Bad Students

Bad Students
[26]



Hari begitu cepat berlalu, Malam yang begitu indah degan tebaran bintang dilangit-lagit. Renilla hendak akan duduk di dekat kolam. Namun, perlahan tatapan dirinya terpaku akan Vixa disana, juga Mutiara. Langkah kakinya terhenti, dan Vixa menyadari itu. "Renilla!" Perlahan Renilla menatap kearah Vixa sambil tersenyum. "Gue balik dulu ke kamar yah, ngantuk nih" Ucapnya sambil menguap pura-pura. Padahal dia baru sampai, mungkin itu cara dia agar rasa sakit nya tidak terus menghantui dirinya.


"Kok balik lagi?" Renilla hanya tersenyum berat.


"Mereka lagi?" Renilla hanya mengangguk, dan tidur.


Mungkin rasa sakitnya, tak sepenuhnya terasa oleh Stella. Namun, dia pun merasakan rasa sakit yang Renilla rasakan sekarang. Tiba-tiba Vixa sudah berdiri di depan pintu kamar mereka. Stella yang melihat itu pun perlahan mengerti dan keluar dari kamar. Memberi mereka waktu untuk berdua, mungkin juga itu kesempatan bagi Renilla untuk memutar keadaan.


"Mau sampe kapan kayak gini?" Sontak, Renilla yang mendengar suara VIxa. Langsung terbangun dari tiudrnya.


"Hmmm~"


"Mau sampe kapan buat perjuangan lo deket sama gue, jadi sia-sia?"


"Lo gak usah memperpanjang ungkapan rasa gue ke lo tadi pagi. Lo juga punya rasa sayang ke orang yang lo suka, dan gue juga gak bisa merubah rasa sayang lo"


"Mau sampe kapan lo kayak gini?"


"Mungkin, sampe gue capek sendiri" Ucapnya sambil tersenyum pasrah.


"Kenapa lo kira gue suka sama Mutiara, kenapa bukan ke lo?"


"Karena, memang kalian serasi dari sisi mana pun. Semua orang juga ngerasa yang sama"


"Cuma dianggap serasi, tapi belum menyangkut paut akan cinta juga kan?"


"Itu antara gue sama Mutiara. Gue dianggap serasi sama Mutiara, tapi belum tentukan gue suka sama dia" Perkataan Renilla kini jadi boomerang bagi dirinya sendiri.


"Orang yang gue suka itu lo. Orang yang selalu menyembunyikan kecantikannya itu lo. Lo orang yang gue suka, bukan Mutiara"


Stella dan Yudistira yang mendengarkan dari awal itu, ikut senang. Akhirnya, selama ini rasa suka Renilla tidak sia-sia. Mereka saling mencintai, walau memang sejak awal Renilla selalu menyembunyikan rasa sukanya, dan lebih memilih untuk menahan rasa sakit hati dan cemburu.


Percikan cinta Renilla dengan Vixa, membuat Stella dan Yudistira juga merasakannya. Mereka kini saling mencintai, tanpa harus saling menyakiti. Tanpa mereka sadari Mutiara pasti akan terluka jika mengetahui kebenarannya.


Keesokan harinya, mereka mulai ke tujuan keduanya. Pergi ke Gurun Pasir Telaga Biru. Walaupun sudah meyakinkan perasaannya pada Renilla. Vixa juga harus memberi penjelasan pada Mutiara, agar nantinya tak menimpulkan suatu masalah untuk hubungannya dengan Renilla.


"Ada yang gue harus omongi ke lo"


"Gue tau lo udah jadian sama Renilla, jadi gak perlu merasa bersalah. Sebenarnya, disini yang salah gue. Gue gak bisa ngerasain kalo Renilla juga suka sama lo. Padahal, selama ini mungkin dia nahan rasa cemburunya setiap kali gue ngedeketin lo. Gimana, kalo kita anggep kebersamaan kita selama ini sebagai rasa layaknya temen aja?" Mendengar itu Vixa merasa lega, juga berpelukan.


Ketujuh teman yang lainnya, merasa lega sekarang. Awal berfikir akan Mutiara yang pasti sangat kecewa, kini sebaliknya. Semua berlalu begitu cepat, kenangan mereka kini semakin menumpuk. Dimulai saling bertikai, kini saling memahami.


Mereka sudah tumbuh kembali, merasakan semua hidup yang telah hilang dari diri mereka.


***