Bad Students

Bad Students
[41]



Giorgino memutuskan untuk mengikuti Pak Yuta. Dia terus mengikutinya, hingga dia sampai di tempat yang baru saja dia lihat. Dimana ada tempat lain di sekolah itu yang tertutupi tembok. Tanpa ragu, Giorgino mendorong tembok itu dan dia melihat tempat yang benar-benar asing untuknya. Berjalan melewati lorong gelap, hingga langkahnya terhenti saat mendengar tangisan seorang wanita.


"Ba-baik saya akan gugurkan bayi ini, tapi tolong lepaskan saya sekarang. Saya mohon, pak"


"Mengapa sekarang mata kamu menjadi indah? Mengapa berbeda dengan tatapan yang kamu berikan pada saya saat pertama bertemu?" Nafas siswi itu mulai terengah-engah ketakutan, tatapan Pak Yuta kini amat menyeramkan.


"Jika kamu dari awal tidak meminta saya untuk bertanggung jawab, tidak mungkin saya melakukan ini. Jika kamu tetap bungkam, mungkin hidup kamu akan aman-aman saja, tidak seperti sekarang" Sambungnya.


"Saya janji akan merahasiakan ini semua, pak"


"Baiklah, saya akan buat kamu tetap diam" Ucap Pak Yuta, lalu melipat kedua lengannya di leher siswi itu. Giorgino yang sadar, Pak Yuta akan melakukan apa ke siswi itu. Dia langsung menghentikannya, mendorong Pak Yuta hingga terpental ke tembok. Jika dia tidak menghentikannya, mungkin saja siswi itu sudah mati.


Giorgino langsung melepas semua tali itu, dan membiarkan siswi itu pergi. Pak Yuta yang hendak mengejarnya, terhentikan oleh Giorgino yang menahannya. Perkelahian mereka kini amat serius, Pak Yuta dengan santainya mengeluarkan pisau lipat, dan mengarahkannya pada Giorgino. Sempat panik, namun Giorgino tetap tenang. Dia mempercayai dirinya sendiri dan mulai melawan dengan bela diri yang dia punya sejak kecil.


Kaki Giorgino terbesat pisau itu, membuat Pak Yuta semakin puas akan Giorgino yang mulai lemah. Wajah Giorgino kini perlahan mulai memucat. Ada yang salah dengan luka dari pisau itu. Tubuh dia mulai merasa tak nyaman. Pak Yuta sedari tadi hanya tersenyum, sambil tertawa puas.


"Pagi tadi, baru saja saya teteskan beberapa racun di pisau ini. Ternyata cepat juga reaksinya" Mendengar itu Giorgino amat sangat kesal sekali.


"Ini akibatnya jika kamu ikut campur-" Ucapannya terhenti, setelah mendengar langkah kaki yang mulai mendekat. Kini tempat itu terkepung oleh Yudistira, Jimi, Rami, Vixa, Jinata, Jije, dan Suga. Dengan cepatnya pukulan Yudistira hinggap di wajah Pak Yuta. Hingga, membuatnya pingsan begitu saja. Mereka semua masih terngaga, masih tak percaya hanya dengan satu pukulan Yudistira, bisa membuat Pak Yuta pingsan.


"Gak usah aneh, julukan gue di sekolah si pemukul tepat. Kalo pukulan gue gak ke titik yang tepat, gak akan buat tuh guru langsung pingsan"


"Ngebacot mulu lo ANJ! Temen lo kena racun juga, mau tunggu gue mati dulu, baru lo pada tolongin gue?! Buruan, BNGST!" Kesal Giorgino dengan lemas.


Pak Yuta kini di amankan oleh pihak kepolisian, Giorgino di bawa oleh Ambulan dan dirawat di rumah sakit. Dan siswi itu diamankan oleh Bu Popi, dengan terus di guliri pertanyaan-pertanyaan menyuduti dirinya. Siswi itu menceritakan semuanya kepada Bu Popi, dengan tangisan yang membanjiri wajahnya. Namun, juga kasihan kepada Pak Yuta, mau bagaimana pun dia adalah Ayah dari bayi yang ada di kandungannya.


Keadaan sekolah kini sangat kacau, polisi juga terus menggulirkan pertanyaan-pertanyaan pada Yudistira juga keenak teman lainnya. Sudah dibuat gugur dengan keberadaan polisi, tambah gugur dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan.


"Gue takut banget tuh anak pada salah ngomong"


"Si Yudis pasti gugup banget, mana pernah coba-coba jual narkoboy lagi"


"Mana kita juga pernah nyuri soal ujian lagi" Seketika, mereka menjadi tambah ketakutan, dengan wajah amat penuh kegelisahan.


"Kalo kaya begitu, yang ada bukan cuma Pak Yuta aja yang di tahan. Kita juga bakal di tahan dong?"


"Jaga mulut lo! Mending kita cabut sekarang, dari pada tuh polisi nanya-nanya kita. Mana dari tadi natap gue mulu. Cabut-cabut cepetan!"


"Permisi! Saya perhatiin dari tadi kenapa natap cewek saya mulu yah?"


"Yudis! Bisa-bisanya lo cemburu sama polisi"


"Emang nya kenapa, terserah gue lah!"


"Ah, itu Stella kan? Siswi yang di keluarkan dari SMA Nusa dan Bangsa. Saya dengar dia sudah dinyatakan tidak bersalah, tapi kenapa dia masih sekolah disini?"


"Karena, ada saya disini"


"Jadi orang kok pede banget sih, Dis T _ T" Muak keenam temannya itu dengan kelakuan Yudis, yang ke kanak-kanakan.


"Oh ya, ada satu pertanyaan lagi. Apa kalian tau tentang bocoran soal ujian 2 bulan lalu?" Seketika, mereka langsung panas dingin.


"Bocoran?"


"Walaupun kita dapet bocoran pun, bakal bertentangan sama otak kita yang bodoh"


"Oh ya, benar juga. Baiklah, terima kasih. Silahkan kalian kembali ke kelas" Mereka membalikan tubuh, dan menghela nafas lega bersamaan, saling menatap sambil tersenyum puas.