
...# Happy Reading #...
~Malam yang sama saat insiden~
Zaka sampai di apartemen dan langsung saja menarik lengan Zifa yang kembali di peluk oleh Regan. Kemudian mendekapnya, dan tatapan tajam ia layangkan pada Regan yang terlihat murung.
"Ngapain nyentuh anak gadis orang?" Tanpa perasaan Zaka mengucapkan kalimat itu.
Arexa yang tak jauh dari sana hanya dapat geleng-geleng kepala melihat Daddy posesif yang sedang kambu itu.
Arexa mendekat kemudian mengusap punggung Zaka "Biarin mas, dia lagi sedih" kata Arexa.
"Nggak" tolak Zaka.
"Yaudah kalau gitu aku aja yang peluk dia ya?" Kata Arexa seketika langsung di tatap tajam oleh Zaka seolah ingin membunuhnya.
"Coba aja kalau berani, aku kurung kamu di kamar selama 1 minggu mau?" Tantang Zaka.
Arexa menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menggeleng.
Cup
Dan satu ciuman ia dapatkan dari Zaka "Makanya nggak usah banyak tingkah" kata Zaka dengan kesal.
Zaka melihat ke arah Regan yang masih diam.
"Anak cowok nagess entar nggak aku restuin hubungannya sama Zifa mampus" ejek Zaka.
'kayak nggak nangis aja pas di tinggal mama Zakia' pikir Arexa sambil melirik ke arah Zaka.
Regan yang masih bersedih mengusap matanya yang mengeluarkan air, "Nggak kok" katanya dengan senyum manis, lebih tepatnya senyum yang di paksakan.
Kemudian berjalan mendekat ke arah mayat kedua orang tuanya.
"Mom boleh minta kain bersih?" Kata Regan melihat ke arah Arexa.
Arexa menaikkan sebelah alisnya karena di panggil Mom oleh Regan, namun tak lama ia mengangguk dan berjalan menuju kamarnya.
Sementara Zaka langsung mendelik tak suka mendengarnya. "Siapa yang kamu panggil mom?" Kata ketus Zaka.
Regan yang menatap wajah papanya membalikkan tubuh dan melihat Zaka. "Em tentu saja Mommy Arexa Dad" jawabnya santai dan kembali melihat ke arah mayat papanya.
Arexa datang dan memberikan kain putih bersih yang ia ambil di kamar memberikannya pada Regan, Regan yang menerima itu langsung membersihkan darah yang sudah hampir kering di wajah kedua orang tuanya.
"Boleh minta Air lagi mom?" Kata Regan.
Arexa kembali mengangguk lalu berjalan ke dapur mengambil seember air dan memberikannya pada Regan.
"Makasih" kata Regan dengan suara lirih kemudian mencelupkan kain yang tadinya putih bersih kini sudah menjadi merah.
Sambil menahan air mata, Regan membersihkan wajah kedua orang tuanya yang penuh dengan darah.
Setelah di rasa cukup bersih, Regan menelfon seseorang untuk membantunya membawa jasad kedua orang tuanya.
Regan duduk di sofa yang kotor dengan darah. Zaka yang sudah melepas Zifa duduk di singel sofa.
"Keluarga mu ada masalah apa? Sepertinya penembak memang menargetkan mu" kata Zaka.
Regan diam beberapa saat memikirkan wajah penembak yang tadi ia lihat.
"Penembak tadi pernah aku lihat di rumah pamanku, aku nggak tahu motifnya apa" jawab Regan.
Zaka menaikkan sebelah alisnya "Bukannya cukup jelas? Pamanmu ngincar harta orang tuamu" jawab Zaka.
"Kurasa Dad benar" kata Regan. Seketika Zaka kembali memicingkan mata menatapnya.
Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum paksa, Regan masih mencoba berdamai dan mengikhlaskan kematian kedua orangtuanya yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Dret
Dret
Bel apartemen berbunyi Regan langsung beranjak membuka pintu dan di depannya sudah ada Bomi, Dawi, dan Yogi.
Regan langsung memeluk satu persatu sahabatnya itu, walau bingung dengan kaku para sahabatnya membalas pelukan Regan.
Regan mengakhiri pelukan dengan Yogi, dan dapat sahabatnya lihat mata Regan memerah.
"Why?" Tanya Dawi.
Regan tersenyum pada ketiga kemudian menuju ruang tamu dimana Zaka sedang duduk.
Regan mengangkat tubuh ibunya ala bridal style kemudian berhenti sejenak.
"Terimakasih Dad, jangan lupa berkunjung ke rumah" kata Regan.
Zaka hanya mengangguk.
Sementara sahabatnya sudah semakin bingung dengan situasi yang terjadi.
"Bawa papa gue ya" kata Regan pada Sahabatnya.
Arexa yang melihat Regan yang akan pergi menghubungi anggota Qinlin untuk segera datang dan menjaga Regan hingga kondisi benar benar aman.
Pintu apartemen tertutup setelah Yogi keluar tak lupa mengucap salam.
"Zaid gimana mas?" Tanya Arexa yang duduk di sofa tak jauh dari tempat Zaka.
Zaka tersenyum "Tidak terlalu baik" jawab Zaka.
"Maksudnya? Mas udah ketemu Zahid kan?" Tanya Arexa.
"Sudah, dia sangat mirip dengan mu" kata Zaka.
"Terus? Bukannya dia ada pil penyembuhan?" Tanya Arexa yang masih bingung.
"Emm Jiwa Zahid ada di tubuh orang lain, Zahid akan membawanya pulang" Zaka kemudian menjelaskan secara rinci agar Arexa tak terbawa pikiran, sementara Zifa yang ada di sana menatap bingung pada pembicaraan orang tuanya.
"Maksudnya apa Mom? Kak Zaid baik baik aja kan? Terus pemuda yang datang tadi siapa?" Tanya Zifa, sedari tadi dia sudah ingin sekali bertanya namun melihat Regan yang membutuhkannya membuat ia mengurungkan niat.
Arexa yang di tanya malah melirik ke arah Zaka memintanya untuk menjelaskan.
"Emmm" Zaka menggaruk tengkuk bingung.
"Jadi Zifa sayang, Mommy kamu bukan orang biasa, dia orang kaya dan pemuda yang datang tadi adalah kakakmu yang hilang............." Zaka menjelaskan secara pelan seluruh apa yang ia sembunyikan selama ini, mulai dari dirinya dan Arexa yang orang kaya sampai pada cerita di mana Zahid yang hilang serta orang tuanya yang mengalami kecelakaan pesawat.
Zifa dengan tenang mencerna penjelasan Daddy nya yang kurang masuk akal, namun dalam hatinya sudah ada gemuruh yang siap ia luapkan.
"Jadi selama ini aku bertahan dari bully yang teman aku lakukan hanya sia-sia?"
"Ternyata Aku di bully di sekolah aku sendiri Dad!"
"Aku anak orang kaya hahaha" Zifa mengeluarkan beban dalam dirinya.
Sementara wajah Zaka sudah Merah padam mendengar keluh anaknya uang ia tak tahu.
"Kenapa kamu nggak bilang sayang?" Kata Zaka.
"Buat apa? Aku pikir Daddy nggak akan mampu buat ngatasin masalah aku, aku pikir Daddy hanya pekerja kantoran biasa yang kebetulan bisa tinggal di apartemen mewah ini" jawab Zifa kemudian tak berapa lama ia menunduk lalu terisak.
Zaka dengan rahang tegasnya berjalan mendekat ke arah Zifa lalu kembali mendekapnya erat. Melihat putri kesayangannya yang selalu ceria menangis, membuat Zaka juga ingin menangis.
"Ssshhht Udah sayang maafin Daddy ya?" Kata Zaka sambil mengelus surai berwarna coklat bercampur hitam itu, sangat unik.
Zifa tak membalas ucapan Zaka, tangan kecilnya ia gunakan untuk membalas pelukan Zaka di pinggang dan meluapkan seluruh perasaan yang ia alami selama ini.
"Semua hina aku dad"
"Mereka kunciin aku di toilet"
"Mereka siram aku pakai air pel"
"Mereka nggak ada yang mau berteman sama aku dad, mereka jahat" Adu Zifa.
"Shhht udah sayang jangan nangis lagi ya? Entar sekolah itu kita hancurkan biar nggak ada yang bisa sekolah di sana" kata Zaka menenangkan dan berhasil membuat Zifa berhenti.
Zifa melepas pelukan dan menatap tak percaya pada Zaka. "Di hancurin?" Kata Zifa, dan Zaka langsung mengangguk tanpa berfikir.
"Nanti aku sama kak Zaid sekolah di mana dad?" Kata Zifa.
"Kita bakal pulang ke Mansion, di sana ada asrama, nanti kalian belajar bareng Profesor" kata Zaka dengan santai.
"Terus sahabatnya kakak gimana?" Kata Zifa lagi.
"Ya di ajak lah" jawab Zaka dan kembali membawa Zifa kr pelukannya. "Udah nggak usah di pikirin" kata Zaka.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
See You ❣️