
"Tubuh aku bener-bener gak nyaman banget sekarang, aku bakal aborsi anak ini"
"Dengerin aku. Kamu juga aku kan udah sepakat untuk melakukan itu, kita sama-sama mau melakukannya. Kenapa sekarang kamu terus mau aborsi sih? Yang terpenting sekarang itu, aku gak melepas tanggung jawab aku. Aku ayah dari anak kita, juga kamu ibu dari anak yang sekarang kamu kandung. Jadi, aku mohon jangan ngelakuin hal yang menyiksa anak kita"
"Kamu gampang ngomong, tapi kamu gak tau apa yang aku rasain sekarang! Tolong, kali ini aja kamu ngertiin kondisi aku!"
"Kamu mau aborsi anak pertama kita ini, terus kamu bakal aborsi lagi saat kamu punya anak lagi? Hanya karena ngerasa gak nyaman?"
"Kamu emang gak bisa ngertiin aku sama sekali! Aku ngomong sampe berbusa pun, kamu gak akan ngerti! Sekarang, aku bakal hidup sesuka aku. Mending kita akhiri aja hubungan kita, sekarang juga"
"Gak bisa gitu, Rumi! Jangan kekanakan begini dong. Kamu aborsi anak kita, sama aja kamu bunuh anak itu! Jadi, aku mohon. Aku mohon banget, untuk kamu bawa santai aja kandungan kamu sekarang. Anggap aja gak terjadi apa-apa, kalo kamu terus banyak fikiran kaya gini, yang ada nanti kondisi kamu tambah buruk. Kamu mau kan jaga anak ini? Kalo kamu memang sayang sama aku, kamu rawat anak ini dengan baik, aku juga akan rawat kamu dan bayi kita dengan baik. Aku mohon~"
Mendengar itu, Arumi mengangguk dengan helaan nafas berat, raut wajah yang amat lesu. Jimi yang melhatnya pun memeluk kekasihnya itu, sambil terus membelai kepalanya dengan lembut. Mereka memutuskan untuk tetap merawat anak itu, walau memang resikonya berat, dan cobaan akan terus menghampiri mereka. Tapi, tetap saja itu tak berpengaruh untuk Jimi, Jimi akan terus meyakinkan kekasihnya itu, dan akan terus menjaga sang kekasih juga bayi yang ada di kandungan Arumi.
***
"Hai~" Goda Rega, Hiro, juga Kiko kepada Arumi. Namun, sama sekali Arumi tak menjawabnya. Menoleh pun tidak.
"Sombong banget jadi cewek"
"Biasalah, namanya juga cewek. Sok jual mahal"
"Bawa!" Ucap Rega. Seketika, kedua temannya itu membawa Arumi ke gudang belakang, yang sudah terbengkalai.
Perlahan kancing seragamnya itu terbuka, dengan kedua tangan Rega yang santai membukanya. Arumi terus menangis dan ketakutan. Tubuh Rega sudah menaiki tubuh Arumi, sambil tersenyum membuka celananya, dan hanya memakai CD. Sementara, Kiko dan Hiro berjaga di luar gudang. Memastikan semuanya berjalan lancar, tanpa gangguan apapun.
"Jim, gue tadi liat Arumi di bawa sama geng Rega ke gudang belakang" Ucap salah satu murid memberitahunya dengan tergesa-gesa.
Sontak, Jimi yang melihat itu. Langsung mendorong tubuh Rega jauh-jauh dari tubuh Arumi, yang sedari tadi hendak akan melakukan hal gila kepada Arumi. Jimi langsung membenarkan pakaian Arumi, dan memeluk kekasihnya itu yang sedari tadi menangis. Nafasnya yang terengah-engah, dada yang amat sesak, air mata yang terus membanjiri wajahnya. Semua itu membuat Jimi merasa bersalah.
Stella dan yang lainnya tiba disana, melihat sekeliling. Masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Rega benar-benar sudah gila. Dia benar-benar sudah kehilangan akal. Dia benar-benar sudah ada niat untuk memperkosa Arumi.
Yudistira yang tak menerima itu semua, dia langsung menghajar Rega tanpa ampun. Semua amarah Jimi di layangkan terus oleh Yudistira. Giorgino langsung melepas jaket yang sedari tadi dia pakai, dan memakaikannya ke tubuh Arumi.
"Mending lo bawa cewek lo sekarang, biar gue sama yang lain urus ni anak tiga" Tegas Giorgino.
Dan benar saja, Giorgino, Vixa, Rami, Jinata, dan Jije langsung menghajar habis-habisan ketiga anak itu. Dan Stella, Mutiara, juga Renilla mengikuti Jimi dan Arumi. Benar-benar riwayat Rega dan kedua temannya itu sudah diambang kematian. Namun, mereka tak mau hanya itu saja hukuman yang Rega, Kiko dan Hiro dapatkan. Mereka langsung membawa Rega, Kiko, dan Hiro ke ruang kepsek.
Semua sudah Jinata ceritakan kepada Ibunya itu. Dan Bu Popi yang mendengarnya pun amat sangat tak percaya dengan apa yang mereka lakukan. "Orang tua kalian akan segera datang ke sekolah ini" Ucapan Bu Popi membuat mereka bertiga langsung gemetar.
"Bu, maafin saya. Saya seriusan gak bisa mengendalikan nafsu saya. Saya mohon batalkan agar orang tua kita tidak datang ke sekolah ini"
"Ini sudah keputusan saya sebagai kepala sekolah di sini"
Beberapa jam kemudian, mereka sudah mununggu. Akhirnya ketiga orang tua mereka sampai, dengan perasaan khawatir, juga malu akan kelakuan anak nya itu. Terus menatap tajam ke anak-anaknya dengan sangat menakutkan.
"Semuanya sudah saya ceritakan kepada Ibu, perbuatan anak-anak Ibu sudah amat sangat fatal. Sudah saat nya saya melepaskan tanggung jawab anak-anak Ibu, kembali lagi kepada Ibu. Mulai saat ini, saya nyatakan Rega, Kiko, dan Hiro keluar dari sekolah ini"
Seisi sekolah dibuat heboh akan perbuatan Rega juga kedua temannya itu, semua murid terus melempar sesuatu ke arah Rega, Kiko, dan Hiro yang pergi dari sekolah itu. Semua murid meluapkan kekesalannya, sebab mereka bertiga sudah membully mereka terus-menerus.
Kini mereka menanggung malu yang amat membekas, sudah tidak ada lagi sekolah yang mau menerima mereka. Perbuatan mereka mungkin akan terulang kembali, jika ada kesempatan. Orang tua mereka terus memarahi mereka tanpa henti. Rasa nya amat sangat mencekik diri sendiri, orang tua mereka sudah amat lelah dengan perbuatan anaknya itu. Dan, memutuskan untuk membiarkan mereka merenungkan kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat di jeruji besi.