
"Terkadang, kita harus menghargai perpisahan. Agar kita merasa lebih baik saat melepaskan."
***
Melody sudah siap, sangat siap. Melody hanya tinggal menunggu seseorang, Alan-nya. Hari ini, adalah hari terakhir kebersamaan mereka. Setelah itu maka benar-benar perpisahanlah yang berkuasa.
Melody selalu ingin menolak, tak mau seperti ini. Tapi ini lah takdir hidup, Melody pikir Melody akan menghabiskan waktu dengan Alan melewati semuanya bersama namun nyatanya tidak.
"Melody, itu Alan udah dateng!" Nesa sedikit mengelus bahu Melody, sekedar menguatkan.
Melody tersenyum.
"Kamu yakin, kamu baik-baik aja?" Melody mengangguk mantap.
"Bun, setidaknya Melody ingin memberikan semua kebahagiaan untuk Kak Alan di hari terakhir ini, mungkin nanti Melody gak akan punya kesempatan untuk lihat kak Alan, jangankan untuk liat Kak Alan, buka mata aja mungkin itu sangat sulit Bun..."
"Jangan pernah ngomong gitu lagi, kamu bakal sembuh sayang." Nesa memeluk Melody dengan erat, jujur ketakutan juga sangat Nesa rasakan.
Nesa belum mau merasakan kehilangan.
"Semoga..." Melody kembali tersenyum dan berjalan beriringan dengan Nesa.
"Kamu hati-hati yah di pantai-nya." Melody mengangguk. Dan mencium punggung tangan Nesa dan benar-benar berlalu keluar.
Di luar Alan tengah menunggu Melody.
Dari kejauhan Melody bisa melihat Alan yang tengah berdiri tak jauh dari mobilnya. Alan hanya memakai kaos biasa dan jaket, dipadukan dengan celana jeans selutut. Di mata Melody itu sangat keren.
Melody berlari kecil ke arah Alan sambil merentangkan tangannya.
Alan yang melihat itu langsung panik, bisakah perempuan itu tak berlarian? Bagaimana bila Melody jatuh?
"Bisa untuk tidak lari-lari cantik?"
Melody tertawa geli saat melihat Alan seperti itu.
Bukankah itu terdengar berlebihan?
"Aye-aye kapten!"
Alan menautkan alisnya bingung. Itu bahasa apa? Alan tak mengerti.
"Jangan membuatku berpikir keras. Bahasa kamu aneh!"
Melody tertawa lagi, dan itu membuat Alan semakin gemas. Hanya dengan tawa, Melody bisa membuat Alan menjadi sangat bahagia.
"Aye-aye kapten!" Melody mengulanginya lagi.
"Apalah itu, aku tak mengerti!" dengus Alan dan membukakan pintu mobil untuk Melody.
Melody kembali melemparkan senyuman yang membuat Alan semakin melayang.
"Berhenti tersenyum seperti itu, itu seperti cengiran kuda." ledek Alan, tapi itu sepenuhnya berisi kebohongan.
"Bukankah ini manis kak?" tanya Melody sambil menyengir lebar. Alan hanya berusaha menahan tawanya.
Lalu Melody terlihat menampilkan wajah konyolnya yang membuat Alan tak mau melewatkannya. Alan merogoh sakunya dan mengambil hpnya.
Cekrek...
Satu foto pun terambil dengan manis. Ekspresi Melody sangat menggemaskan di foto itu.
"Ih, kakak, hapus!!!"
Alan menggeleng dan kembali menggiring Melody masuk. Dan Alan pun berlari masuk mobil juga.
***
Melody dan Alan telah sampai di sebuah pantai, sangat indah dan terlihat sangat sepi. Melody sedikit berpikir keras, bukankah pantai ini sangat ramai dikunjungi bila hari libur seperti ini? Tapi kenapa sangat sepi. Seperti kuburan ini.
"Kok sepi." cicit Melody sambil memanyunkan bibirnya.
"Katanya hanya ingin berdua. Ini berdua bukan?" Alan memang sudah menyewa pantai ini, hanya untuk Melody. Hari ini, tak akan ada orang yang ada di pantai ini selain Alan dan Melody.
Melody terlihat bingung.
"Aku menyewanya."
Mendengar itu Melody membulatkan matanya tak percaya. Benarkah? Itu sangat berlebihan.
"Kakak, itu berlebihan."
"Spesial untuk mu!" Alan menarik tangan Melody untuk mendekat. Lalu menuntun Melody ke pinggir pantai. Hanya untuk melakukan hal sederhana.
Seperti bermain pasir, bermain ombak dan bermain air. Itu sederhana tapi sangat menyenangkan.
"Katanya mau mengubur ku, ayo lakukan!" Melody menggeleng, itu hanya bercanda. Tak mungkin Melody mengubur Alan.
"Kenapa?" tanya Alan.
"Mau main lari-larian?" tawar Melody sambil menampilkan senyuman. Alan berdecak, kenapa haru lari lagi.
"Nggak." singkat Alan dan menarik tangan Melody untuk berjalan di pinggiran pantai, sambil merasakan deburan ombak yang menerpa kaki mereka.
"Aduh..." ringis Melody sambil memegang kakinya.
Alan tentu khawatir. Sangat khawatir.
"Kenapa?" Alan sudah menunduk sambil menatap serius kaki Melody.
"Kena..." tawa Melody pecah saat Alan terkena tipu, Melody hanya berpura-pura. Ingin melihat bagaimana reaksi Alan.
Alan menatap Melody datar. Ini tak lucu bagi Alan.
"Tidak lucu." Alan bergerak menjauh dari Melody dan itu semakin membuat Melody tertawa.
Ekspresi Alan sangat menggemaskan di mata Melody.
"Kakak ngambek?"
"Hm..."
"Jangan ngambek, nanti Melody makin cinta lagi!"
"Hm..."
"Cerewet..." Alan mengelus pucuk kepala Melody sebentar lalu kembali mengapit tangan Melody.
"Main lari-larian yuk kak?!"
"No!" tegas Alan dengan cepat, Melody seperti itu.
"Kenapa suka lari-larian sih?" tanya Alan.
"Kenapa yah?" Melody sedikit berpikir sembari masih tersenyum senang.
"Soalnya seru." Melody pun berlari di pinggir pantai, sambil merentangkan tangannya, membiarkan rambutnya di terbangkan oleh angin yang sangat menenangkan.
"Melody..." Alan langsung berteriak kaget, Melody memang sangat membuatnya khawatir saat ini. Bisa-bisanya dia berlari seperti itu di pantai. Bagaimana nanti kalau dia terjatuh atau kecapean.
"Wleee..." Melody terus berlari sesekali Melody menoleh ke arah Alan dan menjulurkan lidahnya ke arah Alan.
Alan pun merasa tertantang, dengan cepat Alan pun berlari. Beruntung Alan memiliki kaki yang panjang, jadinya tak mudah untuk mengejar Melody.
Tak perlu memakan waktu lama, Alan sudah ada di depan Melody, tentu Alan merasa bangga karena bisa mendahului Melody.
Melody nampak mencibir dan tak lama menambah kecepatan laju larinya. Alan yang melihat itu langsung berhenti dan menahan Melody untuk berhenti.
Bagaimana pun mereka harus sadar, jika keadaan Melody tak menungkinkan. Ini bahaya untuk dirinya. Dan Alan tak mau ada sesuatu yang buruk menimpa Melody.
"Sudah, jangan lari terus, nanti kamu kecapean!" Melody hanya mengangguk sambil mengatur nafasnya yang tak beraturan.
Alan pun berjongkok, dan menuliskan sesuatu di atas pasir. Dan Melody hanya tinggal diam dan menunggu, karya apa yang di buat Alan di atas pasir.
Lama, Alan berkutat dengan ranting dan pasir, sebuah bentuk hati sudah tergambar jelas di atas pasir putih.
Tak lama tulisan lain pun menyusul, di sana Alan menuliskan huruf demi huruf yang saat menyatu maka akan terlihat sangat indah.
I love you Melody...
Melody hanya mampu terdiam, apa kata cinta masih harus terucap di detik-detik perpisahan? Apa itu tak akan menyakitkan?
"Jangan pergi!" tiba-tiba suara berat Alan kembali terdengar dengan lirih, yah Alan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Melody.
"Kita bisa berjuang bersama, aku tahu semua, kamu sakit dan aku tahu penyakit mu."
Melody tentu terdiam, benar, rahasia apapun tak akan berhasil Melody sembunyikan dari Alan. Karena Melody tau, Alan akan mencari tahu, sampai semuanya benar-benar jelas.
"Aku akan mendampingimu, bahkan saat nanti saat terburuk mu tiba." Alan berdiri dan meraih kedua tangan Melody.
Melody memalingkan wajahnya tak kuat. Tak kuat menatap wajah Alan dan tak kuat menahan air matanya.
"Yah? Kamu jangan pergi, kita akan bersama."
"Gak kak! Ini takdir, kita pisah. Kakak di sini, jalani hidup kakak seperti semula, jalani seperti dulu, saat kakak benar-benar belum kenal aku, atau anggap aku sebagai orang yang kakak paling benci kayak dulu. Dan aku, aku akan pergi, pergi jauh kak, mungkin hari ini aku masih berpijak di atas tanah, tapi kita gak tahu besok atau hari-hari kedepannya, mungkin aku yang ada di dalam tanah."
"Jangan egois kak, aku pergi untuk kakak." benar, Melody pergi untuk Alan, untuk kebaikan Alan.
"Kamu yang egois, kenapa kamu mau ninggalin aku? Padahal kita masih bisa jalani ini semua sama-sama." Alan jelas tak rela, di saat semua masih bisa berjalan baik-baik saja, tapi kenapa Melody malah ingin mempersulit dengan berlalu dan pergi.
"Ini gak semudah yang kakak pikir. Aku pergi dari sekarang, karena aku ingin buat kakak lebih terlatih, agar kelak saat aku benar-benar nggak bernafas di dunia ini, kakak akan merasa baik-baik aja. Ini bukan penyakit biasa kak, aku sendiri gak yakin aku bakal sembuh." lirih Melody sambil menatap Alan dengan sedih. Kini giliran Alan yang bungkam, Alan menunduk.
"Kakak harus belajar untuk ikhlas, jangan pernah berpikir aku pergi karena aku gak cinta sama kakak. Aku cinta sama kakak, itu sebabnya aku pergi, aku juga ingin berjuang kak, tapi aku gak mau ngelibatin kakak dalam perjuangan aku. Kalau memang nanti aku sembuh, aku akan kembali, untuk kakak. Tapi..." Melody menjeda sedikit ucapannya karena tenggorokannya terasa sangat sakit, air matanya juga sudah jatuh tak tertahan.
Kalian tahu hati keduanya hancur. Perpisahan ini sangat menyiksa.
"Tapi, jangan menunggu kak, jangan. Aku gak mau buat kakak berharap lebih. Kakak harus tetap bangkit, cari perempuan lain, yang lebih baik dari aku dan mulai semuanya dari awal. Lupain aku!" meski sulit, Melody harus tetap mengatakan itu.
Alan mendonggak dan menggeleng cepat, tak semudah itu mencari pengganti Melody. Melody berbeda, bukankah Alan sudah mengatakan, yang cantik banyak, yang baik banyak, tapi yang membuat nyaman itu sangat sulit untuk di dapat. Dan ketika Alan sudah mendapatkan seorang yang membuat alan nyaman, kenapa Alan harus melepaskan? Menunggu pun Alan lakukan, tak apa.
"Kakak harus sehat terus, jangan nakal, harus jadi orang sukses pokoknya." Melody mengusap pelan pipi Alan, usapan terakhir? Itu mungkin.
Alan pun langsung memeluk Melody.
Langit sore yang menjingga menjadi saksi berakhirnya semua. Perpisahan akan merenggut kebahagiaan dua insan yang sedang dibanjiri cinta. Tapi mau apa? Mereka hanya mengikuti jalannya takdir, tanpa bisa sedikit pun mengubah.
Satu yang jelas tergambar dari keduanya, satu sisi bergerak pergi dengan ketabahan yang selalu melekat dalam diri, merelakan kebahagiaan, meski sesak selalu terasa. Satu sisi lagi, berdiam di satu tempat, dengan keyakinan bahwa dia akan menunggu. Karena menurutnya menunggu tidak akan membunuh dirinya, anggap jika ini semua ujian cinta.
Dan tak bisa di pungkiri keduanya berharap kedepannya mereka bisa bertemu, melanjutkan kisah cinta di lembaran cerita yang baru. Menata semua dengan lebih baik, hingga semua kebahagiaan yang akan selalu terasa.
***
Tamat?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Belom kok😪😅