
...# Happy Reading #...
Waktu berjalan dengan cepat, setelah dinyatakan lulus sebagai murid dengan nilai terbaik, kini Arexa menjalani hidupnya seperti seorang ibu rumah tangga mengurus Mansion, Ardan, serta sesekali pergi ke Xeon dan Zec intuk melakukan sedikit pekerjaan.
Selama 8 bulan mengandung, Arexa belum pernah mengalami yang namanya ngidam, namun berbeda dengan saat ini ia merasakannya.
Arexa bergerak kesana-kemari dengan gelisah sambil terus mengelus perutnya yang terlihat sudah hampir meledak.
Bu Tina dengan perutnya yang sudah besar berjalan mendekat ke arah Arexa.
"Kenapa Non?" Tanya Bu Tina.
"Gpp bu, saya cuma merasa aneh aja, bawaan mau mukul muka mas Zaka" kata Arexa.
"Oalah itu ngidam Non" jawab Bu Tina.
"Ngidam?" Kata Arexa.
"Pasti pengen banget kan? Sampe rasanya mau nangis? Saya juga waktu awal gitu non" kata Bu Tina.
"Kayaknya ibu bener deh"
"Yasudah ke kantor tuan aja non" usul Bu Tina.
Arexa menggangguk kemudian berjalan menuju kamarnya dengan perut besarnya.
Arexa mengambil baju yang di rancang khusus untuknya agar perutnya tidak sesak baju yang mirip dengan daster kemudian mengambil tas kecil dan memakai sandal milik Zaka.
Dengan rambut tergerai bergelombang, Arexa menuju perusahaan bersama Vino yang mendapat giliran bertugas minggu ini.
Mobil Arexa berjalan menuju Von.inc dimana Zaka tengah bekerja.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di sana, mobil yang di tumpangi Arexa tiba di parkiran.
Dengan tak sabar, Arexa melangkahkan dengan cepat namun tetap berhati-hati.
Arexa langsung menuju lift khusus CEO dan tamu penting di perusahaan itu.
Semua karyawan kantor telah mengetahui identitas Arexa sehingga tak ada yang berani menahan ibu hamil itu.
Ting
Arexa tiba di lantai atas diikuti Vino yang masih sempat mengikuti Arexa masuk kedalam lift.
Arexa menengok ke meja sekretaris Zaka dan tak mendapatinya di sana. Tanpa mau memikirkannya Arexa berjalan menuju ruangan Zaka.
Tanpa mengetuk pintu, Arexa membuka pintu itu.
Ceklek
Pintu terbuka, seketika mata Arexa membulat saat mendapati Zaka tengah mencium bibir seseorang di atas lantai.
Arexa berjalan mendekat dengan tatapan jijik pada dua orang itu
"Wahhhh membangonkan kamu ngapain ciuman sama dia mas? Nggak puas sama aku? Mau aku kasi rasa perawwan? BILANG!" Kata Arexa dengan menekan akhir katanya.
"Ini juga, ngapain mau di cium sama dia? Iss kalian nggak jijik?" Lanjut Arexa.
Zaka yang sedang bersama Gerald posisi keduanya cukup ambigu di atas lantai, Zaka berada di atas Gerald sedangkan mulut keduanya sudah saling menyapa.
Kedua pria dewasa itu masih terkejut dengan kedatangan Arexa.
Arexa berjalan mendekat ke arah Zaka.
Plak
Pukulan Arexa seketika melepas tautan kedua pria itu.
Sementara Vino yang ikut bersama Arexa sudah menahan tawanya.
"Ihhh gatel banget tangan aku mau mukul muka kamu mas" kata Arexa.
Dengan tangan kiri yang berada di perut besarnya, Arexa menarik kerah kemeja Zaka untuk bangun dan mengembalikan kesadarannya.
Plak
Satu tamparan kembali di dapatkan Zaka di pipi lainnya, wajah putih Zaka kini sudah ter cap oleh tangan cantik Arexa.
"Sa-Sayang? Kamu ngapain kesini" Tanya Zaka.
Plak
Arexa kembali memukul wajah Zaka.
"Aku ngidam" kata Arexa.
Mata Zaka berbinar mendengar Arexa sedang ngidam, seketika ia melupakan rasa sakit di pipi mulusnya.
Gerald sudah berdiri saat Arexa menarik kerah kemeja Zaka.
"Ngidam apa? Ntar aku kabulin" kata Zaka.
Plak
"Ngidam pengen mukul muka kamu mas" kata Arexa.
"Kok ngidamnya aneh sayang" kata Zaka sambil mengelus pipi kanan dan kirinya.
"Nggak tau, anak kamu maunya itu" kata Arexa.
"Yaudah mau lagi?" Tanya Zaka.
Plak
Plak
Zaka hanya pasrah wajah tampannya di pukuli oleh sang istri, sesekali ia meringis menahan sakit.
"Sekarang udah puas, nggak tau kalau nanti" kata Arexa.
"Iya, nanti pukul lagi kalau ngidam" jawab Zaka kemudian membawa Arexa kedalam dekapannya menenggelamkan kepalanya di cekuk leher sang istri.
Vino dan Gerald sudah keluar tak kuat menyaksikan pasangan itu.
Zaka membawa Arexa menuju sofa yang ada di sana.
"Kok bisa cium Gerald sih?" Kata Arexa kemudian mengambil tisu basah yang ada di tasnya.
"Tadi nggak sengaja ketabrak pas mau keluar, eh taunya dia letoy banget langsung jatuh" jawab Zaka.
Arexa membersihkan bibir Zaka dengan tisu yang ya ambil. Kemudian melihat pipi zaka yang cukup merah akibat ulahnya.
Arexa membeli pil penyembuhan memasukkannya kedalam mulutnya kemudian mengirimkannya melalui mulut ke mulut. Dan terjadilah ciuman panas mereka.
"Auhhh" Pekik Arexa saat merasakan kontraksi di perutnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Zaka panik wajahnya yang sudah sembuh kembali memerah.
"Shhhhht perut aku mas mules banget" kata Arexa.
"Kita ke rumah sakit sekarang" kata Zaka kemudian menuntun Arexa untuk berjalan keluar.
"Ishhh mas harusnya gendong aku" gerutu Arexa.
"Gak usah sayang, entar kamu jatuh gimana? Aku panik banget nih, liat kaki aku udah gemetaran tubuh aku ajah susah buat di bawa masa mau gendong kamu juga?" Kata Zaka. "GERALD!!! VINO!!!" Lanjutnya berteriak.
"Kenapa bos?" Tanta Gerald.
"Cepat siapkan mobil, perut Arexa sakit" kata Zaka.
"Mau lahiran?" Tanya Gerald.
"Kok kalian malah ngebacot sih? Ini perut aku sakit banget" omel Arexa, bersamaan dengan itu air ketuban bercampur darah merembes turun melalui betisnya.
"Duh sayang kok lahiran di perusahaan sih?" Kata Zaka.
"Nggak tau, anak anak kamu maunya ngantor nggak suka kerja di rumah" jawab Arexa.
Empat manusia dewasa itu berada di lift dengan Arexa di gandeng oleh Zaka.
Ting
Pintu lift terbuka, banyak karyawan yang menyaksikan drama keluarga itu, tangan kiri Arexa sudah berada di rambut Gerald meluapkan rasa sakitnya, sementara Gerald diposisi terseret, Vino memapah Gerald agar tak terjatuh.
Setelah sampai di mobil Limosin yang di khususkan untuk dinas dan mengunjungi acara perusahaan, Keempatnya masuk dengan Gerald dan Vino berada di depan.
Sementara Zaka duduk di belakang dengan Arexa yang menyandarkan kursi hingga posisi terbaring.
"Ukhhhh mas ini sakit banget" kata Arexa.
"Nggak bisa minum pil penyembuhan sayang?" Tanya Zaka.
"Mana bisa mas, ntar anaknya nggak keluar" jawab Arexa.
"Tapikan sayang, mereka baru 8 bulan" kata Zaka.
"Emang mau di tahan sampe 9 bulan? Air ketubannya ajah udah nggak ada mana bisa" kata Arexa.
"Kok ini mobil lambat banget sih?" Tanya Zaka.
"Mas coba liat kebawah deh, kayaknya ada yang keluar" kata Arexa.
"Liat apa sayang? Apa yang keluar?" Tanya Zaka was-was.
"Liat di bawah, tempat kamu selalu masuk mas"kata Arexa
"Ini serius sayang?" Tanya Zaka.
"Serius mas cepetan ntar dia jatuh" kata Arexa.
Zaka dengan perasaan campur aduk menyingkap baju yang Arexa gunakan, pembatas yang ada di antara kursi penumpang membuat Gerald dan Vino tak dapat melihatnya.
"Kamu nggak pakai underwear sayang?" Tanya Zaka saat melihat kepala si kecil sudah hampir keluar dari pintunya.
Arexa tak menjawab ia merasakan sesuatu yang besar keluar dari tubuhnya.
"Keluar sayang gimana nih?" Tanya Arexa.
Zaka melihat kembali ke bawah Arexa dan mendapati setengah badan Anaknya sudah keluar dan bersiap untuk meledakkan suaranya.
Oeeek
Zaka terharu melihat bayi merah itu, tangannya sudah menahan tubuh mungilnya yang keluar sebatas pinggang.
"System beli skill kedokteran" perintah Arexa.
[Ding!!!
Beli Skill kedokteran 200 PT
Ya/Tidak]
"Ya" jawab Arexa.
Setelah mendapat ingatan dokter dokter ternama, Arexa kemudian menarik bajunya keatas memperlihatkan bagian bawahnya yang tak tertutup.
Arexa kemudian mengeluarkan anaknya dari tubuhnya.
"Ambil kotak P3K mas!" Kata Arexa sambil menahan tubuh si kecil yang terus menangis.
Zaka memberikan kotak P3K yang memang di sediakan di mobil.
Arexa mengembalikan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki itu pada Zaka.
Kemudian mengambil gunting dan mengoleskannya dengan obat merah melalui kapas. Kemudian mengambil benang dan mengikat tali pusat si kecil di dua sisi dan memotongnya.
"Aku nih mandiri banget mas, lahiran aja sendirian" kata Arexa.
Zaka tak mampu berkata-kata ia mengambil kemeja mahal yang tergantung tak jauh dari posisinya membalut tubuh merah si bayi.
Zaka menatap berkaca-kaca Arexa yang nampak menahan sakit. "Makasih sayang" kata Zaka.
"Kok mobil nggak sampe sampe sih Mas?" Tanya Arexa yang kembali akan melahirkan anak ke duanya.
"Nggak tau sayang" kata Zaka
Arexa kembali mengeluarkan Anaknya di bantu oleh Zaka, sedangkan si kecil ia letakkan di kursi setelah menumpuk banyak kemeja mahalnya di sana.
Oeeek
Tangis bayi kembali terdengar melengking, namun tak dapat di dengar oleh Gerald dan Vino.
Sama dengan bayi pertama, bayi kedua yang berjenis kelamin laki-laki itu di tangani oleh Arexa sedangkan Zaka bertugas sebagai Asisten dadakannya.
Zaka kembali mengambil satu kemeja mahal yang tersisa kerena sebagian ia gunakan untuk melapisi bayi pertama.
Hufft
Arexa mengatur nafas setelah selesai dengan tugasnya.
"Kayaknya aku pendarahan deh mas" kata Arexa.
"Sabar sayang tinggal satu lagi" kata Zaka mengecup kening Arexa dengan mata berkaca-kaca.
Arexa kembali melahirkan anak ketiganya yang berjenis kelamin perempuan dengan tenaganya yang tersisa, melakukan proses persalinan dadakan menurut versinya.
Arexa membersihkan area pribadinya dan mengeluarkan ari-ari bayi dalam dirinya tak mempedulikan mobil mahal dan tangannya penuh dengan darah. Kemudian meminum pil penyembuhan dan langsung terlelap kedalam mimpi
Zaka menerima bayi ketiga mereka, namun saat akan memberinya kemeja untuk di tutupi, ia telah kehabisan dengan terpaksa ia membuka kemeja miliknya dan memberinya pada si bungsu.
Zaka meletakkan putrinya bersama anaknya yang lain di atas kursi.
Air mata haru berhasil merembes keluar dari matanya menatap ketiga anaknya dengan takjub.
Mobil Limosin itu ternyata terjebak macet dan Arexa maupun Zaka tak menyadari mobil telah berhenti karena terlalu panik.
Zaka kemudian beralih pada milik Arexa yang sudah tak berdarah dan kembali menjadi seorang Gadis, bahkan tubuhnya yang tadinya terlihat gempal kini menjadi sangat seksi, seketika pikiran kotor merasuk kedalam otaknya.
Glek
"Tahan Zaka, Istri baru aja lahiran" kata Zaka menahan diri.
Tangan Zaka menurunkan pakaian Arexa untuk menutupi area penting sang istri.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Like dong :-)
See You ❣️