ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Berlalu



"Jangan ragukan aku dalam hal menunggu, karena aku adalah ahlinya."


***


5 tahun berlalu...


Dan semuanya masih bertahan, Alan masih setia menunggu, menunggu suatu ketidakpastian yang lambat laun membuat Alan semakin lemah tapi tak mau menyerah.


Banyak usaha yang di lakukan untuk melacak keberadaan Melody tapi hasilnya nihil. Tak ada satupun yang berhasil.


Hingga kini hari-hari yang Alan lalu hanya sibuk berkutat dengan tumpukan kertas-kertas yang meminta untuk di tanda tangani atau sekedar bertemu dengan kolega bisnisnya.


Kini Alan sudah menjadi CEO muda di perusahaan Afraz Company. Papanya, Afraz telah memberikan jabatan tinggi itu kepada Alan, karena melihat kesungguhan Alan dalam dunia bisnis. Semakin hari perusahaan Afraz Company semakin berkembang. Dan itu karena Alan.


Selain itu Alan juga semakin banyak berubah, kini Alan semakin dingin tak tersentuh. Meski sekarang banyak yang Alan raih. Seperti keluarga kecilnya, semuanya sudah kembali. Mamanya juga sudah kembali dalam kehidupan Alan, ternyata benar banyak kebenaran yang Alan harus tahu.


Dan tentu setelah terungkapnya kebenaran itu, Alan bisa membawa mamanya pulang.


Ternyata Mamanya di ancam oleh salah satu kolega bisnis papa Alan waktu itu. Mamanya di ancam agar mau meninggalkan Alan dan papanya. Jika mamanya menolak maka orang itu mengancam akan membunuh Alan dan Afraz. Hal itu bertujuan untuk menjatuhkan papa Alan di dunia bisnis. Tapi nyatanya itu gagal saat semuanya terbongkar, orang yang Alan anggap sebagai kekasih mamanya kini malah mendekam di penjara. Dan sekarang keluarga Alan kembali hangat. Hanya saja kini hati Alan masih membeku, setelah kehilangan pemiliknya.


"Woy, kampret, lo lama banget! Katanya mau nongki-nongki di cafe depan!" Alan memutar bola matanya jengah. Oh, ini kabar buruk untuk kalian.


Setelah lama berpisah dan tak bertemu, Alan kembali bertemu dengan ketiga sahabat kampretnya. Yang kini sama-sama sudah meraih kesuksesan yang hampir sama dengan Alan.


Yang di maksud Alan adalah, Eza, Gio dan Ijaz. Bisa kalian percaya? Jika ketiganya sama-sama menjadi CEO di perusahaannya masing-masing. Bukankah itu luar biasa.


Dan semenjak itu, Alan selalu merasa terteror oleh ketiganya. Mereka bertiga sangat cerewet.


"Lo berdua kenapa diem? Seret si Alan keluar. Sekarang!!!" teriak Eza membuat Gio dan Ijaz berjalan mendekat ke arah Alan dan menggotong Alan untuk keluar.


Dan demi apapun, itu menjatuhkan harga diri Alan sebagai CEO ternama. Biasanya CEO dikenal berwibawa dan penuh dengan ketegasan. Tapi ini, sangat memalukan. Ketiga sahabatnya itu sama sekali tak tahu malu. Kekanak-kanakan.


"Lepas." singkat Alan dengan nada suara yang sangat dingin namun sangat tegas.


Tak ada respons dari ketiganya, sekarang Alan diseret seperti anak kucing dan tentu itu membuat semua karyawan yang ada di perusahaan menatap ke arah Alan dengan tak biasa.


Siapa yang tak kenal dengan CEO tampan yang terkenal dingin itu, semua pegawai wanita selalu berteriak histeris saat melihat Alan. Di mata semua wanita, Alan adalah pria idaman.


Jarang ada CEO yang seperti Alan, dengan sifat dingin dan tegas, irit bicara tapi kalau bicara langsung ngena dan tak pernah mau berkomunikasi dengan wanita manapun. Walaupun wanita itu memakai pakaian se-sexy apapun tak akan mau Alan meliriknya. Sungguh itu pria idaman bukan?


Kini Alan hanya pasrah, percuma berbicara dengan ketiga sahabatnya yang tak punya malu.


Hingga kini mereka berempat sampai di sebuah cafe yang selalu mereka kunjungi untuk nongkrong saat jam makan siang.


"Kali ini giliran Alan yang traktir kan?"


Bukankah selalu begitu, Alan selalu di manfaatkan oleh ketiga sahabatnya itu.


"Iya, ini giliran si Alan..." kali ini Ijaz, bertepuk tangan riah.


"Tunggu apa lagi, sikat!!!" Eza langsung memesan apapun yang ada di menu, sementara Alan hanya berdecak sebal. Mungkin benar Alan akan mengalami kebangkrutan.


"Makasih Alancu..." Eza mulai merentangkan tangan ingin memeluk Alan tapi langsung tebas oleh Alan.


"Kasar banget dirimu bang. Tangan adik sakit ini..." ringis Eza sambil terisak kecil, itu kepalsuan.


"Huekk... ada kantong kresek gak?" muak Ijaz sambil menatap malas ke arah Eza yang sangat dramatis.


"Si Eza pengen di sunat lagi kayaknya..." kata Gio dan itu membuat Eza meringis.


Ijaz dan Gio langsung tertawa. Sementara Alan hanya diam sambil menatap datar.


"Muka lo Lan, rasanya pengen gue ***** deh..." Eza memanyunkan bibirnya ke arah Alan dan jangan salahkan Alan lagi jika Eza harus berakhir mencium lantai.


"Hahah...cium tuh lantai..." tawa Gio pecah dan diiringi oleh tawa Ijaz, sementara para pengunjung cafe pun banyak yang tertawa.


"Bibir sexy gue, udah ternodai.." Eza langsung mengusap bibirnya kasar. Ampun deh, ampun dia bermain-main dengan Alan.


"Dirimu jahat bang!" Desis Eza dan itu membuat Alan semakin kesal. Biarkan saja Alan jahat.


"Bibir Sexy? Iuhh gue yang dengernya berasa kayak pengen muntah..." Ijaz kini beralih dan menatap daftar menu, tak mau peduli dengan Eza.


Eza hanya menatap malas. Entahlah Eza bingung kenapa bisa mempunyai sahabat seperti mereka bertiga.


Kini pandangan Alan fokus pada ponselnya. Alan sudah lama selalu melalukan rutinitas yang terkesan monoton. Selalu memandangi wajah cantik Melody melalu foto-foto yang Alan save di galery.


Alan menarik nafas dalam. Rasa rindu selalu menyesakkan Alan, waktu pun terasa sangat menyiksa, semua berjalan dengan lambat dan itu menyakiti Alan.


Kapan kamu kembali? Aku Rindu. Alan berteriak dalam hati. Harapannya semoga Melody mendengarnya dan cepat kembali.


Sejujurnya Alan lelah menunggu, tapi inilah yang harus dia lakukan. Kesetiaannya kini kembali di uji.


"Udahlah Lan, lupain Melody..." kalimat itu selalu Alan dengar dari ketiga sahabatnya. Tapi bukan itu masalahnya, Alan bukan tipe orang yang dengan mudah melupakan. Biarkan Alan menunggu lebih lama lagi, Alan pasti kuat dan sanggup.


"Ayolah Lan, banyak loh cewek yang ngantri buat lo, masa lo gak tertarik. Lo masih normal kan?" Eza kini mulai berbicara absurd dan tentu Alan sangat kesal mendengarnya.


Alan normal. Tentu, jadi jangan meragukan Alan. Alan hanya lelaki setia yang menunggu cinta pertamanya untuk pulang dan mungkin akan menjadi cinta terakhir untuk Alan.


"Mulut lo Za, pengen di cabein yah?" protes Ijaz. Seketika rasa kesal juga ikut Ijaz rasakan, saat mulut Eza melontarkan kalimat yang tak masuk akal.


"Au ah geyap! Gue berasa kayak Raisa yang selalu serba salah!"


"Gak usah nyama-nyamain diri lo sama Raisa, jauh beda Za. Bagaikan apa yah? Tahu ah, yang pasti beda jauh..." Gio kembali memprotesi apa yang di katakan oleh Eza.


"Gini-gini, gue udah mau married loh!" tukang pamer. Itulah Eza, memang dalam waktu dekat ini Eza akan married dengan Faya, mantan Eza dulu loh. Ajaib kan si Eza, bisa balikan lagi sama Faya. Itumah jodoh namanya.


"Biar gue perjelas Za, lo udah ngucapin itu sebelas kali, lo bilang sekali lagi dapet piring cantik selusin!" Gio merasa jengah, benar saja. Eza selalu mengatakan itu dengan berulang-ulang.


"Gue udah mau married loh! Nah, udah, piring cantik gue mana?" tagih Eza sambil menyodorkan tangannya ke arah Gio dan Ijaz.


Gio dan Ijaz memutar bola mata jengah. Percuma berbicara dengan Eza, pasti akhirnya akan merasa tertekan. Maklumi saja, Eza kan otaknya geser ke ujung kuku, jadinya gitu.


Alan yang sudah merasa jengah langsung berdiri dan meraih dompetnya, lalu mengeluarkan uang. Dan berlalu keluar cafe. Entahlah Alan merasa jengah mendengar perdebatan ketiga sahabatnya.


"Elo sih Za, pake bahas Married aja, tahu sih Alan lagi sensi..." kesal Ijaz sambil menabok punggung Eza.


"Tahu tuh, gak keren banget." Gio juga ikut menabok punggung Eza.


"Kok gue salah terus." teriak Eza dan langsung menggebrak meja.


Semua orang yang di sana langsung menatap Eza dengan tak menentu.


Eza yang di tatap seperti itu hanya menampilkan senyum lebarnya. Terlihat konyol.


Gio dan Ijaz saja merasa malu punya sahabat seperti Eza yang tak tahu malu.


***