
...# Happy Reading #...
Pagi hari, Zahid yang masih menjaga tubuh Zaid bangun saat merasa tubuhnya di goyangkan.
"Bangun sayang udah jam 9 nih" kata Arexa dengan lembut.
Zahid yang memang lelah melakukan perjalanan panjang dan saat sampai harus menjaga Zaid akhirnya bangun dengan sangat terpaksa.
"Mom?" Kata Zahid mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Bangus sayang udah pagi nih" kata Arexa.
"Hmm" kata Zahid dan akan kembali merajut mimpinya, namun Daddy posesifnya dengan tega mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
Bruk
Auhhhs
Pekik Zahid dan seketika kesadaran mulai terkumpul, dengan linglung akhirnya ia kembali duduk di sofa menatap Zaka yang juga menatap dirinya dengan angkuh.
"Kayak anak perawan aja, bangunnya lama banget" cibir Zaka.
"Emang bukan anak perawan tapi anak perjaka" kata Zahid.
"Emang masih perjaka kamu?" Kata Zaka menaikkan sebelah alisnya.
"Pastilah" jawab Zahid dengan bangganya.
"Buktinya mana?" Tentang Zaka.
"Emang kalau udah nggak perjaka ada tandanya ya dad?" Tanya Zahid bingung.
Sementara Arexa sudah membawa Zifa menjauh dari pembicaraan Vulgar dua orang itu. Zifa hari ini izin tak masuk sekolah, atau lebih tepatnya tidak masuk sekolah tanpa pemberitahuan.
Zaka berjalan mendekat kemudian duduk di samping Zahid. "Kalau perjaka keluarnya cepat" Zaka berbicara dengan suara rendah.
"Terus?" Kata Zahid lagi.
"Yaudah sana coba masuk kamar mandi senam lima jari sambil videoin nanti Daddy nilai" kata Zaka.
"Nggak" tolak Zahid.
"Lah tadi katanya mau di buktiin" kata Zaka.
"Bodo amat, Daddy percaya ataupun nggak sama aja" jawab Zahid ketus, sementara Zaka hanya terkekeh hampir saja ia berhasil mengerjai anaknya yang ternyata masih polos.
"Nggak mau cerita gitu selama ini sama siapa aja? Dan tinggalnya di mana?" Tanya Zaka.
"Nanti aja deh kalau Zaid udah balik" kata Zahid.
"Cerita aja, nggak usah nungguin Zaid, paling tuh anak baik baik aja" kata Zaka.
"Kalau dia nggak baik gimana dad?" Tanya Zahid.
"Halah dia pasti baik kok, dia itu anak cowok" kata Zaka. "Sayang sini, Zahid mau cerita" kata Zaka tanpa persetujuan Zahid.
Sementara Zahid hanya pasrah saat melihat Arexa yang tadinya berada di dekat Zaid bersama Zifa sedang berjalan mendekat.
Ketiga orang itu sudah duduk di sofa menunggu Zahid bercerita.
"Jadi apa yang daddy mau tau?" Tanya Zahid.
"Kamu tinggal di mana selama ini dan sama siapa?" Tanya Zaka serius.
"Tinggal di Itali, bareng orang yang culik aku" jawab Zahid.
"Siapa? Siapa yang culik kamu?" Tanya Arexa penasaran.
"Emm nanti kalau dia datang berkunjung pasti mommy tau" jawab Zahid "yang pasti dia baik sama aku, dia juga sayang sama aku, jadi kalau dia datang aku harap mommy sama Daddy mau maafin dia" lanjutnya dengan senyum yang terpasang di wajahnya.
"Kita liat aja nanti, kalau dia datang Daddy duluan yang bakal bejek bejek (semacam di ulek) dia" kata Zaka percaya diri.
"Iya kalaupun Daddy berani" sajut Zahid.
"Mau taruhan?" Tantang Zaka.
"Mau! Dad mau apa dari aku?" Tanya Zahid.
Zaka nampak berfikir, dan seketika matanya jadi terang. "Apapun yang daddy minta di beliin dari system kamu harus turutin semuanya" kata Zaka.
"Oke, tapi kalau aku yang menang Daddy mau kasi apa?" Tanya Zahid yang langsung setuju.
"Kamu mau apa?" Tanya Zaka.
Seringai lebar langsung terlihat di wajah Zahid 'Kena kau Dad'
"Aku mau tidur bareng Daddy kalau malam Jum'at dan malam Minggu aku bakal tidur bareng mommy tanpa Daddy, selain itu aku juga mau Daddy nggak ngelarang aku peluk Zifa sama Mommy" kata Zahid.
"Nggak" tolak Zaka. 2 malam puasa dia tidak akan mampu, selam ini Arexa tak pernah mengalami siklus menstruasi karena minum pil penyembuhan hingga Zaka tak pernah puasa.
"Wahh Daddy takut" kata Zahid memancing.
"Biarin bleeek" Zaka menjulurkan lidahnya bak anak kecil.
"Huss sana kamu, cari Zaid bawa dia pulang cepat" usir Zaka.
"Yee dad mengalihkan pembicaraan" kata Zahid.
"Gak peduli" kata Zaka, "Sana cari adek kamu" lanjutnya.
Huffft
Zahid berdiri dengan malas "Kunci apartemen Dad aku mau ganti pakaian dulu, koper aku ada di sana" kata Zahid menjulurkan tangan pada Zaka.
Zaka mengeluarkan dompetnya mengambil sebuah kartu berwarna hitam di sana "cepat ya" kata Zaka.
"Iyaa" Jawab Zahid. "Aku pergi dulu mom" Zahid mengambil tangan Arexa dan menciumnya kemudian berganti pada Zaka.
Terakhir Zahid berdiri di hadapan Zifa. "Emang cantik sih, nggak salah kalau Daddy posesifnya minta di tabok" kata Zahid kemudian mengusap kepala Zifa.
Zaka melihat itu mendelik tak suka, ia terus menatap Zahid seolah akan menerkamnya.
"Makasih kak" kata Zifa agak canggung tersenyum manis.
Cup
Kecupan mendaratkan di kening Zifa seketika Zaka melonjak akan memukul Zahid namun anaknya itu sudah lebih dulu kabur.
"Zahid!" Teriak Zaka.
_______________
Zaid yang bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis cantik yang ia ketahui namanya adalah Ayora Maggie Gyllenhaal anak dari pengusaha kaya.
Cerita hidup Ayora sama persis atau bahkan Zaid curiga bila penulis buku itu adalah orang yang pernah melihat kehidupan Ayora.
Cerita bawang putih dan bawang merah, dimana Ayora hidup sebagai bawang merah, hidup tertindas oleh seorang janda beranak satu yang menikah dengan ayahnya.
Sementara sang ayah yang sibuk bekerja tak tahu bila anaknya hidup di neraka yang di buat oleh istrinya.
"Yora! Dimana kamu" teriak seorang dari dapur, dia adalah Megan anak si janda.
Zaid yang sedang menjadi Yora dengan malas menuju dapur, dan di sana ia bisa melihat Megan tengah menatapnya tajam.
Zaid menaikkan sebelah alisnya tanda bertanya.
"Mana sarapan pagi gue!?" Tanya Megan.
Zaid menaikkan bahunya tak tahu.
Melihat itu megan menatapnya tak percaya dengan segera ia berdiri dan dengan marah menampar wajah putih Ayora.
Plak
"Berani kamu sama saya?" Megan menunjuk wajah Ayora.
Sementara raut wajah yang Ayora/Zaid tampilkan hanya datar, sebenarnya agak perih ia rasakan di pipinya namun ia sadar bahwa ia seorang pria tak semestinya memukul perempuan.
"Ngapain diam hah?" Megan berteriak marah di hadapan Zaid.
Seketika Zaid berlari ke wastafel saat mencium bau tak sedap dari mulut Megan.
Setelah menyelesaikan urusannya ia kembali kehadapan Megan yang menampilkan wajah yang semerah tomat karena kesal.
"Kamu kenapa?" Tanya ketus Megan.
"Mulut mu bau" dengan suara lembutnya Zaid berkata demikian.
Megan melototkan matanya "Ka-Kau mengatai ku?" Telunjuknya pada Zaid.
Tangannya akan kembali menghantam wajah mulus Ayora namun Zaid menahannya, setidaknya ia akan menjaga tubuh ini sampai ia menemukan cara untuk kembali ke tubuhnya.
"Jangan menggangguku lagi" kata Zaid dan berjalan menuju kamarnya, di perjalanan ia melihat ibu tirinya yang baru saja tiba di ujung tangga.
"Mau kemana kamu?" Kata ibu tiri dengan ketus.
"Kamar" jawab Zaid singkat.
"Kamar? Emang pekerjaan kamu udah selesai?" Kata Ibu Tiri dengan Sinis.
"Nggak" jawab Zaid dan tak melanjutkan perdebatan lagi.
Ibu tiri yang melihat zaid akan pergi langsung menarik rambut indahnya.
"Berani kamu sekarang hah?" Bentak ibu tiri.
Zaid memegang tangan ibu tiri itu karena ia merasa perih di kepalanya. Zaid menariknya dan menyentaknya agar terlepas berakhir dengan ibu tiri yang terduduk di lantai.
"Jallang" kata Zaid dingin dengan suara lembut Ayora. Kemudian benar benar pergi dari sana meninggalkan ibu tiri yang menatapnya tak percaya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Woe ini cerita buriq nggak suka tinggalin aja hehehe, maaf ye sebenarnya Author juga nggak tau kenapa bisa ceritanya sampe sini, karna selama author nulis cerita nggak pernah buat pohon alur 😅 maaf kalau ceritanya jelek.
See You ❣️