Arexa'S System

Arexa'S System
Ekstra Part S1



...# Happy Reading #...


1 Tahun berlalu............


"Sayang handuk aku" Teriak Zaka dari dalam kamar mandi.


Arexa yang sedang duduk di sisi ranjang sembari menyusuii si kecil Zidan segera melepas mulutnya.


Bayi gembul dengan mata bulat sempurna itu memandang Arexa dengan tanya.


Arexa berjalan sambil membawa handuk untuk Zaka.


"Kebiasaan kalau mandi lupa bawa handuk, kenapa nggak keluar tanpa baju aja sekalian" kata Arexa sambil menyerahkan handuk di tangannya.


"Aku sih mau-mau aja sayang, tapi takut khilaf, apalagi kalau babynya nggak bobok" kata Zaka.


Zaka kemudian mendekat ke arah ranjang di mana Zaid masih terjaga dengan mata bulatnya.


"Halo Zaid, lagi apa anak Daddy?" Kata Zaka.


Zaid tersenyum menanggapi tangannya bergerak meraih handuk Zaka yang di sambut zaka dengan menggendongnya.


Zaka kemudian mengangkat Zidan tinggi sehingga perut Zidan berada di hadapan Zaka, dengan gemas Zaka mencium perut bayi itu hingga membuatnya terbahak.


Tanpa terasa, baik Arexa maupun Zaka menahan tangis yang siap keluar dari matanya.


Arexa berjalan ke arah Zaka kemudian memeluknya dari belakang, Zaka berbalik menyambut pelukan Arexa sedangkan Zidan sudah berada di lengan kanannya.


"Udah setahun sayang, aku juga belum tau di mana anak aku, Zahid" kata Zaka dengan suara lirih.


"Maaf Mas, ini semua gara-gara aku" kata Arexa.


Zaka tak membalas, Arexa terus menyalahkan dirinya sehingga Zahid bisa hilang, namun tak sekalipun Zaka menyangkalnya.


"Udah Gpp yang penting kita usaha terus buat cari dia" kata Zaka. "Coba liat statusnya sayang" lanjut Zaka.


Selama setahun, mereka bertahan akan pencarian Zahid karena status Zahid yang di tampilkan oleh system masih hidup.


Arexa tak tahu apakah Zaid hidup nyaman atau tidak, karena system hanya menampilkan status bahwa Zahid hidup.


[Status


Nama : Zahid Arzafi Putra Dalzaka Vocanicoxa


Umur : 1 Tahun


Hidup ]


Dan hanya itu yang dapat system tampilkan, namun walau hanya itu, setidaknya pencarian mereka masih bisa di harapkan.


Dreet


Dreet


Bel apartemen berbunyi sehingga Arexa dan Zaka melepas pelukan mereka.


"Aku liat dulu ya sayang" kata Zaka kemudian menyerahkan Zaid pada Arexa lalu mengambil kaosnya di atas ranjang di mana Zifa masih terlelap.


Zaka membuka pintu apartemen dan bisa ia lihat Jonathan sudah ada di hadapannya.


"Bagaimana?" Tanya Zaka.


"Maaf Bos ka-"


"Tidak ada kalimat lain yang bisa kamu berikan?" Tanya Zaka dengan kesal. Setiap Minggu Jonathan akan datang ke apartemen untuk membawakan informasi pencarian.


"Maaf Bos" kata Jonathan.


"Lakukan pencarian hingga luar negeri" kata Zaka "Prioritas kita saat ini menemukan anakku, aku tak mau tau kerahkan seluruh anggota untuk menemukannya tak peduli berapa banyak biaya yang di butuhkan, aku akan menanggung semuanya" kata Zaka.


"Tapi bos, saya curiga kalau orang yang membawa tuan kecil bukan orang sembarangan" kata Jonathan.


"Aku juga berpikir seperti itu Jon, tapi siapa? Selama kalian terbentuk belum ada kita bermasalah dengan siapapun" kata Zaka.


"Mungkin Nona Arexa?" Kata Jonathan.


"Sudah ku tanyakan tapi dia pikir juga tak ada" elak Zaka. "Sudah tak usah memikirkan itu, kembali lakukan pencarian sebaik mungkin" kata Zaka.


"Baik bos" kata Jonathan kemudian pergi dari sana.


Setelah pintu tertutup, tak lama saat Zaka sudah akan menginjakkan kaki di tangga, bel kembali berbunyi, bersamaan dengan itu Arexa muncul dari ujung tangga.


"Mas gendong Zaid dulu dong, Zifa udah bangun, aku mau nyusin dia dulu" kata Arexa.


Zaka melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua kemudian mengambil Zidan ke gendongannya. Lalu dengan malas turun membuka pintu karena tamu tak di undang itu terus saja menekan bel.


Ceklek


Pintu terbuka di luar Zaka bisa melihat Gerald yang sedang menyingir.


"Siang bos" kata Gerald.


Zaka tak menghiraukan Gerald namun fokusnya tertuju pada seorang perempuan di belakangnya.


"Masuk" kata Zaka kemudian duduk di sofa bersama Zidan yang ia dudukkan di pangkuannya, bayi itu menyesap ibu jari Zaka.


"Ngapain?"Tanya Zaka dengan malas.


"Ketus banget bos, kita cuma mau bawa ini" kata Gerald menyerahkan sebuah undangan dengan senyum sumringah.


"Ohh, Yaudah sana pulang" kata Zaka.


"Mas kok ngomongnya gitu?" Kata Arexa yang sedang berjalan turun bersama Zifa dan langsung berjalan menuju ruang tamu.


"Iya Non" jawab perempuan yang datang bersama Gerald.


"Selamat ya kak" kata Arexa.


Perempuan itu dengan canggung menggangguk, sedari tadi ia menunduk menghindari tatapan Zaka yang seolah dapat membunuhnya.


"Datang ya Bro, kita reuni bareng aku juga udah undang Yaksha sahabat lama, sekarang dia tinggal di Rusia sama istrinya" kata Gerald mengganti panggilan bos-nya.


"Hmmm" sahut Zaka.


"Yaudah gitu aja, entar kalau aku lama lama di sini bisa-bisa gagal nikah aku kalau calon istriku masuk rumah sakit karena sesak" kata Gerald.


"Nggak mau makan dulu?" Kata Arexa mengajak.


"Nggak deh, nasi kalian aja belum masak sok sokan mau ajakin makan" kata Gerald yang sebenarnya bercanda namun tepat sasaran.


"Gerald!" Geram Zaka.


"Yaudah aku pamit ya, jangan lupa datang" kata Gerald beranjak menggandeng tangan Perempuan yang datang bersamanya.


"Aku duluan ya Rexa, jangan lupa datang" kata perempuan itu.


"Iya Kak" Jawab Arexa.


Setelah kepergian tamunya, Arexa menyerahkan Zifa pada Zaka dan langsung berkutat di dapur menyiapkan sarapan paginya.


Sementara Zaka asik dengan kedua anaknya, sesekali ia menatap mereka dengan pancaran rindu, rindu akan kehadiran Zahid.


"Makan Mas" panggil Arexa dari dapur.


Zaka menggendong kedua anaknya dan membawa mereka ke dapur kemudian meletakkan Keduanya di kereta milik masing-masing.


Sambil makan Zaka menyuapi Arexa sedangkan Arexa menyuapi bubur pada anaknya secara bergantian.


Begitulah keseharian mereka selama setahun ini.


____________


Seminggu kemudian, Akhirnya pernikahan Gerald di langsungkan, ballroom hotel yang sudah ia pesan telah di hias dengan sedemikian rupa banyak tamu undangan dari para sahabat Geral.


Zaka, Arexa dan Kedua Anaknya melangkah anggun di atas karpet merah, keluarga itu kompak menggunakan pakaian yang sama.


Zaka menggendong Zifa yang menggunakan dress mini semotif dengan Arexa, sementara Arexa menggendong Zidan yang menggunakan jas kecil.


Seorang bersama wanita cantik yang sedang hamil berjalan mendekati mereka.


"Yo bro, gimana kabarnya?" Kata orang itu mengulurkan tangan.


Zaka menyambutnya mereka saling memeluk dengan Zifa yang terapit tubuh besar keduanya.


Pria yang menyapanya merupakan sahabat baiknya saat kuliah di luar negri.


"Baik, Kamu?" Balas Zaka dengan ramah.


"Sejahtera, hahaha" balasnya.


Zaka mendorong pelan bahu sahabatnya itu karena takut Zifa yang ada di gendongannya.


"Ups maaf bro" kata pria itu.


"Beneran udah tinggal di Rusia?" Tanya Zaka mengalihkan topik.


"Iya, ikut istri, dia nggak suka tinggal di sini karena ada trauma sama indo, tapi karena lagi hamil jadi aku bawa" kata Pria itu.


"Sini sayang" lanjutnya memanggil seseorang wanita hamil yang berada tak jauh di belakangnya.


"Istri aku, namanya Gia" kata pria itu.


"Gia" kata gia mengulurkan tangannya pada Zaka.


"Zaka, yang ini Arexa istri Aku, sayang ini namanya Yaksha" kata Zaka menyambutnya.


"Hai" kata Arexa.


Yaksha memperhatikan Arexa dengan kening berkerut memindai wajahnya. Melihat itu, Zaka menjadi tak suka.


"Kenapa?" Kata Zaka.


"Kayak pernah ketemu, tapi aku lupa di mana" jawab Yaksha.


"Mungkin perasaan kamu aja" balas Zaka.


"Iya, mungkin, ehh Btw anak kamu kembar ya?" Kata Yaksha.


"Emm, mereka kembar" kata Zaka.


"Wihh tokcer, entar kalau gede nikahin sama anak aku ya" kata Yaksha mengelus perut Gia.


"Laki, cewek?" Tanya Zaka.


"Cewek" sahut Yaksha.


"Yaudah kalau jodoh sih ya gpp tapi kalau bukan ya nggak bisa di paksa" kata Zaka.


Sementara Arexa dan Gia sudah saling mengobrol seolah mereka pun teman lama.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


See You ❣️