
"Ingat! Bahwa usaha tidak akan menghianati hasil. Begitupun dengan penantian, tidak akan berakhir sia-sia"
***
Kini rapat sesama CEO sedang berlangsung. Semua nampak memasang wajah dingin dan tegas. Tak terkecuali Eza, Gio dan Ijaz. Dan tentu juga Alan, tapi kalau masalah wajah dingin, kurasa Alan lah juaranya.
Berbeda dengan Eza terlihat seperti itu bukanlah suatu kebiasaannya, makanya jika kalian melihat wajah Eza maka lebih tepatnya ekspresinya seperti sedang menahan buang air kecil, bukan seperti seorang CEO yang memiliki wajah dingin dan tegas.
Melihat itu Gio dan Ijaz mati-matian menahan tawa. Eza memang tak pantas berekspresi seperti itu. Karena itu tak cocok dengan wajahnya yang tak ada kesan tegas dan dinginnya.
Eza yang melihat itu hanya menyipitkan matanya tak suka. Ini penghinaan bagi Eza, dan Eza tau jika Gio dan Ijaz tengah mati-matian menahan tawa. Dan tawa itu tercipta karena melihat wajah Eza.
Sabar Za, ini cobaan untuk orang ganteng. Eza membatin sambil mengusap dadanya sabar.
Akhirnya, tibalah waktu kebebaan Eza, rapat selesai!
Semua CEO akhirnya berlalu keluar dari ruangan, begitupun dengan Alan, Eza, Gio dan Ijaz. Ke empat CEO itu bergegas memasuki ruangan Alan.
"Ngapain?" kesal Alan saat mengetahui bahwa diikuti oleh ketiga sahabatnya itu.
"Ngapain?" Eza bertanya kepada Gio dan Ijaz.
"Kampret!" dengan bersamaan, Gio dan Ijaz meraup wajah Eza yang sok polos.
"Wajah ganteng gue..." dengus Eza dan merapihkan wajahnya.
"Lan, ayolah, lo harus dateng yah?" mohon Gio dengan sangat-sangat.
"Iya Lan, lo harus dateng, kita punya stok cewek untuk lo dan lo harus pilih. Supaya lo gak sendiri lagi..." kali ini giliran Ijaz yang memohon. Berharap Alan akan luluh.
"Dateng aja lah Lan, cewek-ceweknya itu pada bening-bening, gue yakin lo bakal cocok..."
"Mulut lo biasa aja, kampret!" Gio memukul mulut Eza yang nampak berlebihan itu.
"Tahu, ampe muncrat-muncrat ini." kesal Ijaz dan membersihkan jasnya yang terciprat oleh Eza.
"Mulut-mulut siapa?" tantang Eza tak tau diri.
"Kok lo nyolot?" tunjuk Ijaz.
"Tahu, lo nantangin." balas Gio sambil menarik Jas Eza.
"Wah, kagak takut gue, sini, lo mau pake jurus apa? Gue mau pake jurus, melupakan masa lalu...ehh" Eza membekap mulutnya saat merasa ucapannya menyinggung perasaan Alan.
"Si ****!" dengus Gio saat melihat Alan sudah berlalu.
"Yah, Alan pergi deh, elo si Za..."
Eza kembali merasa terpojokkan.
"Maafkan diriku yang masih polos ini."
Tak mau buang-buang waktu mendengarkan Eza yang berlebihan, Gio dan Ijaz pun mengejar Alan. Pokoknya mereka harus menyakinkan Alan untuk datang ke acara itu. Harus.
Alan kini memilih duduk di dalam ruangannya. Memilih menenangkan diri.
"Alan..." teriakan itu membuat Alan mendengus. Bisakah ketiga sahabatnya itu tak menganggu Alan?
"Alan...lo harus dateng, yah?" lagi dan lagi Gio membujuk Alan.
"Iya Lan, ayo dong...lo harus dateng." kali ini giliran Ijaz yang mendesak Alan.
Alan tak suka pemaksaan. Sangat tak suka. Tapi, kenapa semua terasa memaksa Alan.
"Ayolah Lan...lo dateng yah!"
"Dateng Lan, dateng."
"Dateng..."
"Dateng..."
"Ayo Alan, dateng."
"Dateng..."
"Oke." akhirnya satu kata itu membuat Eza, Gio dan Ijaz bersorak bahagia.
Ah, sudahlah. Menurut Alan jika tak mengikuti keinginan tiga sahabat kampretnya itu maka ia akan mengalami tekanan batin yang berkelanjutan.
"Gue pastiin Lan, lo bakal bawa pulang salah satu cewek yang ada di sana. Lo bisa pegang ucapan gue." desis Gio sambil tersenyum khas.
"Oya?" Alan menatap dingin ketiga sahabatnya yang nyatanya hari ini ingin bermain-main dengan kesetiaan Alan.
"Gue juga yakin, lo bakal bawa pulang cewek yang ada di sana, dia bening Lan dan gue yakin lo pasti suka. Camkan itu." kata Eza.
"Mau taruhan?" tantang Ijaz. Alan tersenyum miring. Tentu.
"Mobil buat kalian bertiga." singkat Alan dan membuat ketiganya bersorak senang. Alan akan kalah malam ini. Lihat saja.
Sementara Alan sangat yakin, tak mungkin ia goyah oleh siapapun. Kembali Alan tegaskan, hanya satu pemilik hati Alan, yaitu Melody.
"Siapin diri dan siapin mobilnya pak!" teriak Eza dengan nyaring.
Alan pikir ketiganya akan keluar dari ruangan Alan, tapi nyatanya tidak.
Mereka malah tinggal meneror Alan, menanyakan banyak hal yang sama sekali tak berfaedah. Dan itu membuat Alan jengah.
***
Alan berjalan dengan malas, kini Alan sudah ada pesta yang dirayakan oleh Eza dan Faya. Dan tentu Alan tak berniat datang, tapi pakasaan demi paksaan Alan dapatkan akhirnya Alan pun terpaksa datang.
Alan merapikan jas nya dengan pelan, lalu memilih berhenti di tengah-tengah keramaian pesta yang berlangsung sangat meriah. Tapi Alan merasa sepi di sini.
Eza sudah asik berdansa dengan Faya, bukan berdansa tapi menari seperti topeng monyet di hadapan para tamu dan itu sangat memalukan. Tapi menurut Alan, keduanya pasangan yang sangat cocok.
Gio sudah asik berbincang-bincang dengan Dena, jangan salah mereka sudah tunangan. Tinggal menunggu tanggal main dan mereka akan melangkah ke jenjang yang menyatukan mereka. Di mata Alan, mereka juga terlihat sangat cocok.
Ijaz juga bersama Sindy, mereka juga sangat cocok di mata Alan. Setelah beberapa tahun, Ijaz gagal move on. Tiba-tiba saja Sindy datang dan membuat Ijaz tergila-gila, mereka telah menjalin hubungan selama 2 tahun lebih. Dan itu mungkin bisa di jadikan pedoman untuk menuju ke arah yang lebih serius.
Sementara Alan? Oh tenang, Alan hanya sedang menunggu.
"Tes...tes...Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, duabelas, tigabelas, empatbelas, limabelas, enambelas, tujuhbelas, delapanbelas, dembilanbelas, dua..."
Pletak...
Gio dan Ijaz sama-sama menjitak kepala Eza. Itu hitungannya terlalu jauh.
"Lama banget,"
"Lo mau hitung sampe kapan?"
Eza hanya mendengarnya dengan malas, benarkan Eza selalu salah. Dan itu menyebalkan.
"Salah lagi gue..."
"Panggilan kepada Alan Afraz agar segera naik ke atas panggung ini..." suara itu membuat Alan memutar bola mata jengah, apa lagi yang akan mereka lakukan. Alan sangat malas berada di sini, mending Alan kabur saja.
"Eh, jangan niat kabur, ini, kunci mobil lo ada di gue..."
Alan menarik nafas panjang dan menggeram kesal, sahabatnya memang kampret.
Alan pun berjalan dengan sangat malas naik ke atas panggung, hingga semua mata menatap Alan dengan kagum dan Alan tak suka di tatap seperti itu.
"Hey pak bos!!!" sapa ketiganya kompak dan rasanya Alan ingin melempar ketiganya ke rawa-rawa.
Alan menatap datar kedepan seolah tak berminat.
"Cari cewek yang bajunya warna merah selutut Lan, itu calon lo yang kita pilihin!" perintah Gio dan menepuk pundak Alan. Alan tentu tak minat. Alan memilih menunduk dan tak mau mencari.
"Gue gak mau lo nyesal loh Lan..."
"Ayo cari!"
Desakan ketiganya membuat Alan mendonggak dan menatap malas ke depan.
Matanya mencari sosok yang di maksudkan oleh ketiga sahabatnya. Di sisi kiri tak ada, karena di sana Alan melihat semua orang kompak memakai baju berwarna hitam.
Alan menggerakkan matanya menatap ke sisi kanan, namun tetap tak ada, di sana juga terlihat kompak memakai baju hitam.
Alan menatap kesal ke arah ke tiga sahabatnya. Jangan-jangan Alan hanya di kerjai oleh ketiganya.
"Cari yang bener Lan, kita gak ngerjain lo kok..." Ucap Ijaz dengan santainya dan langsung tersenyum manis.
Alan yang melihat ketiganya tersenyum seperti ini merasa sangat kesal. Senyumannya seolah mengejek.
Mata Alan pun memandang ke depan, hingga matanya menangkap sosok yang di maksud oleh ketiga sahabatnya.
Detak jantung Alan seketika berubah menjadi tak terkendali, sepertinya Alan mengalami masalah juga dengan jantungnya.
Lidahnya keluh, ingin rasanya Alan berteriak kencang tapi tak bisa. Kakinya pun seolah melemah dan tak bisa di gerakkan.
Alan merasa ada yang salah denngan dirinya. Alan merasa beda.
Eza, Gio dan Ijaz langsung kembali tersenyum senang. Lihatkan, Alan kaget setengah mati. Dan itu berarti, mobil akan mereka dapatkan.
"Cuy, kita dapet mobil..." heboh Eza dan melompat-lompat.
Gio dan Ijaz pun begitu.
Brukk...
Semua mata langsung terfokus pada satu titik.
Begitupun dengan Eza, Gio dan Ijaz. Mereka bertiga panik. Pasalnya kini Alan tengah pingsan di atas panggung.
Dan tentu itu membuat semua orang bingung.
"Aelah si Alan, lebay banget...." Eza tak habis pikir Alan bisa selebay ini.
"Udah buruan angkat!"
Mereka bertiga pun mengangkat Alan, jangan salah, meski tinggi dan kurus, berat badan Alan lumayan berat. Hingga membuat Eza, Gio dan Ijaz kesulitan.
***