ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Sebuah Pulpen



"Sepatah kata yang keluar dari mulut mu itu mampu membuat ku kelewat batas karena bahagia."


***


"Astagfirullah....****!" Gio sudah heboh sendiri, sambil menatap kesal ke arah Alan yang menampilkan wajah tak berdosa itu.


"Si es batu zaman now, gak punya otak!" celetuk Eza asal, membuat Alan berdecak sebal karena kecerewetan kedua sahabatnya itu.


"Lo tau apa konsekuensinya kalau lo masuk kelas pas jamnya Ibu Bia dan lo gak bawa buku cetak, buku catatan, buku tugas, buku latihan, sama alat tulis lainnya? Lo bakal di seret ke toilet dan bakal disuruh ngebersihin toilet!" pekik Gio frustasi dengan sahabatnya yang satu itu, nakal boleh, tapi lihat waktu dan keadaan.


Jika ingin nakal saat jam pelajaran Ibu Bia, sudah pasti itu pilihan terlaknat yang menyesakkan.


Jujur saja kalimat Gio tadi mampu membuat Alan menyesal, ia pikir jika tidak membawa peralatan menulis maka ia akan di hukum memunguti daun mangga yang ada di depan kelas saja, tapi kali ini malah disuruh membersihkan toilet.


"Terus gue harus gimana?" pertanyaan terbodoh yang pernah Gio dengar, dan itu keluar dari mulut si manusia es yang dinginnya minta ampun.


"Ngegarukin batang pohon toge!" dengan asal Eza menjawab sambil terkekeh.


"Lima menit lagi, Ibu Bia dateng, sekarang kalau lo mau ke kantin! Gue yakin waktunya gak sempet, dan kalau lo mau minjem pulpen ke temen kelas kita, udah pasti gak akan ada yang mau ngasih pinjem." Gio langsung memutar otaknya agar mendapat solusi, bagaimana mendapatkan pulpen tanpa harus ke kantin sekolah yang jaraknya jauh berada di lantai bawah.


"Gue, aduh...mana pulpen gue juga udah tinggal satu doang, itupun tintanya udah sekarat." panik Eza sambil memasang wajah cemas yang berlebihan.


"Gue bolos aja," singkat Alan tak mau pusing gara-gara satu buah pulpen.


"Ini nih, katanya pelajar tapi pulpen aja kagak bawa, gimana bisa jadi orang sukses lo Lan, ckck dasar kids zaman now!" lanjut Eza lagi.


Ketiga cowok itu tengah berdiri di depan pintu kelasnya sambil memasang wajah tegang, kecuali Alan, yang masih memasang wajah sama, maksudnya datar.


"Nih kak, pake pulpen aku aja!" suara lembut dan menenangkan itu langsung membuat ketiganya sama-sama mendonggak, menatap ke asal suara.


Suara itu berasal dari cewek mungil dengan kulit putih bersih, mata bulat berwarna cokelat terang, bibir tipis berwarna merah alami dan tentu saja pipi yang sangat menggemaskan 'pipi tupai '. Tentu saja itu Melody Nicella.


Eza dan Gio menatap Melody dengan tatapan berdecak kagum. Berasal dari manakah cewek mungil dan menggemaskan yang ada di hadapan mereka?


Sementara Alan, langsung membuang muka saat melihat sekilas orang yang bersuara tadi. Rasa malas seketika menjelajar ke seluruh tubuhnya, di tambah lagi malas melihat cewek yang ada di hadapannya ini.


Dengan malas Alan menoleh ke arah kedua sahabatnya yang masih berdecak kagum sambil melihat cewek yang sok polos itu.


"Hm..." teguran itu membuat Eza dan Gio tersadar.


Ganggu suasana sih Alan! protes Eza dan Gio hampir bersamaan.


Sementara Melody masih menunduk.


"Ini kak..." suara Melody di iringi dengan senyum tipis, Melody langsung menyodorkan pulpen berwarna biru muda, yang menampilkan karakter kartun Koala. Tentu saja Alan jadi geli sendiri.



Sementara Eza dan Gio nampak berusaha mati-matian menahan tawanya.


Alan diam dan tak menanggapi ucapan Melody.


Alan masih diam tak berkutik.


"Ambil ****...ambil!!!" dengus Gio sambil menabok punggung Alan. Ngegas full, untung saja Alan masih memiliki stok kesabaran.


"Tuh...Ibu Bia udah dateng buruan ambil!!!" pekik Gio lagi sambil ingin mencakar wajah Alan yang masih datar. Tak nampak ada ketegangan di sana.


Merasa terdesak, Alan langsung mengambil pulpen berwarna biru muda dengan karakter Koala itu dengan kasar, lalu menyelonong masuk tanpa mengucapkan terima kasih atau semacamnya.


"Ehh...si es batu malah nyelonong aja, kagak ngucapin terima kasih. Dasar gak tau diri." Gio merasa greget sendiri, melihat tingkah Alan yang sama sekali tak berperi kemanusiaan.


"Makasih yah, dik....." dengan cepat Eza mengucapkan terima kasih kepada Melody.


Melody membalasnya dengan senyum kecil.


"Maafin Alan yah, Alan emang gitu...kagak tau diri..." kata Gio sambil melemparkan senyum kecil ke arah Melody.


"Yaudah kak, aku duluan yah!" setelah mendapat anggukan dari kedua cowok yang ada di hadapannya itu, Melody langsung berlalu pergi.


***


"Melo...dari mana aja sih? Katanya cuman mau ke toilet, tapi kok lama banget, untung belom ada guru!" Melody terkekeh sendiri, sambil melihat ekspresi kesal sahabatnya itu.


"Dena....tadi aku abis dari kelasnya kak Alan loh! Dan kamu tau, pas aku sampai di depan kelasnya, aku gak sengaja denger pembicaraan Kak Alan sama dua temennya itu, mereka lagi berusaha nyari pulpen. Soalnya kak Alan gak bawa pulpen ke sekolah, mumpung aku denger, jadi aku langsung nyamperin dan nawarin pulpen ke kak Alan." Melody menceritakannya dengan semangat membara, tentu saja membuat Dena ikut bahagia melihat semangat Melody itu.


"Terus...terus...pulpennya elo di ambil kak Alan?" dengan kepo Dena bertanya. Membuat Melody mengangguk cepat.


"Terus kak Alan bilang apa?" sambil menautkan alisnya, Dena mencoba memancing agar Melody menceritakan semuanya secara rinci.


"Gak bilang apa-apa! Abis ambil pulpen, dia langsung nyelonong masuk ke kelasnya."


"Udah gue tebak, kak Alan kan emang pelit ngomong."


"Heheh iya, tapi bahagia banget, akhirnya kak Alan bisa nerima pulpen dari aku." Melody kembali tersenyum senang. Membayangkan kejadian tadi, saat Alan mengambil dan mau menerima pulpennya.


"Oh iya, entar mau ke kantin bareng gak?" Tanya Dena sambil masih menatap Melody.


Melody hanya mengangguk sekilas. Mumpung tak ada guru, Melody langsung mengeluarkan benda pipih yang di sebut Handphone itu lalu membuka salah satu Aplikasi favorite-nya.


*******....i'm coming!!


Melody pun tenggelam dalam aktivitasnya itu, sementara Dena hanya cekikikan melihat ekspresi serius yang ditampilkan oleh Melody.


Sudah menjadi kebiasaan bagi Melody untuk selalu menggantungkan mood-nya pada Aplikasi itu.


Sebenarnya ada dua hal yang bisa membuat mood Melody meningkat, yang pertama itu Alan dan yang kedua itu *******.


***