Arexa'S System

Arexa'S System
ZS~3(Gadis Kecil Lara)



...# Happy Reading #...


Di ruang ganti, Zifa sedang di hadang oleh seorang perempuan dengan dempul di wajahnya, dengan wajah datarnya ia memandang pada 3 orang di hadapannya.


"Heh centil nggak usah pepetin Zaid sama kawannya, gue ennek liatnya tau nggak" kata perempuan itu Yora.


Zifa hanya di memperhatikan tingkah laku perempuan itu.


"Jawab dong, dasar anak beasiswa belagu banget" lanjut Yora.


"Mukanya jangan sok sokan di datarin, entar aku timpuk pakai tembok beneran datar juga" Teriaknya.


'Lampir' pikir Zifa.


"Huh" dengus Yora kemudian pergi dari sana bersama antek anteknya, selama ini hanya itu yang di lakukan oleh orang orang yang suka membully mereka, walaupun ada beberapa yang bermain fisik namun Zifa masih dapat menahannya.


Setelah olahraga, semua siswa istirahat berbeda dengan kebanyakan siswa yang akan pergi bersama temannya, Zifa hanya berjalan seorang diri, ia kehabisan air mineral sehingga membuatnya terpaksa menuju kantin yang sedang ramai.


Kebetulan, di kantin juga ada Zaid bersama teman temannya.


Regan yang melihat kesempatan itu segera berdiri dan langsung menarik tangan Zifa tanpa persetujuannya mendudukkannya di kursi yang ada di sampingnya.


"Mau apa hmm?" Tanya Regan.


"Air" jawab Zifa datar.


"Bimo" nama yang Regan sebut langsung berjalan menuju stand penjualan membeli air botol.


Zaid hanya menatap adiknya itu "kamu nggak ada teman?" Tanya Zaid menaikkan sebelah alisnya.


"Ada, cuman lagi di kelas ngerjain catatan" jawab Zifa berbohong, seketika nada bicaranya melembut membuat siapapun mendengarnya akan langsung percaya.


Zaid mengangguk mengerti, sedangkan Regan sudah ingin melompat kegirangan mendengar suara indah Zifa.


Bukannya Zifa tak suka dengan Regan, hanya saja ia sadar bahwa levelnya dan Rega berbeda, serta ayahnya pun sudah mewanti-wanti Zifa agar tak pacaran.


"Kamu jangan coba coba pacaran Zifa, Daddy yang akan pilihkan laki laki terbaik buat kamu"


"Daddy nggak mau kamu sakit hati, makanya buat dinding di hati kamu mulai saat ini"


kata Zaka waktu itu, walau terdengar egois, namun Zifa mengerti apa yang Daddy posesifnya maksud itu.


Bimo datang dengan sebotol air dan langsung meletakkannya di hadapan Zifa. Belum sempat tangan Zifa mengambilnya, sudah lebih dulu di rebut oleh Regan dan langsung membuka tutupnya lalu kemudian kembali menyerahkannya pada Zifa.


"Makasih" kata Zifa Datar yang membuat Regan melebarkan senyumnya, laki laki bucin itu terus memperhatikan Zifa membuat seseorang yang ada di sudut kantin menatapnya tak suka.


...|Bigos 👁️👄👁️|...


...¹²'¹⁰...


Meisa


•Kumpul Yuk Gue balik nih dari Jerman


Hana


•Gas keun


Viana


•Gue ngikut


^^^Di mana?•^^^


Meisa


•Di Cafe depan perusahaan suami Rexa aja, Suami gue juga mau ketemuan sama Pak Gerald, katanya ada kerja sama.


^^^Boleh, ntar aku ngajakin Mas Zaka biar gampang ngurunya, nggak usah sama Gerald•^^^


Hana


•Jam Berapa woy


Meisa


• Jam 3 lah


Hana


•Oky


Viana


•Ok


^^^Yoi•^^^


Arexa menutup room chatnya dengan para sahabat SMA-nya.


"Mas, entar sore jalan jalan yuk" kata Arexa yang duduk di samping Zaka, keduanya sedang menonton drama Korea.


"Iya sayang" jawab Zaka masih serius dengan film Zombie di depannya.


_____________


Zahid baru saja bangun, jam di tempatnya tinggal berbeda dengan jam tempat tinggal Arexa.


Dengan wajah bantalnya ia menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya lalu berpakaian bersiap untuk sarapan bersama si tua bangka.


"Pagi Kek" kata Zahid kemudian mengambil duduk di kursi di sisi meja panjang itu.


Sewaktu usianya 5 tahun, Zahid terus menanyakan di mana ayah dan ibunya, namun Arendra menjawab keduanya telah tiada, hingga saat umurnya 15 tahun, Barulah Arendra berkata jujur dan memperlihatkan foto orang tuanya namun tak ingin memberi tahu di mana mereka tinggal.


Tentunya Zahid kecewa saat mengetahui itu, namun ia sudah terlanjur menyayangi kakeknya Arendra hingga tak bisa marah untuk waktu yang lama. Arendra juga menjanjikan jika pada usia 18 tahun ia akan di beri tahu tempat tinggal orang tuanya yang mana membuat Zahid menjadi senang.


"Pagi Son" jawab Arendra sambil memperhatikan gerak gerik Zahid cucu kesayangannya.


Sebenarnya saat menculik Zahid dulu, Arendra sudah berniat untuk melatihnya dengan keras agar dapat di jadikan pemimpin mafia terbesar di Eropa miliknya, namun setelah Zahid besar bersamanya rasa sayang dalam dirinya pada Zahid lebih besar dari cintanya pada kelompok mafia, hingga ia mengambil keputusan akan melepaskan Zahid pada usia 18 tahun.


Keduanya makan dengan hikmat, hingga tak lama dari arah luar terdengar suara seorang mencari Zahid.


"Kak Zahid, Lara Datang" teriak seorang perempuan dengan suara khasnya.


"Hahaha kekasihmu datang son" Arendra menangkap raut jelek wajah Zahid saat mendengar teriakan itu.


"Suruh dia pulang kek, bilang kalau aku nggak ada di rumah" kata Zahid lalu dengan terburu-buru menyelesaikan makanannya beranjak kembali ke kamar menyembunyikan diri.


Namun ekspektasi tak sesuai harapan Lara sudah ada di ambang dinding yang membatasi ruang makan dan ruang keluarga berdiri dengan bersedekap dada.


"Kak Zahid" Gadis kecil itu langsung bergelayut manja di lengan Zahid hingga membuatku risih sendiri.


"Bocil lepasin nggak" kata Zahid pada Gadis kepang dua itu.


"Nggak mau" kata lara "Kakak mau ke kamar kan? Aku ikut ya" kata Lara dengan tatapan nakalnya.


"Ngapain mau ikut?" Kata Zahid.


"Yak ngapain lagi kalau bukan itu" kata Lara dengan tatapan mesumnya.


"Hahahaha, Sabilah son" Ejek Arendra.


"Heh Bocil, lobang lo aja nggak muat gue masukin" kata Zahid vullgar.


"Kan bisa pake mulut kak, atau nggak pakai tangan, entar kalau aku dah besar bisa di masukin juga kali" kata Lara.


Gadis 12 tahun itu tetap kekeh ingin ikut bersama Zahid yang menurutnya sangat tampan.


"Yaudah, ntar lo gede baru gue ajakin ke kamar sekarang nggak boleh" kata Zahid membujuk, walau sebenarnya ia tak sungguh sungguh mengatakan itu.


Seketika mata gadis itu berbinar kemudian melepaskan dirinya dari Zahid.


"Beneran Ya, awas aja kalau bohong aku kutuk jadi emmmm kecebong" kata Lara mengetuk ngetuk dagunya dengan telunjuk.


Zahid hanya memutar bola matanya malas kemudian naik ke kamarnya.


"Lagi ngapain Kek?" Tanya Lara pada Arendra berbasa-basi.


"Ini lagi makan, kamu udah makan?" Kata Arendra.


"Udah" kata Gadis itu mengangguk.


"Kamu kenapa suka sama cucu saya?" Tanya Arendra.


Wajah gadi itu memerah, gadis yang baru mengenal pubertas itu menutupi wajahnya dengan rambut kepangnya.


Arendra menggeleng melihat kelakuan Lara, benar benar gadis belia, pikir Arendra.


"Karna kak Zahid Ganteng" kata lara tak lupa dengan senyuman di wajahnya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


See You ❣️