
"Perkenalkan saya guru baru di sekolah ini, nama saya Yuta" Sontak, semua siswi tak henti-hentinya melihat nya. Sebab, guru itu amat sangat tampan sekali, juga umurnya mungkin masih muda.
"Ada satu murid yang selalu absen saat pelajaran olahraga, namanya Arumi. Dimana dia sekarang?"
"UKS pak"
"Bawa dia kemari, saya butuh alasan yang jelas mengapa dia selalu absen hanya di kelas olahraga saja"
"Dia gak boleh kecapean pak!" Ucap Jimi.
"Gak boleh kecapean atau emang males olahraga?" Perkataan Pak Yuta, sedikit mengganggu Jimi.
"Bawa dia sekarang!!" Teriaknya. Membuat semua murid terdiam, karena tak menyangka jika guru itu amat killer.
Hanya di pelajaran itu yang bisa buat Arumi selalu was-was akan kandungannya. Sudah berbagai alasan Arumi lakukan untuk absen dari pelajaran itu. Namun, dia tidak mau jika akan menimbulkan kecurigaan bagi teman-temannya. Jadi, kali ini dia memutuskan untuk tidak absen lagi dari pelajaran itu. Jimi yang sudah sedari tadi melarangnya, namun tetap saja Arumi tak mendengarkan sama sekali perkataan Jimi.
"Kamu gak usah ikut kelas olahraga, aku nanti bisa buat alasan lain"
"Udahlah, Jim. Sesekali gak akan kenapa-kenapa kok. Lagi pula itu guru baru juga kan, aku harus kasih hormat ke guru itu"
Tak lama, Arumi dan Jimi sampai di lapangan. Semua murid juga Pak Yuta sudah menunggu dari tadi. Namun, mimik wajah Pak Yuta sedikit kesal. "Saya cuma suruh kamu bawa Arumi ke sini, tapi kamu habisin waktu belajar saya sampai 15 menit! Kamu sengaja buang-buang waktu kelas saya?!" Jimi mulai kesal mendengarnya.
"Bapak kira lapangan ke UKS cuma 1 menit? Saya lebih tau, dari pada Bapak yang baru ke sini!"
"Kamu berani lawan saya?!"
"Jim! Jim! Udah-udah" Arumi menenangkan Jimi yang sudah amat kesal.
"Masuk barisan sekarang juga!" Sentak Pak Yuta.
"Baik! Kali ini kalian lari lapangan sebanyak 30 kali" Mendengar itu membuat semua fokus siswi terhenti. Bagaimana tidak, 30 kali keliling lapangan itu sangat amat banyak sekali.
"30 kali keliling lapangan yang cuma sepetak sih gue sanggup, lah ini lapangan segede lapangan bola, mana sanggup gue"
"Lo yang lakik aja kagak sanggup, apalagi gue yang women"
"Gue yang ngebayangin nya aja udah stres duluan, jangan sampe terjadi deh!"
"Pak! Untuk siswi masa 30 kali putaran juga!" Ucap Jimi.
"Saya lihat anak ceweknya dibawa happy aja, kenapa kamu harus mempermasalahkan?"
"Bukan happy, itu tertekan namanya!" Jelas Jimi. Membuat semua anak menatapnya.
"Jim, ngomong sangar banget sih loh ke guru sendiri!"
"Gimana kalo anak cewek 10 putaran aja?" Perkataan Vixa diabaikan olehnya.
"Saya bilang 30 ya 30! Lakukan sekarang!"
"Kalo gitu kenapa gak sekalian aja bapak ikut lari juga?"
"Kamu nantang saya?"
"Kita lakuin berdua dulu, 30 kali putaran. Kita liat, kalo bapak memang sanggup saya dan teman yang lain akan lakuin yang bapak suruh. Tapi, kalo bapak gak sanggup. Lari saya ini, dianggap sebagai nilai lari mereka juga. Gimana?" Mendengar itu, Pak Yuta sangat sedang diremehkan oleh siswanya sendiri, lalu dia menyetujui itu semua.
"Jim, lapangan luas banget loh. Udah lah biarin aja kita lari" Ucap panik Jije. Namun, diabaikan lagi oleh Jimi.
Jimi perlahan berjalan mendekati Arumi, dan membelai rambutnya dengan lembut. "Bukan kita yang Jimi tolong, tapi lebih ke Arumi" Jelas Stella.
Jimi juga Pak Yuta mulai berlari, dan baru 1 putaran pun itu sudah membuat mereka kelelahan. Namun, mereka sama-sama keras kepala dan terus melanjutkannya. Semua murid yang ada di lapangan terus fokus melihat kedua orang itu yang sedang berjuang, mengelilingi lapangan selama 30 kali putaran.
Baru setengahnya Pak Yuta sudah ambruk, namun disisi lain Jimi terus melanjutkan berlarinya. Arumi yang melihat itu, amat sangat khawatir akan Jimi, yang sudah terlihat amat sangat kelelehan. Bagaimana jika Jimi pingsan tiba-tiba.
"Jim! Berhenti Jim!" Teriak Yudis dan kawan-kawan. Namun, tetap saja dia terus melakukannya. Hingga, akhirnya Jimi berhasil, mengelilingi lapangan selama 30 kali putaran. Semua teman kelasnya bersorak takjub akan Jimi, dia mengorbakan dirinya untuk semua orang. Namun, yang pasti pengorbanannya adalah hanya untuk Arumi.
Dia langsung tergeletak di lapangan, dia tersenyum, dan perlahan beranjak mendekati Pak Yuta. Dan, berkata "Saya menang. Berarti kelas hari ini selesai bukan?" Mendengar itu, Pak Yuta agak sedikit kesal dengan nada bicara tengil Jimi kepadanya.
"Oh, ya. Saya mau kasih kata-kata menarik dari guru olahraga saya saat SMP untuk bapak 'Pelatih yang baik akan menghasilkan Atlet yang baik' Kalo bapak sendiri aja begini, ya jangan salah kan murid kalo mereka juga melakukan hal yang sama seperti bapak ini" Puasnya dengan memberi tatapan senang dan pergi dari lapangan bersama Arumi.