
...# Happy Reading #...
Saat ini Zaka telah berada di mall bersama beberapa bodyguard yang akan bertugas mengangkut barang belanjaannya, dan tak lupa bayi yang masih berwarna merah di gendongannya siapa lagi kalau bukan si putri kecilnya Zifa.
Sebenarnya Arexa melarang Zaka untuk membawa si kecil yang masih belum berumur sehari itu, namun Daddy posesif itu tetap ngotot ingin membawa anak tersayangnya walau sudah di ancam oleh Arexa.
-Drama Kamar Arexa-
'Mas jangan di bawa Zifa-nya, kasihan dia nanti demam, dia juga belum terlalu kuat buat jalan jalan di luar' kata Arexa waktu di mansion.
'issh nggak mau sayang, ntar ada yang gendong aku nggak mau ya' balas Zaka.
'Mas dengerin aku deh, kalau tetap mau bawa, nanti malam nggak boleh jenguk tubuh aku ya' ancam Arexa.
'Yaudah nggak usah, kalau kamu mau jadi istri berdosa ya nggak apa-apa, ingat ya sayang nanti kebanyakan penghuni neraka tuh perempuan, emang nggak takut kalau kamu salah satunya? Entar aku murka, terus aku berdoa sama tuhan biar kamu di laknat karna nggak nurutin kata suami, nolak keinginan suami mau?' balas Zaka.
'kok mas jadi ceramah sih?, Pokoknya anaknya nggak boleh di bawa!' kata Arexa.
'Aku bakal jagain kok, nggak mungkin aku mau menyalakan anak aku sayang" jawab Zaka kemudian memberi Arexa pompa asi serta sebuah botol untuk menampung asi Arexa.
'Aku nggak mau Mas' tolak Arexa pada benda yang di sodorkan padanya.
'Yaudah biarin aja Zifa kelaparan' kata Zaka.
'ishhh' Arexa mendesis sebelum akhirnya mengalah dan mulai menyedot asi miliknya dan memasukkannya ke sebuah botol hingga penuh agar asi itu tetap hangat dan tak mudah rusak.
-End Drama Kamar-
Kini Zaka telah sampai di tempat Furniture bayi masih dengan menggendong Zifa, Zaka berkeliling melihat banyak perabotan bayi di sana, mulai dari alat maka, Ayunan, keranjang bayi, mainan bayi, kereta bayi dan masih banyak perabotan yang berhubungan dengan bayi.
Banyak ibu hamil serta ibu muda yang melihat Zaka dan anaknya.
Seorang ibu hamil berjalan mendekat kearah Zaka yang sedang memilih ayunan untuk Zifa.
"Wahh papanya cool banget, anaknya juga manisnya nggak ada obat" kata Ibu itu, tangannya sudah sangat dekat dengan pipi merah baby Zifa.
Plak
Zaka memukul tangan ibu hamil itu.
"Jangan sentuh anakku" kata Zaka dingin. "Huh" dengusnya kemudian berjalan menjauh meninggalkan ibu hamil itu yang masih bengong atas tindakan Zaka.
Zaka berjalan menuju kasir. "Aku mau beli semua perabotan untuk bayi perempuan tapi tidak dengan warna merah muda" kata Zaka to the poin.
"Emm maaf pak? Bisa di ulang" kata si kasir dengan ragu.
"Aku beli semua perabotan untuk bayi perempuan tapi tidak dengan warna merah muda" ulang Zaka.
"Ah, baik pak" kata si resepsionis.
Seorang bodyguard yang dari tadi ikut bersama Zaka berjalan mendekati tuannya yang sadang menatap anaknya yang sedang tertidur dengan binar.
"Maaf tuan, barang untuk tuan muda kecil tidak sekalian di beli?" Katanya dengan takut.
"Tentu kita akan beli" kata Zaka.
Tanpa Zaka sadari bodyguard itu menghela nafas lega.
"Saya juga akan membeli 1 ayunan besar untuk bayi laki-laki" kata Zaka pada penjaga kasir.
"Satu? Bukannya di mansion ada dua tuan muda kecil?" Gumam bodyguard yang masih dapat di dengar Zaka.
"1 untuk berdua, lagipula mereka masih kecil" kata Zaka tanpa beban.
'wahh tuan pilih kasih sama anaknya' pikir bodyguard yang tak berani ia keluarkan.
Setelahnya Zaka keluar dari toko itu meninggalkan seorang bodyguard yang akan mengurus pengiriman ke Mansion, kemudian berjalan menuju toko yang menjual banyak pakaian anak perempuan.
Zaka tanpa melihat baju yang banyak tersusun di sana, langsung saja berjalan menuju kasir untuk melakukan pembelian.
Toko yang Zaka kunjungi merupakan toko brand ternama bayi karena selain dari segi penampilan yang membawa kesan bayi royal, pakaiannya juga berbahan sangat nyaman untuk kulit sensitif bayi.
Zaka kembali menyerahkan urusan pengiriman pada salah satu bodyguard yang ikut, kemudian berjalan menuju restoran.
"Anda tidak membeli pakaian untuk tuan muda kecil Tuan?" Tanya bodyguard yang tadi bertanya.
"100 pasang pakaian anak laki-laki" kata Zaka pada petugas toko.
"Baik pak, ada request untuk warna dan model" kata petugas itu.
"Tidak ada, saya hanya mau 100 pasang pakaian bayi" kata Zaka.
"Baik pak, kami akan segera mengambilnya secara random" kata petugas itu.
'Njr kalau anak laki-lakinya pake perhitungan' pikir bodyguard.
Setelah kembali memberi perintah pada seorang bodyguard untuk mengurus pakaian bayi itu, Zaka berjalan menuju restoran untuk mengisi perutnya dan perut si bungsu.
Karena tak ingin anaknya yang manis itu menjadi pusat perhatian, Akhirnya Zaka memesan private room yang ada di sana.
Setelah memesan makanan, ia membuka tas yang di bawakan oleh seorang bodyguard, tas yang berisi asi cadangan di sana.
Zaka membuka botol asi, kemudian memasukkannya kedalam dot setelahnya memberikan pada putrinya yang sudah terjaga di gendongannya.
Mata kecil putrinya itu mengerjap pelan tubuhnya yang terbungkus membuat tangan dan kakinya yak dapat dilihat pergerakannya.
Sesekali bayi itu terlihat tersenyum walau tak di ajak berbicara sekalipun.
"Uhh jangan senyum sayang, manismu merembes kemana mana" kata Zaka pada putrinya kemudian mencium dengan pelan pipinya.
Bayi itu malah semakin melebarkan senyumnya dengan mata yang tertutup. "Nanti kalau udah besar pasti kamu bakalan jadi rebutan anak cowok nak, hehehe nanti Daddy yang bakal pilih cowok buat kamu, jadi jangan coba-coba buat pacaran" kata Zaka.
"Cowok kamu harus lebih kaya dari mommy terus kekayaannya berada di atas kakinya sendiri, emm dia juga punya banyak kekuasaan seperti Daddy, tentunya harus lebih tampan dari Daddy dan yang paling utama dia mencintaimu bukan karena fisikmu" lanjut Zaka.
Sementara seorang bodyguard yang ikut masuk keruangan hanya menatap jengah pada tuannya itu. Namun pikirannya sudah kemana-mana 'Emang ada pemuda kayak gitu? Kalau om om sih ya ada, tapi kayaknya udah nggak tampan'
Tak lama datanglah pelayan mengantarkan makanan pesanan Zaka.
Zaka memulai makanannya dengan Zifa yang masih nyaman di pangkuannya, sesekali Daddy posesif itu memperbaiki dot si kecil yang bergeser dari mulutnya.
Selesai makan, putrinya juga telah kembali terlelap, akhirnya Zaka mutuskan untuk pulang, dibantu oleh bodyguard untuk membereskan peralatan makan baby mungil itu.
Dreeeet
Ponsel Zaka yang sedang mode silent bergetar di sakunya, tanpa menunggu si kecil, Zaka mengangkat telfon dari Arexa.
"Halo sayang"
-Mas lagi dimana?- kata Arexa
Zaka menaikkan sebelah alisnya mendengar suara Arexa yang terdengar panik.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Zaka dengan suara kecil agar tak mengganggu Zifa.
-Hiks, Mas pulang sekarang Zahid hilang-
Deg....
"Jangan nge prank sayang nggak lucu" elak Zaka.
-Maafin aku mas, Hiks Zahid beneran hilang mas-
"Udah jangan nangis lagi, aku oulang sekarang" kata Zaka.
-Iya mas Hati-hati-
Tut
Zaka segera berdiri dari duduknya, kemudian tanpa kata akhirnya ia menuju mansion dengan sejuta perasaan cemas.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Heheh, Loh kok Zahid bisa ilang? Ada apa nih? Arexa lagi nge prank mungkin :-)
Author tau, di gantung nggak enak, seperti perasaan author yang sedang di gantung seseorang benar-benar nggak enak, harusnya kalau nggak mau ya langsung tolak aja, nggak usah boro-boro mau ngomong pikir dulu lah, minta ijin sama kakak dulu lah, orang tua lah, hehehehe.
See You Besok ❣️