
...# Happy Reading #...
Dreet
Dreet
Bel apartemen berbunyi membuat semua arang yang ada di sana melihat ke arah pintu. Dengan cepat Zaid membukanya dan di luar ia bisa melihat seorang pemuda yang lebih tinggi sedikit dari dirinya.
Dor
Pemuda itu mengangkat senjata api yang ia pegang dan langsung menembak Dada kiri Zaid hingga peluru itu menembus tubuhnya mengenai paru-paru.
Kejadian begitu cepat hingga Zaka tak dapat mengantisipasi, dengan segera Zaka berjalan mendekat ke arah pemuda dengan seragam hitam itu.
Dor
Tembakan kembali terdengar, beruntung Zaka dapat menghindar.
Dor
Dor
Peluru dari senjata api itu mengenai kedua orang tua Regan dan langsung membuatnya meregang nyawa.
Sementara Regan terpaku menatap orang tuanya yang pergi dengan mengenaskan.
Arexa yang berada di dapur mendengar suara tembakan langsung menyembunyikan Zifa di dalam lemari Pendingin setelah mencabut aliran listrik.
Sampai di luar, ia terkejut melihat Zaid yang sudah terkapar dengan banyak darah, sementara Zaka sedang adu jotos dengan seorang berpakaian hitam.
Bukh
Bukh
Bunyi pukulan terdengar memenuhi ruangan, pemuda yang menggunakan masker yang menutupi wajahnya itu tak kalah lihai dalam beradu dengan Zaka.
Tak
Pistol yang terus pemuda itu arahkan pada Zaka akhirnya dapat tergeletak di lantai setelah Zaka menendang tangannya.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Arexa dengan sigap mengambil senjata itu.
Dor
Satu tembakan berhasil mengenai lengan pemuda itu hingga Zaka dapat mengalahkannya dengan mudah.
Setelah pemuda itu tak sadarkan diri kemudian di amankan dengan di ikat kedua tangan dan kakinya dan di letakkan di kamar mandi, untuk di interogasi di markas Qinlin.
Zaka dengan panik langsung berjalan ke arah Zaid yang terbaring lemas.
"Uhuk Dad itu sakit sekali" kata Zaid dengan mulut yang penuh darah nafasnya sudah terengah-engah.
"Sabar boy, kita ke rumah sakit sekarang" jawab Zaka dan langsung mengangkat tubuh Zaid meletakkan tangannya di lipatan lutut serta tengkuk Zaid.
"Sayang Aku pergi, jaga diri baik-baik, jaga Zifa juga" teriak Zaka sebelum benar-benar pergi.
Arexa menghubungi Fatah, Wakil ketua Qinlin saat ini mengganti Leon dan Vano, untuk datang ke apartemennya.
Saat akan menyusul Zaka, Pandangannya malah di alihkan oleh Regan yang terdiam seperti patung. Akhirnya ia memilih untuk mendekat ke arah pemuda yang tengah mengalami guncangan hebat pada jiwanya.
Arexa berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, sambil menyempatkan diri membuka lemari pendingin di mana Zifa sedang melipat lututnya.
"Keluar lah" kata Arexa.
"Kenapa mom?" Tanya Zifa melihat raut wajah Arexa yang terlihat pancaran sedih di matanya.
"Ikut mommy, mommy akan menjaga mu" Arexa kemudian berjalan ke ruang tamu di mana Regan masih dengan posisi yang sama.
Zifa yang melihat banyak darah di ruang tamu langsung ingin muntah, namun saat ia melihat Regan yang seperti tak ada semangat hidup, hatinya malah berdenyut nyeri.
Arexa yang sudah ada di depan Regan menyerahkan air minum padanya, namun bukannya Regan mengambilnya, ia malah menarik lengan Zifa dan memeluknya kemudian terisak di ceruk leher Zifa.
Baik Zifa dan Arexa hanya membiarkannya pemuda yang biasanya dingin itu menangis meraung raung bak anak kecil.
Dret
Dret
Bel apartemen kembali berbunyi, dengan tingkat waspada tinggi, Arexa melihat ke monitor yang ada di dinding menampilkan orang yang ada di luar.
Deg....
Jantung Arexa berpacu dengan cepat.
"Zahid?" Gumam Arexa kemudian berjalan dengan cepat membuka pintu.
Ceklek, pintu terbuka.
Pemuda yang ada di luar langsung menatap Arexa dengan mata berkaca-kaca, orang yang selama ini hanya mampu ia lihat di foto sudah ada di hadapannya.
"Mom?" Dengan suara bergetar Zahid menghambur pelukan pada Arexa.
"Zahid?" Tanya Arexa membalas pelukan.
Zahid yang mendekap Arexa menggangguk semangat. "Aku pulang mom" kata Zahid.
Dor
Tembakan itu di arahkan pada Regan, namun bukan Regan yang kena, melainkan Zifa, Zifa yang sedang di peluk oleh regan melihat si penembak hingga ia memutar tubuhnya dan tembakan mengenai punggungnya.
"Zi-Zifa?" Regan berkata dengan suara lirih.
Dor
Sebuah peluru langsung menembus kepala penembak itu.
Zahid yang mendengar suara tembakan langsung mengambil pistol yang selalu ia bawah di sakunya dan langsung melepas peluru.
Zahid berjalan cepat ke arah Zifa yang ia yakini adiknya, mirip dengan foto yang Arendra berikan.
Zahid langsung menarik Zifa yang masih di peluk oleh Regan kemudian melakukan tindakan pertolongan.
Arexa ikut membantu Zahid, lebih tepatnya Arexa mengambil alih pertolongan.
Setelah membalikkan tubuh Zifa, Arexa bisa melihat peluru yang untungnya mengenai tulang punggung sehingga tak tembus sampai organ dalam.
Tanpa alat bantu, Arexa mencabut peluru itu.
"Minum kan pil nya" perintah Arexa.
Seolah paham, Zahid meminumkan Zifa pill penyembuhan yang di belinya dari system.
Zifa yang sudah merasa baikan kembali terlelap di pangkuan Arexa.
Regan kembali terdiam meratapi wajah teduh Zifa yang tertidur.
Zahid baru sadar kondisi apartemen yang penuh dengan darah serta ada dua orang yang sudah terkapar di lantai dekatnya.
"Ini apa yang terjadi mom?" Tanya Zahid.
Arexa menceritakan secara singkat kejadian yang baru saja terjadi.
"Sekarang mereka di mana?" Tanya Zahid merujuk pada Zaid dan Zaka.
"Mereka ke rumah sakit" jawab Arexa.
Dret
Dret
Bel apartemen kembali berbunyi, setelah di pastikan yang datang adalah Fatah bersama beberapa anggota, Zahid membuka pintu atas perintah dari Arexa.
Fatah yang baru pertamakali melihat Zahid menatapnya curiga, sedangkan yang di tatap hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Apa?" Kata Zahid dingin.
Fatah masih memicingkan mata curiga.
"Dia anakku yang hilang Fatah" kata Arexa.
Fatah langsung membungkuk meminta maaf pada Zahid, sedangkan Zahid hanya berdehem pelan.
"Urus mayat itu" kata Arexa.
"Baik Queen" kata Fatah.
Fatah bersama anggota Qinlin lainnya berjalan membereskan mayat pelaku penembakan yang sudah tak bernyawa.
"Tunggu" kata Regan saat kantong mayat itu akan di tutup oleh seorang anggota Qinlin.
Regan berjalan mendekat ke arah kantong mayat. "Saya ingin melihat wajahnya" kata Regan.
Fatah melirik ke arah Arexa meminta persetujuan, setelah melihat Arexa menggangguk, Fatah memberi perintah untuk membukanya.
"Rama?" Gumam Regan saat melihat wajah penembak. Seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat, Regan kembali memfokuskan pengelihatannya pada mayat itu, dan hasilnya tetap sama, orang itu adalah Rama orang yang ia kenal.
Regan bersimpuh dengan kedua lututnya menatap tak percaya pada kantong mayat.
Melihat Regan yang sudah tak berkomentar, Fatah menyuruh anggota Qinlin untuk menutup kantong mayat.
Saat akan melanjutkan membereskan mayat Sean dan Kaila, Regan melarangnya.
"Biar saya yang mengurus mayat orang tua ku" kata Regan.
Fatah kembali meminta persetujuan Arexa. Dan Arexa kembali memberi persetujuan.
Tanpa berkata apapun para anggota Qinlin dengan santainya membawa kantong mayat itu menuju parkiran untuk di buang.
Zahid membawa Zifa yang terlelap ke kamar tamu, lalu berpamitan pada Arexa untuk menemui Zaka di rumah sakit.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Author nggak niat gantungin, cuman emang babnya belum selesai, dan hari ini cuma mampu 2 bab, karna orang tua author lagi panen.
maaf yee kurang satu bab
See You ❣️