
...# Happy Reading #...
Setelah pertemuan mereka dengan Yora, akhirnya keenam remaja itu menuju restoran mall untuk mengisi perutnya yang kosong.
Lupa dengan waktu, saat asik makan Zaid malah tak sadarkan diri bersamaan dengan itu Ayora pun pingsan, keduanya telah melewati 12 jam di tubuh masing-masing.
Regan yang melihat itu menjadi panik, namun dengan cepat Zahid menenangkan dan mengatakan tidak apa.
Zaid bangun di tubuh Ayora, sedangkan tubuhnya masih terlelap dengan kepala berada di atas meja restoran.
"Pulang" kata Zahid datar dan langsung memapah tubuh Zaid.
Regan yang melihatnya ikut membantu.
______________
Setelah membiarkan tubuh Zaid berada di kamarnya, Zahid pun pergi meninggalkan pasangan aneh itu.
"Kalau mau keluar liat jam, atau seenggaknya lakuin dulu" kata Zahid datar pada Ayora/Zaid.
"Lupa, lagian aku juga masih canggung" lanjut Zaid.
"Canggung tapi nyusahin orang, masih untung kalau kamu kuat bawa tubuh kamu sendiri, lah ini?" Zahid memandang tubuh Ayora yang menurutnya sangat lemah "ck ck ck" Zahid berdecih sinis.
Ting
Baru saja keluar dari lift, Zahid mendengar teriakkan Zaka dari arah ruang tamu, dan bisa di pastikan Regan yang mendapatkan amarah dari Daddy posesif itu.
"Baru juga di suruh jagain Zifa sehari udah nggak mampu, gimana mau jaga seumur hidup?" Kata Zaka emosional.
Regan hanya mampu menunduk sambil terus mendengarkan suara Zaka.
"Udahlah dad, lagian Zifa juga nggak kenapa-napa" kata Zahid tabg baru saja tiba.
"Ini juga, di suruh jagain adiknya malah di buat lecet, liat tuh muka Zifa dah memar" kata Zaka.
"Kita nggak tau kalau orang yang mukul dia mau nampar, semuanya cepat banget dad" jawab Zahid.
"Lah itu salah kamu, harusnya pas yang mau pukul udah di sana langsung singkirkan aja, ngapain malah di liatin?" Jawab Zaka tak terima dengan alasan Zahid. "Pokoknya Daddy nggak mau tau, cari siapa yang nampar Zifa, ancurin idupnya, bernai-beraninya dia buat memar di pipi Zifa" lanjut Zaka.
Zifa anak yang di perbincangkan telah berada di dapur bersama Arexa.
"Biar nggak di suruh aku juga pasti bales kok" jawab Zahid. "Tapi harus di bantu Daddy" lanjut Zahid.
"Apa?" Tanya Zaka mencoba mengontrol emosinya.
"Daddy pasti punya orang-orang di belakang Daddy kan? Yang ngurus masalah kayak gini?" Tanya Zahid.
"Hmm" Zaka membenarkan.
"Aku mau mereka" kata Zahid.
Zaka melihat pada Zahid yang terlihat serius dengan ucapannya, kemudian pandangannya beralih pada Regan yang masih berada di sana.
"Hidupmu sangat manja, kalau begini kamu tidak akan pernah pantas bersama Zifa" kata Zaka lalu pergi dari sana.
"Di bilang manja dong, hahaha" ejek Zahid pada Regan.
"Gue manja gimana sih? Perasaan gue dah hidup mandiri banget" tanya Regan tak tahu.
"Serius lo nggak tau maksud Daddy gue?" Tanya Zahid.
"Daddy gue juga kali" sewot Regan. "Jadi maksudnya gimana?" Lanjutnya bertanya.
"Lo itu lembek, nggak bisa jagain Zifa, harusnya lo buat persiapan yang matang buat jaga dia" kata Zahid "Dan lagi, Daddy gue tuh ketua mafia" Zaka berbisik di telinga Regan dan langsung meninggalkannya menuju Zaka yang terlihat menuju garasi mobil.
Sampai di garasi, Zahid bisa melihat banyaknya mobil mewah yang berjejer rapih di sana.
Tak
Dengan refleks ia nangkap kunci mobil yang Zaka lemparkan padanya.
Porsche berwarna hitam pekat berbunyi saat Zaid menekan remote mobil.
"Kemana Dad?" Tanya Zahid keduanya telah berada di mobil mewah itu.
"Jalan" jawab Zaka.
Tanpa bertanya lagi, Zahid mengemudikan mobil sesuai dengan arahan dari Zaka, sekitar 30 menit kemudian mobil hitam itu tiba di sebuah bangunan yang terlihat mewah namun sangat sepi.
Zaka keluar dan langsung menuju pintu di sana.
Ceklek
Cela kecil di pintu memperlihatkan sepasang mata tang sedang mengintip Zaka.
Bola mata orang itu terlihat membesar saat melihat kehadiran Zaka kentara sekali bila orang yang ada di dalam sangat terkejut.
Zaka tanpa ragu, masuk setelah pintu terbuka, di ikuti oleh Zahid yang memasang wajah datarnya membuat aura Keduanya sangat mencekam.
Ouhhh
Yeahhhh
Bahkan setelah beberapa tahun, para anggota mafia Zaka masih ada yang berbuat mesum di sudut ruangan, menikmati dunia tanpa menghiraukan kedatangan sang pemimpin.
"Ekhm" Zaka berdehem keras membuat aktivitas para manusia haus sekk itu berhenti.
Zahid yang melihat itu malah memasang seringainya yang menyeramkan.
"Bos?" Kata seseorang yang baru datang dari lantai 2. "Maaf atas kejadian yang tak seharusnya kami perlihatkan" kata orang itu.
"Biarkan mereka menyelesaikannya di tempat lain" kata Zaka.
Anggota yang sudah tanpa busana di sana langsung saja pergi dari sana bersama jaalang yang melayani hasrat menjijikkan mereka.
"Ada yang perlu kami bereskan bos?" Tanya pria itu.
"Hmm" Zaka berdehem "Dia yang akan memimpin mulai sekarang" lanjut Zaka dengan malas kemudian merebahkan tubuhnya di sofa.
Orang itu memperhatikan zahid dari atas kebawah, sedikit keraguan saat memperhatikan Zahid yang terlihat masih sangat muda.
"Dia siapa bos?" Tanyanya.
"Orang yang tak bisa kau temukan selama 17 tahun" jawab Zaka.
"Dia anak anda?" Tanyanya tak percaya.
"Hmmm" jawab Zaka. "Lakukan apapun yang diperintahkannya" lanjut Zaka.
"Tapi dia terlihat masih sangat muda bos" jawab orang itu.
"Kau meragukannya?" Tanya Zaka dengan kaku orang itu mengangguk.
"Baiklah, Son buktikan kelayakan mu" kata Zaka.
Zahid menggangguk singkat dan langsung berjalan ke arah orang itu mengambil pistol yang ada di sakunya.
"Pistol mainan mu jelek sekali" Ejek Zahid.
Sambil memainkan pistol milik pria itu, dengan memutar mutar nya di ujung jari telunjuknya.
"Itu bukan pistol mainan, itu bisa membunuh" kata pria itu.
"Oh benarkah?" Tantang Zahid dan langsung mengarahkan pistol itu ke jantung pria di depannya.
"Haruskah kita mencobanya?" Tanya Zahid.
Orang itu hanya mampu terdiam dengan ketakutan yang mendalam, ia bisa melihat sisi psikopat pada diri Zahid yang amat parah, seringai saat mengarahkan pistol itu pada dirinya terlihat sangat menyeramkan.
"Jangan membunuhnya" kata Zaka saat Zahid akan menarik pelatuk pistol itu.
"Wah kau selamat" kata Zahid dengan riang.
Dor
Tembakan ia lepas mengarah ke dadanya dan peluru dari pistol terpental beberapa meter dari tubuhnya.
Orang itu melotot tak percaya, ia mencoba berfikir positif bila Zahid tengah memakai rompi anti peluru yang harganya sangat mahal hingga membuat peluru itu terpental.
Melihat keraguan yang ada pada pria di hadapannya, Zahid dengan cepat membuka kaos yang ia kenakan menampilkan tubuhnya yang putih dengan otot-otot cantik menghiasi lengan dan perutnya.
Dor
Tembakan kembali ia lepaskan di perutnya, dengan jelas tanda merah akibat peluru yang terpental terlihat membekas di sana.
"Kau meragukannya?" Tanya Zahid tak lupa dengan seringainya.
"Ti-Tidak bos" kata pria itu dengan takut.
Seluruh adegan yang terjadi di saksikan langsung oleh banyak anggota yang hadir di sana, sebagian dari mereka amat tak percaya dengan hal itu.
"Bagus! Misi pertama kalian, adalah menghancurkan keluarga Sovrieta" kata Zahid ringan.
Zaka menaikkan alisnya mendengar nama keluarga itu.
"Buat apa?" Tanya Zaka.
"Anak keluarga mereka yang menampar pipi Zifa" jawab Zahid.
(Kyora Atmaja Sovrieta)
Para anggota yang mendengar alasan yang cukup ambigu di buat merinding, hanya karena menampar pipi putri Vocanicoxa dapat menghancurkan keluarga mu?, Pikir mereka.
Zaka mengangguk setuju, "Hancurkan samapi tak ada yang tersisa" kata Zaka.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
See You ❣️