Arexa'S System

Arexa'S System
ZS~5(Pulang)



...# Happy Reading #...


Dengan langkah gontai, pemuda dengan pakaian yang terlihat mewah melekat di tubuhnya.


Zahid melangkah angkuh ke tempat Arendra duduk.


"Aku menyelesaikan tugas yang kakek berikan, dan aku akan langsung menemui orang tuaku" kata Zahid.


"Secepat itu?" Kata Arendra tak percaya.


"Hmm" jawab Zahid


Dengan agak ragu Arendra mengangguk, "Pergilah Regan" kata Arendra dengan suara tuanya.


"Huh Aku punya nama dari orang tua ku, jangan memanggilku dengan nama itu terus" ketus Zahid.


"Hahaha itu panggilan kesayanganku untukmu" jawab Arendra.


"Aku tak butuh" kata Zahid."Kakek nggak ikut?" Lanjutnya Zahid.


Arendra nampak terdiam sejenak, "Tunggu sampai aku siap menemui ibumu" kata Arendra.


"Kalau begitu aku akan menyiapkan barang ku dulu" kata Zahid kemudian beranjak ke kamarnya menyiapkan pakaian yang akan ia bawa pulang.


Siap dengan satu koper besarnya, Zahid lebih dulu membersihkan diri mengganti pakaiannya kemudian turun.


Arendra dengan berat hati harus melepas cucu yang ia culik dan besarkan seorang diri itu.


Mereka sudah berada di Bandara.


"Aku menunggumu pak tua, kunjungi aku di rumah Mommyku" kata Zahid sembari memeluk Arendra sebagai salam perpisahan.


"Hati-hati Aku selalu menyayangimu walaupun caraku salah, aku benar-benar minta maaf telah memisahkan mu dari kedua orang tuamu" Balas Arendra.


"Ya kamu harus minta maaf kakek" Zahid melepas pelukannya. "Jangan lupa kunjungi aku, kalau tidak aku tak akan pernah mengunjungimu" kata Zahid.


Arendra tersenyum dengan wajah tuanya "Pasti" kata Arendra.


Zahid berjalan menuju pintu masuk dengan menyeret kopernya meninggalkan Arendra yang menatapnya sedu.


Pesawat akhirnya mengudara di gelapnya malam, Zahid terbang meninggalkan Roma-Italia menuju tempat kedua orang tuanya.


_________________


Seperti pagi sebelumnya, keluarga kecil Zaka bersiap melakukan aktivitas masing-masing, lebih tepatnya Zaid serta Zifa, karena Zaka dan Arexa masih santai di Apartemennya.


Untuk mengelabui kedua anaknya dengan sengaja Zaka menggunakan pakaian kantor seolah akan berangkat kerja, namun mereka tak tahu saja bahwa Si Daddy akan berakhir di kamar bersama mommy nya melakukan percintaan panas seperti biasanya.


Zaka dan Arexa menjadi lebih santai atas pencarian Zahid, mereka percaya tak lama lagi anaknya yang hilang itu akan datang beberapa saat lagi.


Zaid dan Zifa tiba di kelasnya masing-masing.


"Zifa?" Kata Regan saat melihat Zaid, seperti kebiasaan paginya, ia akan menanyakan gadis pujaannya itu.


"Di kelas" jawab Zaid.


Regan menggangguk lalu kembali dengan ponselnya di mana ada foto-foto Zifa yang Zaid kirimkan padanya, sambil tersenyum, Regan terus menggulir foto di sana.


Senyum yang nampak di wajah Regan membuat teman-temannya ngeri sendiri, terlebih Bomi, Dawi dan Yogi.


"Gue bakal lamar Zifa" celutuk Regan membuat semua temannya melotot.


"Lamar?" Kompak Bomi, Dawi, dan Yogi.


"Nanti malam" lanjut Regan.


Sementara Zaid hanya diam sembari memasang pendengaran.


"Bukan mengajak pacaran?" Tanya Yogi.


"Bukan, gue bakal memiliki Zifa seutuhnya" kata Regan dengan senyum yang membuat sahabatnya ngeri sendiri.


"Daddy gue nggak bakal setuju" kata Zaid.


"Kenapa?" Tanya Regan.


"Kriteria dia itu tinggi banget buat Zifa" dengan suara beratnya dia menjelaskan dengan malas.


"Harus Tampan, Baik hati, dan tidak sombong" lanjutnya lagi.


"Juga harus kaya" kata Zaid menutup penjelasannya.


"Itu udah masuk kriteria, Bos Regan Tampan? iya, Baik? jangan di tanya, sombongnya cuman dikit sih, terus kaya, kita semua juga tau kali kalau Keluarga dia berada di urutan no 3 di Indonesia orang terkaya" kata Dawi.


"Gpp nanti malam gue bakal coba, kan gue juga anak satu satunya bokap gue" kata Regan.


"Gue sih percaya bakal di terima secara kan bos ora-" kata Bomi tak selesai karena langsung mendapat tatapan maut dari sahabatnya yang lain. "Hehehe" lanjut Bomi dengan kekehan yang di paksakan.


"Serah" jawab Zaid.


_______________


Ceklek


Seperti yang Regan katakan, ia sudah berada di depan pintu Apartemen Zaka, tak lupa dengan dua orang tuanya yang memasang muka masam di belakangnya.


Zaid yang membukakan pintu menaikkan sebelah alisnya kemudian dengan sopan mempersilahkan tamunya itu masuk.


"Siapa boy?" Tanya Zaka berjalan dari arah dapur.


"Tamu Dad" jawab Zaid.


Mata papa Regan yang melihat Zaka langsung membulat sempurna, menurut laporan yang ia terima dari Regan, orang yang akan di lamar oleh anaknya adalah murid beasiswa.


Zaka duduk di singel sofa setelah mempersilakan tamunya untuk duduk.


"Ada keperluan apa?" Tanya Zaka datar sambil bersedekap dada.


Sean Papa Regan menjadi canggung, seketika rasa percaya dirinya runtuh saat melihat Zaka.


Tadi saat anaknya memaksanya untuk melamar pujaan hati, Sean tidak setuju karena status keluarga si perempuan, namun karena Regan ngotot jadilah ia setuju, dan dengan percaya diri tingkat selangit ia pun pergi.


Dan lihat, saat ini kepercayaan dirinya sudah dihempaskan di kedalaman palung Mariana.


"Zaid ambilkan minuman" kata Zaka.


Tanpa berbicara, Zaid menuju dapur mengambil minuman yang tentu saja di buat oleh Arexa.


"Jadi? Ada apa tuan sean datang ke tempat ku?" Tanya Zaka lagi.


"Maaf Tuan Zaka, niat saya baik, saya ingin melamar anak perempuan anda" kata Sean.


Sementara Regan menatap papanya tak percaya, tumben sekali papanya itu berbicara sangat sopan.


Sementara ibunya Kaila sudah dari tadi memperhatikan wajah tampan Zaka.


Mendengar perkataan Sean, Wajah Zaka berubah semakin tak sedap di pandang.


"Dia?" Kata Zaka melihat ke arah Regan.


"Iya Tuan, dia sangat mencintai putri anda" kata Sean.


"Punya apa kamu mau sama anak saya?" Tanya Zaka pada Regan dengan intonasi suara rendah.


"Saya baik hati, saya tampan, saya juga hanya sedikit sombong, dan keluarga saya juga keluarga mampu" kata Regan "dan lebih dari itu semua saya punya cinta yang besar untuk Zifa" lanjutnya.


Zaka menaikkan sebelah alis melihat tingkat percaya diri pemuda di hadapannya.


"Kau baik?" Kata Zaka di jawab anggukan oleh Regan.


"Hahaha, nggak ada orang baik bilang dirinya baik" kata Zaka tertawa sumbang.


"Saya menolak" lanjut Zaka dengan tegas.


Wajah Regan berubah murung, tak berbeda dengan wajah papanya.


"Kembalilah lagi saat kamu sudah jadi orang baik, juga saat kamu sudah jadi Orang kaya, lebih kaya dari istriku, karena itu sudah jadi janjiku pada Zifa" kata Zaka. "Dan melihat wajah burik mu Sekarang, beberapa tahun lagi jika saya sudah tua pasti kau akan mengalahkan ketampanan ku" lanjutnya Pd.


Regan menaikkan alisnya, "Bukannya saya sudah cukup kaya untuk Zifa? Saya punya cafe sendiri yang bisa menghidupinya" kata Regan.


"Tidak sekaya istriku" Zaka berkata dengan pelan. "Pulanglah biar orang tuamu yang menjelaskan" lanjut Zaka saat melihat wajah Regan tang nampak bingung.


"Emm tapi minumannya belum datang" Kaila yang sedari tadi diam akhirnya buka suara, ia masih ingin berlama lama mengangumi wajah tampan Zaka.


Tak lama, Zaid datang dengan nampan dan minuman, bukan Arexa yang membawanya karena Zaka sudah melarangnya keluar dari dapur.


Dreet


Dreet


Bel apartemen berbunyi membuat semua arang yang ada di sana melihat ke arah pintu. Tanpa di suruh Zaid membukanya dan di luar ia bisa melihat seorang pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


See You ❣️