Bad Students

Bad Students
[60] Perpisahan



***


Kelulusan tinggal menghitung hari. Seluruh murid bersiap untuk melaksanakan upacara terakhir bagi kelas dua belas. Mereka pun diberi kesempatan untuk menjadi petugas upacara. Hari senin yang amat spesial bagi mereka semua. Tidak terasa semua yang mereka lalui selama ini, kini tinggal kenangan.


Awal yang memang amat sangat tidak mereka harapkan. Pertemuan yang tak diinginkan sama sekali. Masalah demi masalah mereka lalui. Dan kini, mereka menyatu akan angin yang mendorong mereka untuk bersama. Semua kenangan akan mereka ingat. Semuanya. Ya, semuanya.


Titik akhir yang kini membuat bendungan air mata mengalir. Semua guru sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, yang kini terus mengalir membanjiri kedua pipi mereka. Beberapa murid kelas dua belas yang sedari tadi berbaris di belakang, kini mengangkat spanduk dengan bertuliskan "Mohon maaf jika perilaku kami selama ini seperti tidak menghargaimu. Maafkan kami. Kalian guru yang hebat! Mampu mengantarkan semua muridnya lebih berhasil dari pada dirinya sendiri. Terimakasih."


Suasana kini menjadi pecah. Satu persatu murid kelas dua belas maju ke depan membentuk barisan, memberi hormat untuk yang terakhir kalinya. Tak sedikitpun murid meneteskan air matanya, karena hal mengharukan itu. Semua guru tidak mengira mereka akan melakukan itu, sama sekali tidak ada yang mengira.


Setelah pemberian hormat, satu persatu murid dengan tertib menghampiri guru-guru dan memberi salam. Tak sedikitpun yang memeluknya, mengeratkan pelukan sebab merasakan akan kehilangan. Tangisan semakin pecah, membuat semua adik kelasnya yang sedari tadi melihatnya di kelas-kelas ikut terharu bersama-sama.


"Lo kenapa nangis anjir! Lo kan lakik" Lagi-lagi Vixa menghancurkan suasana hati Rami.


"Siapa juga yang nangis anjir! Gue cuma kelilipan!"


"Kalo nangis ya bilang aja kali, gak usah denial. Tuh liat si Suga sama si Jije, dramatis banget mewek sambil meluk-meluk kakaknya si Jimi. Kesempatan itu mah namanya" Celetuk Jinata. Membuat Jimi yang mendengarnya langsung menyeret jauh-jauh kedua temannya itu, dari tubuh kakaknya.


Setelah selesai, tiba-tiba semua petugas upacara yang sedari tadi masih berdiri menarik sesuatu ditangannya, dan seketika semua murid dilapangan di kelilingi asap dari smoke bomb. Semua murid kelas dua belas membentuk lingkaran, sembari saling merangkul satu sama lain.


Dengan alunan nyanyi bersama-sama 'Sampai Jumpa' dari Endank Soekamti.


'Datang akan pergi


Lewat kan berlalu


Ada kan tiada


Bertemu akan berpisah


Terbit kan tenggelam


Pasang akan surut


Bertemu akan berpisah


Hei~


Sampai jumpa di lain hari


Untuk kita bertemu lagi


Ku relakan dirimu pergi


Meskipun ku tak siap untuk merindu


Ku tak siap tanpa dirimu


Ku harap terbaik untukmu'


Membuat suasana saat itu tambah membuat rasa tak mau kehilangan, semakin mencekik diri mereka. Tak tau lagi harus bagaimana, tangis kini semakin menderas, membasahi wajah mereka yang sedari tertampung. Tak sedikit pun merekam semua kejadian itu, untuk dijadikan kenangan.


Pertemuan yang tak di harapkan, kini amat susah untuk mereka lepaskan. Semua berjalan begitu cepat, hari demi hari mereka lalui, hingga tak mereka sadari semua itu akan menjadi tinggal kenangan. Waktu dimana mereka memang benar-benar sudah harus berpisah. Sangat sulit memang, namun mau tidak mau mereka harus menerima itu semua. Karena, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Dan membuat semua itu menjadi kenangan yang angan-angan.


***