Bad Students

Bad Students
[21]



"Murid saya ini, benar-benar amat sangat berbakat sekali yah. Terjun dari jendela kamar, memanipulasi semua video cctv, membuka pintu tanpa kunci, membobol brangkas juga lagi. Hebat kalian semua"


"Bu, bisa langsung marahin kita aja gak? Kalo baik begini, saya tambah takut" Celetuk Vixa.


"Mulut lo!" Ucap Suga sambil memukul kepala Vixa.


"Oke! Pengumuman tadi siang di mading, saya tak berlakukan untuk kalian semua"


"Gak bisa gitu dong bu! Masa gak berlaku bagi kita! Lagian kita sanggup kok"


"Jika memang sanggup, dari awal kalian tidak akan merencanakan ini semua"


"Kasih kita kesempatan" Memohon dengan wajah penuh kesuraman.


"Baiklah saya akan memberi kesempatan pada kalian, jika kalian berhasil mendapat nilai dengan rata-rata 90. Saya akan memberlakukan untuk kalian semua"


"90? Kalo itu terlalu besar bu, untuk otak kita yang bodoh"


"Mulut lo bisa diem bentar gak, Vix?!"


"Oke, kita bakal buktiin"


Keluar dari ruangan itu, kini mereka dilanda kebingungan. Sekarang yang jadi fikiran mereka adalah nilai yang harus mereka dapati. Yang memang pada kenyataannya, tak semudah itu.


"Gimana sekarang?"


"Lanjutin rencana lah! Masa mau berhenti di tengah jalan" Ucap Yudistira, sambil memperlihatkan sesuatu di tangannya. Yang ternyata itu soal ujian, yang baru saja dia ambil dari tumpukkan kertas yang tergeletak di meja bu Popi.


"Yudis! Udah gila lo?!"


"Gila demi nilai, it's okay wae kan?"


"Gilaa! Ter the best banget emang lo, Dis! Hhaha~"


Malam itu pun mereka langsung melanjutkan misi mereka, dan membagi tiap soal. Mencari jawaban dan mengingat jawaban. Karena, besok adalah hari dimana mereka akan bertarung.


"Emmm. Minimal kita harus dapat 36 poin buat dapet 90. Terserah lo pada mau isi ngasal atau engga pas bagian essai, yang pasti lo pada jangan sampe dapet poin di bawah 36. Oke?!"


"OKE!"


"Besok kita tempur, jangan sampe lo pada lupa sama soal dan jawaban yang udah kita bagiin tadi. Jangan sampe juga salah satu di antara kita, jadi rakus akan nilai! Sampe beneran terjadi, gue bakal abisin tanpa mandang gender!"


Esoknya, mereka sudah duduk di bangku yang sudah di tentukan oleh pihak sekolah. Duduk nya tak menentu, sesuai absen. Ada yang paling depan, pertengahan, juga paling belakang.


Walau begitu, mereka tak menyerah. Saat ulangan di bagikan, senyuman tampak di wajah. Dan mereka memulai aksinya kembali.


"Ingat! Karena pilihan ganda nya sampe huruf e. Jadi kita gunakan kelima jari kita. Satu jari, untuk jawaban A. Dua jari untuk B. Tiga jari untuk C. Empat jari untuk D. Dan lima jari untuk E"


Dimulai dari Arumi, dia memulai memainkan tangannya. Menganggat tangannya perlahan ke belakang kepalanya. Dengan memberi kode Empat jari, yang berarti jawaban nomor 1 adalah D.


Mereka terus melakukan itu, hingga dimana saat soal akan selesai. Lagi-lagi Vixa membuat guru penjaga itu mulai geram dengan kelakuannya. Sebab, dia mengeluarkan jari tengahnya terus, yang berarti jika hanya 1 jari saja yang dia berikan. Berarti, soal itu jawabannya A. Namun, dengan caranya itu membuat delapan anak yang lain menjadi penuh kegelisahan.


"VIxa! Sedang apa kamu?!"


"Eeeeee-" Perlahan guru itu beranjak dari kursinya. Membuat yang lain menjadi tambah gelisah dan ketakutan.


"Kamu ngajak ribut saya?"


"Mana ada murid ngajak ribut gurunya sendiri pak. Bapak suka ada-ada aja~" Masih belum menyadarinya.


"Lalu, kenapa jari tengah kamu itu terus mengarah pada saya?"


"Eh~"


"Maaf pak saya hilaf, jari saya suka nackal. Hhehe~"


Bapak guru itu duduk kembali, dan tak memperpanjang masalah itu. Hingga akhirnya, mereka berhasil mengerjakan soal itu dengan penuh kelegaan. Dan memancarkan mimik wajah yang berseri. Karena, sudah pasti mereka mendapatkan nilai yang memuaskan nantinya.