ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Masalah Kelas



"Belajar pada kesalahan itu penting, agar kamu tak mengulangi kesalahan yang sama"


***


Melody meremas ujung hoodie Alan yang ia kenakan. Rasa takutnya menguasainya, Melody yakin Bundanya akan marah.


"Gue bakal tanggung jawab." suara dingin itu kembali membuat hati Melody menghangat.


"Kok kakak ngomong gitu? Mestinya aku yang makasih sama kakak, soalnya kakak udah nolongin Melody, kalau kakak gak nolongin mungkin Melody..."


"Ssstt..." Alan menaruh telunjuknya di hidung mancung Melody, sebelum akhirnya mengetuk pintu yang ada di hadapannya.


*Tokk..


Tokk..


Tokk*..


Ketukan itu terhenti saat wanita paruh baya itu keluar dan Alan yakin wanita itu adalah Bunda Melody.


"Melody...." Nesa langsung memeluk anak bungsunya itu, sambil menggerutu kecil.


Saat Bundanya melepaskan pelukan, Melody menunduk merasa bersalah karena kini jelas di mata Bundanya hanya terdapat kekhawatiran.


"Maaf Bunda, Melody udah bikin Bunda khawatir." cicit Melody tak mampu menahan air matanya.


Melody terisak, tentu saja Alan menjadi tak bisa menahan diri melihat Melody menangis.


"Bunda ingin penjelasan untuk semuanya." Nesa sedikit menjeda ucapannya, lalu menatap sosok cowok yang berdiri di samping Melody. "Ayo masuk!"


Nesa akhirnya menggiring Alan dan Melody masuk, duduk di sofa.


"Silahkan duduk, nak." kata Nesa lembut.


Alan hanya mengangguk kecil lalu duduk.


"Baik, nama kamu siapa nak?" tanya Nesa menatap Alan dengan penuh perhatian.


"Alan Afraz." singkat Alan dengan tegas.


Mendengar jawaban Alan, Nesa jadi cukup tahu, jika cowok yang ada di hadapannya ini tipe cowok yang tak mau membuang-buang banyak kata yang tak penting, tak mau boros menggunakan kata, terlihat sangat tegas dan memiliki sifat yang selalu mau melindungi. Itu yang Nesa tangkap.


"Nak Alan?" panggil Nesa. Mendengar itu Alan hanya mengangguk kecil.


"Bisa dijelaskan, kenapa Melody bisa telat pulang dan bisa pulang bareng kamu?"


"Melody pingsan, jadi saya bawa dia ke rumah saya. Karena, saya tidak tahu rumahnya. Dan saya ingin mengenalkan diri, jika saya adalah pacar Melody." mendengar jawaban Alan, Nesa langsung kaget.


"Pingsan? Pacar?" tanya Nesa. Alan langsung mengangguk.


"Pingsan, kehujanan. Pacaran, baru hari ini." kalimat Alan kali ini sangat singkat, tapi mampu membuat Nesa mengerti.


"Baik. Terima kasih jawabannya. Saya minta, tolong jaga Melody."


Alan mengangguk mantap.


Alan menatap Melody yang masih menunduk, hingga Alan berdiri, berjalan mendekat ke arah Melody lalu mendekapnya pelan.


"Sakit, perlu istirahat." kata Alan, Nesa yang mendengar itu langsung tersenyum. Nesa lihat, Alan sangat menyanyangi Melody.


"Bisa kamu bawa dia ke kamar?!" Alan kembali mengangguk.


"Kamar di mana?" bisik Alan ke Melody. Melody menunjuk ke atas.


Alan kembali mengangguk. Kemudian menuntut Melody naik. Dengan penuh ke hati-hatian. Hingga sampai di sebuah pintu yang bercat putih. Dengan tulisan tangan yang menyatakan "Melody Nicella"


Alan membuka pintu, lalu kembali menuntun Melody. Membawa Melody ke kasurnya.


"Istirahat!"


"Iya kak." Melody membalasnya dengan senyuman.


"Tidur!"


"Iya kak."


"Jangan lupa baca doa." Alan langsung mengusap rambut Melody pelan dan lembut.


"Ihh, iya kak." gemas Melody kepada Alan.


Alan hanya mengangguk kecil, lalu berniat berlalu.


Hingga teriakan Melody menghentikannya.


"I love you too." kata Alan dengan cepat, lalu benar-benar berlalu keluar.


Sementara Melody, benar-benar mati-matian menahan senyuman dan teriakannya. Ini luar biasa, Melody berharap ini bukan mimpi, ini harus nyata, apapun itu.


Hingga saat kantuk mulai menyerang, Melody hanya mampu tersenyum singkat, matanya terpejam saat kantuknya sudah semakin menjadi-jadi. Tak lama dengkuran halus pun mulai terdengar, Melody tertidur.


***


Melody memasuki sekolahnya, melewati beberapa orang yang sempat menyapanya dan Melody hanya tersenyum kecil.


Langkah kakinya terhenti saat sudah sampai di dalam kelasnya. Hatinya seolah kembali teruji akan kesabaran, yang entah sampai kapan harus ia pendam.


Kalian tahu, Melody baru saja mengetahui kebenaran, yang nyatanya malah membuat Melody sesak. Haruskah Melody memaafkan? Tapi tunggu itu terlalu berat, bagaimana pun Melody hanya manusia biasa.


"Melo..." teriakan itu membuat Melody terhenti, itu Dena sahabatnya.


"Lo udah baca chat gue kan?" Dena berbicara dengan nada rendah. Melody hanya mengangguk.


"Gue kecewa tahu nggak! Nyatanya semua munafik." Dena seperti menahan tangis. Rasanya memang sakit. Melody juga merasakan hal yang sama.


"Aku gak nyangka mereka bakal kayak gitu." kata Melody pelan.


Tarikan nafas kasar, berkali-kali Melody keluarkan. Rasanya kenapa semakin sesak.


Melody ingin bertanya, bagaimana perasaan kalian jika teman sekelas cewek kalian nyatanya bekerja sama untuk memfoto tugas-tugas yang kalian udah kerjain sampai bab akhir? Sakit gak? Nyesek? Abis itu foto itu di share sana sini.


Melody sangat sakit mengetahui hal itu. Dahulu Melody sangat bahagia punya teman kelas yang selalu mengerti dan baik. Tapi nyatanya malah menusuk dari belakang.


Melukainya hingga tak mampu berkutik. Padahal mereka selalu mengatakan jika mereka teman. Tapi, apa ada teman yang melakukan hal serendah itu hanya untuk mendapat pujian? Nyatanya itu kemunafikan yang luar biasa.


Saat di tanya, lalu di suruh mengaku, mereka malah nyolot, bertingkah seolah-olah mereka tak bersalah.


Entah Melody harus apa? Rasa sesaknya ini mengganggu dan mengekang dirinya. Ia luka karena kecewa.


"Masuk yuk." Dena menggandeng tangan ku dengan lembut. Hingga saat kami masuk ke kelas semua menatap kami.


Hingga lontaran kata-kata kasar mulai terdengar.


"Sok suci!"


"Cari muka."


"Sok banget."


"Hahah *****..."


Dan masih banyak hal lainnya. Sialnya Melody tak sekuat yang kalian pikir, Melody hanya cewek yang berusia 17 tahun, yang sama sekali belum bisa terbiasa menahan rasa sakit.


Rupanya, mereka adalah tipe orang yang tak tahu diri. Bersalah? Tapi tak merasa bersalah. Melody benci itu. Dan bodohnya lagi, air matanya malah terbendung.


"Dasar munafik." desis Dena dengan tajam membuat kelas hening. Mereka semua diam.


Bayu ketua kelas hanya menarik nafas kasar, dia juga tahu masalahnya tapi ia tak ikut serta dalam pencotekan ini. Bayu mengenal Melody dan Dena dengan baik, makanya Bayu tak mau seperti itu, nyatanya jika begitu, ia ikut dengan teman ceweknya maka akan terlihat seperti musuh dalam selimut.


Diam-diam menghanyutkan.


"Minta maaf kalian, udah salah malah ngatain..." dengan bijaknya Bayu melerai kedua kubu itu.


Dalam hati mungkin ada penyesalan, tapi nyatanya ego malah menenggelamkan penyelesaian itu. Rasa bersalah mungkin menyesakkan tapi membela harga diri malah melegakan. Walaupun semua itu salah.


Melody memilih menutup kedua telinganya dengan ketulian yang ia buat sendiri. Nyatanya ini malah membuatnya semakin sesak, rasa kecewa menyeruak dalam sana. Memecah ketenangan yang dulu ada.


"Kok lo pada malah gak tau diri..." akhirnya rentetan kata itu malah membuat semua kaget.


"Kok lo malah bela dua orang sok suci itu." teriak seorang cewek itu lalu mendekat ke arah Melody, menunjuknya dengan kesal.


"Gue bela orang yang benar, bukan orang yang salah dan malah sok benar." dengan cepat Bayu menyindir kumpulan cewek tak berdosa itu. Tapi nyatanya sudah buta dengan kesalahan, sindiran macam apa-pun tak mampu menoreh luka dalam hati mereka.


"Maksud lo apa? Lo itu di sini ketua kelas, lo gak boleh dong berpihak pada satu orang, lo harus adil."


"Gue adil, lo nya semua yang gak punya otak. Pikiran cetek. Kebaikan lo balas sama keburukan, emang gak cukup muka lo pada aja yang buruk, gak usah sifat lo juga. Kelihatannya jadi freak gimana gitu." ucapan Bayu kali ini mampu menohok hati terdalam mereka, setidaknya Bayu berhasil menggores setitik luka di sana.


"Melody, Dena, duduk yang manis, jangan deket-deket sama regu freak ini." Bayu melemparkan tatapan yang di penuhi dengan senyuman.


"Makasih pak Ketua." balas Melody lalu melemparkan senyuman ke arah Bayu.


"Pak Ketua emang the best lah!" Dena kembali tesenyum ke arah Bayu membuat Bayu sekali lagi tersenyum.


Dalam hati, Melody bersyukur, di saat semua orang malah berniat menjatuhkan, nyatanya masih ada yang berniat membangkitkan. Mungkin tak seberapa, tapi ketulusannya itu tak ternilai.


***