
"Rupanya, hobimu adalah membuat ku kecewa! Itu luar biasa sekali."
***
Waktu yang membosankan, Melody terbangun dengan keadaan yang tak baik-baik saja. Coba lihat, dengan wajah memerah, mata sayu dan berair, Melody demam.
"Melo," Melody langsung menghembuskan nafas pelan saat mendengar panggilan nan lembut itu menembus telinganya.
"Iya Bunda," balas Melody dengan suara serak.
"Bunda masuk yah!" saat tak ada jawaban, Nesa Ibunda Melody langsung masuk sembari kedua tangannya menggenggam mangkuk berisikan bubur.
"Makan dulu yah!"
Melody mengangguk.
"Duh, si cerewet sakit lagi, gak ada lagi deh yang ngomel-ngomel supaya Abang cepet pulang, gak ada lagi yang ngerengek-rengek supaya Ayah bisa pulang tepat waktu tanpa lembur, gak ada lagi yang bantuin bunda masak di dapur." Nesa sedikit menjeda ucapannya, lalu membantu Melody bangkit.
Melody menampilkan senyum, ah lupakan lebih tepatnya itu sebuah cengiran kuda yang menampilkan deretan gigi rapih putih Melody.
"Ih, jangan gitu, Bunda jadi ngeri, kamu senyum malah mirip kuda yang nyengir." ledek Nesa membuat Melody langsung menghambur ke pelukan sang Bunda.
"Bun, Melody kangen Abang!" Melody menjeda ucapannya, lalu melanjutkannya lagi. "Abang itu sebenernya niat pulang apa nggak sih, kayak bang Toyib aja yang gak inget pulang-pulang, awas aja nanti kalau pulang. Entar Melody porotin sekalian." kata Melody dengan kesal, hingga pipinya yang chubby mengembang dengan lucunya.
"Abang itu di sana kuliah, jadi Abang sibuk. Kamu ini aneh deh, sekali Abang pulang kalian gak pernah akur. Pas Abang lupa pulang beberapa bulan aja, kamu malah jadi kesel mati-matian sama Abang kamu." Nesa jadi gemas sendiri melihat tingkah putri bungsunya itu.
"Ahh, kesel. Melody laper Bun, pengen makan." gerutu Melody sambil menatap Bundanya.
"Sini, biar Bunda suapin!" Melody pun mengangguk.
Memang benar, suapan dari seorang Ibu tak akan membuat makanan menjadi terbuang sia-sia, bahkan makanan sesederhana apapun itu. Jika Ibu yang menyuapi kita maka akan terasa enak. Buktinya bubur Melody habis, atau mungkin ini karena Melody yang rakus.
"Besok jangan ke sekolah dulu yah!" pinta Nesa sambil mengelus rambut Melody, membuat Melody memejamkan matanya.
"Gak ah, Melody gak apa-apa kok" kata Melody tegas. Akhirnya Nesa hanya menghela nafas pasrah, Melody memang keras kepala.
Setelah selesai dengan Melody, Nesa berlalu keluar. Meninggalkan Melody dengan senyuman yang manis dan merekah. Harapannya semoga gadis kecilnya itu tetap baik-baik saja. Tetap selalu dan selalu baik.
***
Melody menghirup aroma segar di pagi hari ini, keadaannya cukup membaik. Meskipun belum pulih betul. Senyuman indah tercetak di bibir tipisnya.
"Melody, gue kira lo gak masuk ini hari? Lo kan demam." Dena mulai heboh dengan wajah yang penuhi oleh kecemasan.
"Gak apa-apa." santai Melody sambil fokus pada Novel yang ada di tangannya.
"Selalu gitu, lo manusia tertegar yang pernah gue kenal."
"Tegar? Gak juga." Melody kembali tersenyum.
"Serah lo aja, Melo." kesal Dena, tak berselang lama bell masuk berbunyi. Semua penghuni kelas mulai memasuki kelas dan duduk di bangku masing-masing.
Hingga kedatangan seorang wanita paruh baya membuat ruangan kelas itu menjadi terasa lebih mencekam. Bukan karena apa-apa, hari ini, jadwal ulangan harian. Dan itu merupakan hal yang paling di benci oleh hampir semua siswa.
"Cepat! Waktu ulangan, hanya 30 menit, selesai tidak selesai, kumpul!" Ibu Wadna pun mulai menuliskan soal-soal di papan tulis, materi soal ulangan tentang Barisan Deret, oh, itu sangat menyenangkan bukan.
Tentu saja Melody dengan semangat mengerjakannya, itu sedikit agak lebih mudah. Apalagi Melody memang sudah menguasai materi itu.
Jadi, tak butuh waktu lama, Melody menyelesaiakan lima soal yang tertulis di papan tulis.
Tak jauh berbeda dengan Dena, ternyata Dena juga mahir dalam menyelesaikan soal-soal itu.
Setelah saling beradu tatapan, Melody dan Dena langsung berdiri hampir bersamaan, membuat semua cengo.
"Selesai?" tanya Ibu Wadna dengan senyum yang bangga. Tak perlu meragukan lagi keadaan otak dua cewek yang ada di hadapannya ini, sebab dua-duanya sangat ahli dalam pelajaran apa pun.
"Kalian boleh keluar." Ibu Wadna mempersilahkan Melody dan Dena keluar, tapi sebelum mereka berdua benar-benar keluar, Melody meraih punggung tangan guru matematikanya itu lalu menciumnya dengan sopan dan diikuti oleh Dena.
Mereka berdua memutuskan untuk ke kantin, hanya sekedar untuk mengisi perut mereka yang lapar.
Dan tebak, keberuntungan nyatanya malah berpihak pada Melody, di sana, meja paling pojok ada Alan bersama dengan Eza dan Gio.
Senyum indah tercetak di bibir Melody, dengan tatapan mata penuh binar, mati-matian Melody menahan diri agar tak terpengaruh akan keinginan hatinya yang paling dalam untuk menemui Alan.
"Lo pesen apa Melo?"
"Hah?" Melody tergagap mendengar pertanyaan Dena.
"Pesen apa?" ulang Dena dengan sabar.
"Nasi goreng aja." jawab Melody seadanya "Minumnya air putih."
Dena menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk O kemudian berlalu meninggalkan Melody.
Melody kini asik menikmati keindahan Tuhan yang sangat luar biasa itu, rupanya memandangi Alan dari jauh bisa memberi kekuatan positif dalam diri Melody.
Teruslah seperti ini jika bisa, biarkan aku memandanginya tanpa batasan, agar kelak wajahnya tak akan dapat ku lupa, Melody membatin seraya terus tersenyum.
***
Jam sudah menujukkan pukul 5 Sore, Alan terjebak dalam pikirannya yang kacau di dalam mobil. Dengan hujan yang kian semakin deras, tanpa ada tanda-tanda akan reda, malah semakin menjadi-jadi dengan angin dingin. Di sana ia melihat cewek yang sedari tadi berdiri di halte depan sekolahnya, sesekali cewek dengan rambut yang di kepang satu itu mengusap lengannya dengan pelan, menandakan bahwa dia kedinginan.
Entah dorongan dari mana Alan malah ikut berdiam diri di dalam mobil, entah apa yang Alan tunggu. Karena nyatanya ia dapat dengan mudah pulang ke rumahnya dengan menggunakan mobil miliknya.
Mata tajamnya tak lepas menatap cewek itu. Alan juga bingung ada apa dengan hatinya, yang Alan tahu ini salah dan ini tak boleh terjadi.
"Salah." dengus Alan, tapi hatinya mengatakan ini benar.
Sesaat kemudian kekesalan mulai melanda dirinya, saat melihat Cewek itu dengan berani mengambil ancang-ancang untuk berlari menerobos hujan.
Gue rasa dia gila. Dengus Alan sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan, tak mau sampai membuat cewek itu tahu jika ia mengikuti dirinya.
Alan sendiri merasa bodoh di sini, ia tak tahu ada apa dengan dirinya yang pasti ini sangat bertentangan dengan semuanya. Cewek itu, Alan tak tahu namanya, yang Alan tahu cewek itu adalah cewek yang sering membuatnya emosi dan membuat mood Alan hancur.
***