Arexa'S System

Arexa'S System
Arexa's System~43



...# Happy Reading #...


Zaka masuk kedalam mansion dengan langkah tegasnya rahangnya sudah benar-benar sekeras batu, wajahnya memerah menahan kesal.


Zaka berjalan kearah ruang keluarga, di sana ia bisa melihat Arexa tengah meraung-raung tangisnya terdengar menyayat hati.


Sedangkan Zaid sudah berada di gendongan kak ipe.


Deg


Deg


Jantung Zaka berpacu dengan cepat, langkahnya kian membesar matanya sudah merah menahan air yang akan keluar dari sana.


Tanpa mempedulikan sifat posesifnya lagi, Zaka memberikan Zifa pada Cece yang juga ada di sana bersama Ardan yang sedang berada di kereta bayi.


Grep


Tanpa suara, Zaka langsung mendekap tubuh istrinya yang terlihat sangat putus asa.


"Hiks Mas maafin aku, maaf mas hiks" Arexa terus meraung kata Maaf di dada Zaka, sambil terus memukul dada suaminya itu.


Zaka hanya terus diam, sebenarnya saat sampai tadi ia sudah ingin meluapkan amarahnya karena kabar yang kurang sedap di telinganya, namun melihat Arexa yang juga sangat terpuruk membuat dirinya harus menahan diri.


Tangan Zaka terus bergerak naik turun di rambut Arexa menenangkan wanita itu.


Sedangkan Arexa masi terus meraung meminta maaf. Para pelayan dan bodyguard hanya mampu menunduk diam. Sedangkan ketiga anak yang kemarin Arexa bawa sudah berada di ruang bermain.


"Maaf mas" kata Arexa nyaris tak terdengar dengan sesenggukan.


Arexa kemudian memberanikan diri menatap wajah Zaka, di sana ia bisa melihat raut wajah Marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu di wajah datarnya.


"Maaf mas" kata Arexa lagi.


Zaka hanya diam tak mampu berbicara.


"Maaf hiks, mas ngomong dong hiks mas maafin aku"kata Arexa menatap wajah datar yang di tampilkan oleh Zaka.


Suasana ruangan sudah sangat mencekam, semua orang menunggu Zaka bersuara.


"Bagaimana bisa sayang?" Akhirnya Zaka mulai membuka suara dengan nada dingin.


"Maaf mas, aku nggak bisa jaga dia"jawab Arexa.


"Bagaimana bisa?" Kata Zaka lagi, hilang sudah kata 'Sayang' untuk arexa di setiap kalimatnya.


"Maaf mas" cicit Arexa.


Pandangan Zaka beralih pada kak ipe dan Cece. "Bawa anakku menjauh" kata Zaka dingin.


"Ba-baik tuan" jawab Kak ipe.


"Bagaimana bisa? Jelasin!" Kata Zaka dingin, suaranya masih ia tahan agar tak terlalu keras.


"Maaf mas" kata Arexa menunduk takut.


Zaka telah berdiri di hadapannya.


"Jelaskan Arexa Danendrix!" Pinta Zaka dengan suara tegasnya membentak Arexa untuk pertama kalinya.


Arexa yang tadinya menunduk menatap wajah Zaka yang sudah memerah karena amarah.


"Ma-Mas?" Kata Arexa tak percaya.


"Apa?! Aku bahkan belum sehari meninggalkan anakku padamu dan liat? Sekarang satu sudah hilang, dan dari tadi kamu terus mengatakan maaf, maaf dan hanya maaf, aku butuh penjelasan!" Kata Zaka marah, aura menyeramkan menindas setiap orang yang ada di sana.


Arexa tak mampu menjawab karena terlalu takut.


Pandangan Zaka beralih pada bodyguard mansion.


"Percuma kalian makan di sini, percuma kalian di gaji mahal, ini hasil kerja kalian?!" Kata Zaka. "Cihhh nggak becus!" Lanjutnya.


"Ayo jawab! Mana anak saya" kata Zaka


Para bodyguard dan pak Hasan hanya mampu menunduk takut.


"Leon, Vino kenapa kamu diam? Ayo jawab mana anak saya!!" Kata Zaka pada Leon dan Vino yang masih berada di mansion sejak kemarin.


Arrgggh


Zaka mengusap rambutnya dengan frustasi.


Pyar


Pyar


Guci mahal yang menjadi hiasan ruangan sudah berserakan di lantai.


"Kenapa kalian hanya diam!!! Mana anakku" kata Zaka air matanya sudah luruh membasahi pipi.


Kemeja yang ia kenakan sudah basah oleh keringatnya, Zaka melampiaskan amarahnya pada benda benda di sekitarnya.


Pecahan guci di lantai seolah tak ada, semua ia lewati tanpa sadar, darah dari kakinya sudah menghiasi lantai.


Grep


Guci besar yang siap Zaka banting langsung ia tahan.


"Udah mas, maafin aku" kata Arexa.


Pyarrrrr.


Zaka membanting Guci itu kemudian melepas pelukan Arexa dan berbalik memegang bahu Arexa.


"Maaf? Maaf kamu bilang? Emangnya maaf kamu bisa balikin anak aku? Jawab di mana dia biar aku bisa maafin kamu!!" Kata Zaka dengan mata merah.


"A-aku beneran nggak tau mas, tadi waktu di ruang tamu aku ninggalin mereka buat ambil minum, aku pikir sama kak ipe atau kak Cece mas, tapi kata mereka, mereka lagi main sama Rafa di lantai 2 aku nggak tau mas hiks, jangan marah" kata Arexa menjelaskan.


"CCTV udah periksa?" Tanya Zaka.


"U-udah Mas" cicit Arexa.


"Terus?" Lanjut Zaka dingin.


"Rekamannya nggak ada mas" jawab Arexa.


Arrrgggh


Zaka kembali berteriak marah.


"Emang kamu ngapain bawa anak aku ke ruang tamu? Nungguin siapa di sana!?" Kata Zaka.


"Nungguin kamu mas, hiks" cicit Arexa.


Zaka memeluk Arexa. "Cari pakai system" bisik Zaka kemudian kembali mengurai pelukan.


Arexa menggeleng sebagai jawaban.


"Nggak guna!" Kata Zaka. "Zahid bahkan masih butuh asi dari kamu!! Dia baru kamu lahirkan kemarin, dan sekarang apa?! Dia sudah hilang!!"


"Semoga anakku itu kenyang di manapun dia berada, semoga nasibnya tak seburuk nasib Rafa" lanjut Zaka dengan dingin.


Deg.....


Seketika jantung Arexa memompa dengan lebih cepat mengirim darah di seluruh tubuhnya.


Setelah berkata demikian, Zaka lalu menuju ruang bermain, kemudian langsung menggendong kedua bayinya dan membawanya ke kamar mereka meninggalkan Arexa yang masih tersiak di ruang keluarga bersama para pelayan dan bodyguard yang merasa bersalah.


"Sekarang gimana bu?" Kata Arexa pada bu Tina.


Bu Tina menggeleng "Saya juga nggak tau Non" kata Bu Tina


"Leon, Vino, segera lakukan tugasmu" perintah Arexa.


"Ya Queen, maafkan kami" kata Leon dan Vino kemudian pergi dari sana.


Zaka membaringkan kedua anaknya yang terlelap, menatap wajah keduanya. Triplets kembar tak se identik, Zaid lebih mirip dengan Zaka, sedangkan Zahid lebih mirip dengan Arexa, Zifa adalah gabungan kedua orang tuanya.


"Kalian jangan ninggalin Daddy juga ya?, Nanti Daddy bakal cari saudara kalian" kata Zaka.


"Zifa" kata Zaka kemudian mencium bibir mungil anak perempuannya.


"Zaid" Zaka melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan pada Zifa.


Beberapa saat kemudian, keduanya terbangun karena kelaparan bersamaan dengan itu, Arexa muncul dari balik pintu.


"Mas marah?" Kata Arexa.


"Hmm" balas Zaka.


"Maafin aku mas, aku juga nggak tau bakal jadi gitu, seandainya aku tau, aku nggak bakal ninggalin mereka" jelas Arexa. "Kalau mas terus gini, gimana kita bisa nemuin Zahid? Aku juga tertekan kalau mas kayak gini" lanjut Arexa.


"Aku lagi nggak bisa berpikir jernih, jadi kita bahas itu nanti" kata Zaka dingin.


Pembicaraan keduanya terhenti karena kedua bayi yang ada di atas ranjang itu menangis.


Arexa langsung melepas kaosnya kemudian menyusui kedua anaknya di hadapan Zaka.


Glek


Hasrat Zaka malah bangkit saat melihat gundukan Arexa yang terlihat begitu berisi dan sangat seksi.


'Sabar Zaka, kamu lagi mode marah' pikir Zaka. Kemudian duduk di sofa setelah membuka seluruh pakaiannya dan memulai senam lima jari di milikinya yang langsung berdiri saat melihat tubuh yang menjadi candu untuknya.


"Mau aku bantu mas?" Kata Arexa melihat kegiatan suaminya.


"Nggak usah, lanjut aja nyusuin anak aku" kata Zaka menekan kata 'Anak Aku' sembari tangannya terus bergerak naik turun.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Parah sih :v senam lima jari depan istri mana di sofa lagi :v harusnya kan di kamar mandi wkwkwkwk


See You ❣️