum jomblo kayak kita!" Tambah Rami.
"Kalo mau dimengerti, ya belajar ngertiin orang yang berstatus pacaran kayak kita dong. Iya kan sayang?" Giorgino mengangguk dan mengecup kembali bibir Stella.
"Jadi kedoyanan tuh si Gino ke adek lo, Ram"
"Lo juga mau? Ayo, sama gue"
"Idih! Najis! Lo pikir gue gay!"
"Lebih menggoda cowok sama cowok loh, Ga!"
"Mending lo jauh-jauh dari gue, sampai lo ikutin gue terus. Gue tabok lo sampai mental ke monas!" Ucap Suga sampai terus menghindar dari kejaran Rami.
Melihat kelakuan kedua temannya itu, Stella dan Giorgino hanya bisa tertawa. Sudah terlalu sering melihat mereka ribut hanya karena hal yang tidak jelas. Setiap harinya Rami selalu membuat Suga menjadi kesal sendiri setiap Rami mendekatinya. Suga kesal, Rami pun senang.
"Sorry, bisa minggir bentar? Gue mau ambil buku yang ketutupan tubuh lo" Ucap tiba-tiba Yudistira kepada Stella.
"Oh, oke. Bentar" Jawabnya sambil beranjak dari duduknya di selah-selha rak buku, yang sedari tadi dia duduki.
Kini wajah Stella berubah saat Yudistira ada disana. Suasana menjadi canggung, dan hening seketika. Tatapan Stella terus melayang kesana kemari, tak menentu membuat Giorgino yang melihatnya perlahan mengibas rambutnya ke belakang, dan mengigit bibir bawahnya terus menerus. Dia cemburu.
Sudah beberapa menit yang lalu, saat Yudistira pergi. Dan mereka berdua masih di tempat yang sama. Namun, suasananya masih canggung. Giorgino terus menatap kearah Stella, dan perlahan memegang wajah kecil itu dengan ke dua tangannya. Lalu, mengecupnya kembali. Kecupan itu membuat suasana menjadi cair kembali. Dan tatapan Stella kini terus terarah pada Giorgino seorang.
Mereka yang asik bermesraan, sementara Yudistira yang sedari tadi masih disana, melihat mereka dari selah-selah buku. Kini memasang wajah yang masam. Dengan berat hati, Yudistira melangkah pergi dari sana. Dia belum sepenuhnya melupakan Stella. Tanpa Yudistira sadari, Stella merasakan keberadaannya dari tadi.
Masih di perpustakaan, kini Giorgino sudah pergi dari sana. Jadwal dia latihan Taekwondo. Stella duduk di kursi pojok dekat jendela. Menatap suasana sekolah yang sangat indah jika dipandang dari sudut perpustakaan. Sambil membaca buku novel 'Bad Students' yang sedari tadi dia pegang.
Buku yang sedari tadi Stella pegang, diambil alih dan melayang menghantam kepalanya dengan sangat keras. Kini, kedua matanya menatap tajam kearah seseorang yang baru saja mencari masalah terhadapnya. Namun, kedua mata Stella menbesar saat seseorang yang dia lihat ternyata adalah Starla. Terlihat sangat jelas, wajahnya sangat marah sekali.
"Maksud lo apa?"
"Harusnya gue yang nanya, lo buat Yudistira kenapa? Sampai dia perlakukan gue, seakan-akan gue bukan pacarnya!"
"Pacar lo Yudis! Kenapa lo nanya ke gue?! Tanya lah langsung ke tuh anak! Hubungannya sama gue apaan?!"
"Lo goda Yudis kan?!"
"Gue udah kesel lo hantam gue pake buku tadi, jangan buat gue tambah kesel dengan tuduhan lo sekarang!"
"Yang gatel ke cowok lo siapa?!" Kesal Stella memuncak.
"LO!"
"Gue sama sekali gak goda pacar lo! Gak guna banget gue goda mantan sendiri!"
"Lo jablay jadi gak mungkin ngaku!"
"Apa lo bilang?!!" Kesal Stella, menghantamkan buku itu ke Starla.
"Stella!!"
"Kenapa? Sakit? Ngerengek sana sama pacar lo itu! Aduin kalo gue nyiksa lo! Sebelum lo berhadapan dengan gue, alangkah baiknya lo siapkan mental lo dulu, baru bertindak! Kan kalo udah begini, malu sendiri jadinya" Mendengar itu, Starla makin kesal dan menjabak rambut Stella dengan sangat kuat.
Sudah berkali-kali penjaga perpustakaan melerai, masih saja mereka tak memedulikan. Perkelahian Stella dan Starla kini sampai ke telinga Giorgino juga Yudistira. Mereka langsung berlari secepat mungkin, untuk meleraikan perkelahian mereka. Hingga, mereka sampai disana. Mereka sudah melihat masing-masing kekasihnya itu, wajahnya sudah penuh akan goresan, rambut pun sudah acak kadut tak karuan.
"Starla! Lepas!"
"Aku harus kasih pelajaran dulu ke ni anak!"
"Stell, lepas ya"
"Gak bisa, dia udah panggil aku jablay. Gak waras kalo aku lepas jambakannya sekarang"
"Jangan tampangin muka lo lagi ke gue, kalo lo gak lepas sekarang juga!" Amarah Yudistira pada Starla. Perlahan jambakan itu terhenti. Starla terus menatap Yudistira, yang masih kesal terhadap dirinya.
"Lo beneran tadi bilang ke Stella itu?"
"Engga, sayang. Masa aku bilang begitu sih ke dia. Padahal dia sendiri yang bilang aku jablay tadi!"
"Eh! Lo jangan suka membalikan fakta!"
"Starla. Gue tanya serius, dan lo jawab dengan jujur. Gue gak suka kalo lo bohong ke gue"
"Beneran, dia sendiri yang bilang kayak gitu ke aku!"
"Stell, mulai sekarang belajar jaga mulut lo itu yah"
"Maksud lo apa, Dis?! Lo tau kan Stella gak akan ngomong hal kayak begituan!"
"Lo pacarnya, jadi lo bela pacar lo itu. Sama hal nya gue, No. Gue juga percaya sepenuhnya ke pacar gue. Jadi, tolong bantu gue, buat pacar lo jauh-jauh dari pacar gue. Biar nantinya gak akan ada keributan kayak begini lagi"
"Dis! Segitunya lo ke gue sekarang? Lo tau kan kalo gue gak akan bilang kayak begituan?!"
"Stell, gak selamanya gue percaya ke lo. Semua orang bisa berubah, begitupun gue dan juga lo" Tekan Yudistira, membuat hati Stella benar-benar sudah hancur berkeping-keping akan ucapan Yudistira barusan.
Yudistira menggenggam tangan Starla dan pergi dari tempat itu. Stella hanya bisa menatapnya, dengan rasa sakit yang mendalam. Tanpa Stella sadar, air matanya sudah menetes ke pipi.
Giorgino yang melihat itu, semakin tersadar akan reaksi Stella. Dia menenangkan kekasihnya itu, dan perlahan berbicara sesuatu hal serius.
"Kalo masih sayang sama Yudis, bilang yah ke gue. Gue gak mau, saat rasa gue mulai tumbuh lagi ke lo. Lo malah yang nyakitin gue. Gue tau lo sebenarnya masih sayang ke Yudis. Jangan terus-terusan bohongin perasaan lo yah, Stell. Udah liat lo bahagia aja, udah cukup kok buat gue"