
...# Happy Reading #...
Zahid tiba di mansion mewah yang ia tempati selama ini, dengan keadaan yang kacau ia melangkahkan kaki menuju ptubtu utama banyak bodyguard yang berjaga menunduk hormat pada pemuda yang masih berusia hampir 18 tahun itu.
Setelah pintu terbuka, Zahid bisa melihat si Kakek yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan santainya, tangan kedua pria paruh baya itu di lipat di dada.
"Kau berhasil membunuhnya?" Kata pria baya itu dengan angkuhnya.
"Kau bahkan tak menanyakan kondisiku dulu tua bangka!" Jawab Zahid.
"Hahaha, Bagaimana son? Kau okay" kata Arendra si pria baya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Zahid tersenyum sumringah.
"Ya aku baik bahkan sangat baik" kata Zaid dengan lantangnya. "Aku tak butuh kamu lagi karna aku sudah tahu keberadaan orang tua ku" lanjut Zahid.
"Hahahaha, Kau sudah tahu? Terus kenapa? Mau menyusulnya?" Kata Arendra tak gentar.
"Iya, aku akan meninggalkan mu dan bertemu mereka" kata Zahid yakin.
"Baiklah pergilah kalau begitu" jawab Arendra.
Zahid menaikkan sebelah alisnya bingung atas sifat Arendra ini.
"Kenapa?" Tanya Arendra saat tak mendapat respon dari Zahid.
Zahid memicingkan mata curiga pada Arendra memindai raut wajah tua kakeknya.
"Kau tak ingin bertemu anak perempuan mu?" Kata Zahid.
Arendra terdiam, bukan tak ingin bertemu namun ia gengsi terlebih ia sudah menyusahkan anak perempuannya itu dengan mengambil seorang anaknya.
"Tidak untuk sekarang" kata Arendra "emm sebelum kamu pergi, habisi dulu Mafia DS" kata Arendra.
"Ohoho tidak akan, aku tak ingin mempertaruhkan nyawaku dalam dunia mu lagi" kata Zahid.
"Kau harus melakukannya karena kau penerus ku!" Kata Arendra tegas tak ingin di bantah.
"Aku tak mau, aku mau hidup tenang seperti orang normal" kata Zahid. [Dan lagi aku juga dari dulu tak setuju untuk jadi ket-"
[Ding!!!
Patuhi segala perintah kakek.
Hadiah
~ 1 Jt Pt setiap perintah
Gagal
~ 5 Jt Poin tukar akan di tarik
Terima/Tidak
Menolak misi \= membekukan seluruh Pt system hingga waktu yang belum di tentukan ]
Perkataan Zahid terpotong oleh notifikasi dari system, sebenarnya ia ingin menolak, selain karena ia sudah kaya, ia juga sangat rindu dengan keluarganya yang tak pernah ia lihat. Namun kembali lagi ke system, Zahid ragu bila Pt yang di miliki orang tuanya itu di bekukan.
Zahid tak tahu fungsi dari Pt itu sendiri karena ia belum menggunakannya.
"Huffft baiklah" kata Zahid.
Arendra tersenyum sumringah hingga keriput di wajahnya semakin terlihat.
"Bagus Regan" kata Arendra.
Zahid di panggil Rega oleh tua bangka itu.
Setelahnya Zahid berjalan naik ke lantai 4 dimana kamarnya berada. Untuk mengistirahatkan diri, Zahid akan mengatur strategi yang akan ia gunakan untuk menyerang Mafia Ds yang menjadi musuh bebuyutan Kakeknya.
"System kamu bisa segalanya kan?" Tanya Zahid.
[Ya Host] balas System.
"Kalau begitu buat aku menjadi yang terkuat di dunia ini, buat tubuhku tahan peluru dan racun hehehe" kata Zahid "Astaga bodohnya bagaimana mungkin itu bisa terjadi" lanjutnya bergumam.
[Ding!!!
Tubuh Baja dan Tubuh Suci berhasil di beli, menggabungkan dua tubuh.......]
[Penggabungan selesai]
[Konfirmasi pembelian Ya/Tidak]
Zahid terdiam melihat layar transparan di hadapannya yang terus berganti menyampaikan informasi.
"Ya" jawab Zahid
[Memasang tubuh pada Host]
Tubuh Zahid di selimuti warna hitam dan cahaya putih menyelimuti tubuhnya untuk beberapa saat.
Zahid merasa nyaman dengan itu, ia memejamkan matanya meresapi sensasi hangat dan dingin masuk ke tulangnya.
"Arrrrghh"
Sampai Akhirnya ia berteriak saat setiap inci dari tulangnya seolah di patahkan.
Krakkkk
"Arrrrgghhh"
Zahid terus berteriak kesakitan, kamar yang di desain kedap suara membuat teriakannya tak di dengar orang di luar.
[Proses pemasangan selesai]
Selamat kepada host karena telah mendapatkan tubuh baru!]
Huh huh huh
Zahid mengatur nafasnya yang memburu, keringat bercucuran dari pelipisnya. Bangkit dari kasurnya Zahid m membuka laci nakas mengambil pistol kesayangannya di sana.
Dor
Setelah mengarahkannya pistol itu pada telapak tangannya, Zahid menekan pelatuk pistol.
"Hahaha seriosly?" Gumam Zahid menatap tak percaya tangannya yang memang sekeras baja.
Dor
Dor
Zahid kembali menembak pada perutnya karena masih tak percaya, dan hasilnya tetap sama, peluru itu terpental setelah mengenai tubuhnya.
"Kalau bom bagaimana?" Gumam Zahid menyeringai. "Aku jadi tak sabar ingin menemui DS" lanjutnya kemudian kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
____________
Arexa dan Zaka sedang berdua di apartemen mereka orang dewasa yang sudah hampir Setengah abad itu masih nyaman di balik selimut setelah beberapa saat yang lalu melakukan aktivitas mereka.
"Ini gimana sayang? Aku udah nggak bisa coba rasa perawwan" kata Zaka dan langsung di hadiahi cubitan keras di adiknya.
"Aussh sakit sayang" kata Zaka kemudian mengelus adiknya yang sudah berdiri. "Tanggung jawab loh" kata Zaka dan tanpa menunggu lagi ia memasukkan miliknya pada milik Arexa dengan posisi berhadapan.
"Issh mas kok gitu aku masih capek" kata Arexa.
"Gak sayang, cuman di masukin aja kok, nggak di goyangin" kata Zaka.
Arexa bersungut-sungut mendengarnya. Namun tetap membiarkan milik Zaka terbenam di bawah sana.
"Nanti kalau Zahid dah datang kita minta dia buat kasi pil penyembuhan ya sayang?" Kata Zaka.
"Iyaaa" jawab Arexa. "Tapi kok dia belum datang ya? Apa kasusnya sama kayak aku? Nggak bisa nemuin dia pake system?" Kata Arexa dengan khawatir.
"Dia pasti bisa kok, selain itu setidaknya kebutuhan dia tercukupi di manapun dia berada, moga aja system nggak pelit banget mau kasi lokasi kita" kata Zaka memeluk erat tubuh Arexa.
"Emm mas, sampai kapan kita nyembunyiin identitas kita dari anak-anak?" Tanya Arexa mendongakkan kepalanya menatap manik mata Zaka.
Cup
"Setelah Zahid datang" jawab Zaka setelah memberi kecupan di bibir manis Arexa. "Lagian hidup gini juga nggak buruk kok, tiap hari bisa ehem ehem hehehe" lanjut Zaka mesum sambil menggerakkan pinggulnya.
Aussshhh
Pekik Zaka lagi karena kembali mendapat cubitan di puttingnya.
"Katanya nggak gerak" omel Arexa.
"Kan itu tadi sayang, sekarang aku maunya gerak" Zaka membalikkan tubuhnya dan sudah berada di atas menyentak Arexa dengan panas.
__________________
Gerald yang berada di perusahaan sedang mengerjakan tugas kantor.
"Anjimm banget aku juga mau santai-santai bareng istri dan anak aku" umpat Gerald melihat banyak tumpukan berkas di mejanya.
"Kalau bukan karna rasa perawwan udah nggak mau aku kerja kayak gini" lanjut Gerald.
Zaka memberi pil penyembuhan pada Gerald sebagai kompensasi atas kerja kerasnya mengurus banyak perusahaan miliknya dan milik Arexa.
Tok
Tok
Tok
Pintu di ketuk
"Masuk" kata Gerald dengan dinginnya.
"Maaf presdir, berkas yang kemarin di ajukan oleh Tuan Yaksha sudah saya revisi" kata seorang wanita cantik dengan pakaian ketatnya.
"Hmmm kau boleh meletakkannya" kata Gerald.
Perempuan itu berjalan mendekat ke arah meja lalu dengan centilnya meletakkan berkas yang ia bawah dengan gaya alai sehingga belahan di sana bisa di lihat oleh Gerald.
"Anda mau mencobanya tuan?" Kata perempuan itu menggigit bibir bawahnya.
Gerald menatapnya sinis "Heh murahan, lobang kamu itu udah longgar 10 jari aku pasti masuk" ejek Gerald.
"Kau boleh merapikan barang-barang mu, aku tak ingin melihatmu lagi saat jam istirahat" kata Gerald dingin.
Perempuan itu langsung kena mental dan dengan kesal ia pergi dari sana.
"Sayang ke kantor Sekarang" kata Gerald setelah telfon terhubung.
-Ngapain kak?-
"Aku mau makan, cepetan ya, entar aku pakai ****** loh kalau kamu nggak datang" kata Gerald mengancam dengan nada bercanda.
-Awas kalau berani! Aku bilangin sama Rexa biar titid kamu di potong-
"Duhh yaudah sayang cepetan sini dong" kata Gerald "jangan lupa, aku mau warna Kuning heheh" lanjutnya merujuk pada pakaian panas sang istri.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
maaf banyak typo author nggak periksa
See You ❣️