ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Sederhana



"Ini hati, bukan untuk di lukai. Tapi, ini hati untuk di jaga."


***


Melody terlihat bersemangat memasuki ruang kelasnya. Ia rindu dengan kelasnya. Selama seminggu ini, Melody memang tak pernah berkunjung ke kelasnya karena sedang melaksanakan ujian. Ruangannya pun di acak.


Melody masuk ke dalam ruang kelas. Bayu terlihat di kerumuni oleh penghuni kelas.


"Eh ..itu Melody, sini!" panggilan itu berasal dari Dena.


Dengan langkah pelan Melody mendekat, agak canggung karena harus mengobrol dengan seisi kelas. Mengingat beberapa hari yang lalu tengah terjadi konflik di antara mereka. Tapi sudahlah, tak ada yang mau membahas lagi, melupakan mungkin lebih baik.


"Sebagai ketua kelas, gue pengen ngasih info ke kalian semua." seisi kelas pun menjadi hening, menunggu info apa kah yang akan di berikan.


Bayu pun mulai menatap serius ke semua penghuni kelas.


"Kan lo semua tahu, hari ini itu pembukaan PORSENI di sekolah kita. Dan gue pengen, kekompakan kalian untuk ini. Gue pengen kita, kelas kita maksud gue..., gue pengen kelas kita banyak menangin lomba. Lo semua ngerti kan?"


Semua terlihat mengangguk.


Tak lama, Bayu pun membagi, dan mempertanyakan siapa yang ingin ikut lomba, maka boleh-boleh saja.


Entahlah Melody jadi bingung, bukankah sudah Melody katakan jika Melody membenci olahraga. Jadi tentunya Melody tidak akan ikut apapun yang berkenaan dengan olahraga.


***


Di tempat lain, Alan, Eza dan Gio tengah bersantai di dalam kelas. Entahlah, bingung ingin melakukan apa.


Tentu saja, Eza dan Gio memiliki semangat 45 untuk mengikuti lomba PORSENI.


"Gue bingung kenapa yah gak ada lomba jalan mundur? Padahal gue kan ahlinya." Eza memecah keheningan dengan mempertanyakan suatu pertanyaan yang tak berbobot.


"Kalaupun ada, gue yakin cuman elo yang jadi pesertanya. Lo tau kenapa?"


"Karena gue ganteng." jawab Eza dengan tingkat kepedean yang tinggi.


"Bukan." kata Gio dengan penuh penekanan.


"Terus..."


"Soalnya lo udah gila, otak lo geser ke ujung kuku. Makanya jadi oleng gini."


"Sahabat macam apa lo Gi, kok lo bilang gue gila. Jahat banget." Eza mulai bersandiwara dengan menampilkan wajah sok imutnya.


"Hahaha..." tawa Gio pecah. Dan itu membuat Eza menjadi kesal.


Beda dengan Alan yang nampak menunjukkan ekspresi yang biasa saja. Masih datar.


"Eh, gue jadi lupa!" Eza berdiri sambil menggebrak meja.


Gio yang melihat tingkah tiba-tiba Eza langsung kaget dan langsung melempar wajah Eza dengan pulpen, yang entah Gio dapat darimana.


"Kaget gue..." mendengar pekikan Gio, Eza hanya tertawa kecil.


"Eh, Lan?" panggil Eza pada Alan. Tapi, kali ini jangankan jawaban di gubris pun tidak.


"Yah kacang." desah Eza sambil ingin menjambak rambut Alan yang sexy.


"Alan, dengerin gue napa?" teriak Eza dengan nyaring. Dan itu malah membuat Alan kesal.


"Hm?" akhirnya, tak sia-sia. Alan pun merespons, walaupun dengan dua huruf yang tak berarti.


"Pas lo jatuh dari motor, kan katanya ada yang sengaja nyerempet motor loh tuh? Elo tahu siapa yang sengaja lakuin itu?"


Mendengar itu Alan kembali memutar ingatannya pada hari-hari yang lalu. Alan tahu, tapi Alan tak ingin memberi tahu siapa pun. Ini masalah Alan, dan Alan tak mau melibatkan sahabat-sahabatnya.


"Gak." singkat Alan dan tentu Eza dan Gio tak akan percaya semudah itu.


"Lo gak bakat bohong Lan, udahlah lo jujur aja." mendengar itu Alan tertegun, percuma. Berbohong pada sahabat nyatanya akan berakhir dengan ke gagalan. Sebab, yang dikatakan sahabat, pasti tahu dan pasti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya.


Sahabat itu orang yang paling mengerti dari yang mengerti, tak sedarah. Tapi selalu sehati, dan selalu mengerti. Itulah sahabat.


Jadi, sekarang Alan harus apa? Kebohongan nyatanya malah tak mampu menang, jika dikatakan di hadapan sahabat.


"Lo jujur aja, apa susahnya."


"Sayangnya nama gue Alan, bukan jujur."


Dan itu, tanda jika Alan tengah berusaha menutupi kebohongannya. Eza dan Gio memang bodoh tapi sama sekali kebodohan itu tak ada pengaruhnya jika berhadapan dengan kebohongan.


"Lo bodoh, udah lah jujur aja!" kata Gio dengan tegas.


"Jujur Lan, jujur..." Eza mulai mendramatiskan ucapannya. Dan itu kedengaran sangat geli.


"Ijaz."


"Udah gue duga!" kata Eza dan Gio serentak.


Lama, hanya hening yang mendominasi di antara mereka. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


***


Jam menununjukkan pukul 3 sore, dan Alan tengah berdiri di depan kelas Melody dengan tubuh yang sepenuhnya di sandarkan di tembok, dengan tangan yang di lipatkan di dada.


"Kakak!" hendaknya ingin mengangetkan Alan, tapi malah Melody yang kaget saat melihat ada seekor kucing yang tengah melintas di depan kelasnya.


Alan yang mendengar teriakan Melody langsung mendekat dan memperhatikan wajah tegang Melody.


"Kucing..." Melody langsung berlari masuk ke dalam kelas. Tak peduli dengan tatapan Alan yang berubah menjadi bingung dan khawatir.


Melody memang agak takut dengan kucing, bukan takut karena apa. Hanya saja Melody sedikit phobia dengan kucing. Karena dulu Melody pernah di cakar kucing. Dan sampai sekarang Melody masih takut.


Tak mau membuang waktu lama, Alan langsung berlalu dan masuk ke dalam kelas Melody.


Tatapannya terhenti saat melihat Melody tengah berada di atas bangku dengan tatapan takut.


"Kenapa?" suara Alan terdengar dingin tapi nada khawatir masih terselip di dalamnya.


"Melody takut kucing." kata Melody cepat, sambil mengepalkan kedua tangannya gemas.


Alan yang mendegar itu hanya mampu tersenyum kecil. Dan itu malah membuat Melody menjadi semakin malu.


"Kakak gak usah senyum ngeledek gitu..." sentak Melody.


"Gak." Alan menggeleng pelan, lalu mendekat ke arah Melody.


Alan berdiri di hadapan Melody lalu meraih kedua tangan Melody. Menariknya dengan pelan lalu di ciumnya dengan lembut.


Melody merasa jika ia adalah cewek yang paling beruntung. Ingin rasanya Melody berteriak tapi masih ia tahan.


Seperkian detik Alan melepaskan ciumannya dari tangan Melody, lalu meletakkan tangan Melody dengan pelan ke tempat semula.


Berbalik dan membelakangi Melody. Tas punggung Alan pun ia gendong di depan.


Melihat tingkah Alan yang aneh, Melody pun menautkan alisnya bingung.


"Naik!" kata Alan dengan tegas dan tak terbantahkan.


"Naik? Kemana?" Alan berdecak sebal, Melody sangat polos atau bodoh?


"Ke punggung gue."


Mendengar itu Melody langsung tesenyum lebar. Tanpa mau berlama-lama Melody pun langsung naik ke punggung Alan.


Untungnya pun, Melody saat ini memakai baju olahraga, jadi tak akan rumit.


"Berat!" protes Alan dan itu membuat Melody menahan kesal.


"Yaudah turunin." Alan terkekeh pelan, lalu itu membuat Melody melayang kembali.


"Cinta gue yang berat ke elo."


Aduh, Melody merasa jika pipinya sudah sangat memerah.


"Melody pikir berat badan Melody."


"Seberat apapun lo, gue pasti kuat gendong lo. Bahkan buat ngelilingin dunia gue sanggup." kata Alan dengan sungguh.


"Masa sih?"


Alan hanya mengangguk pelan.


Melody yang kini mengalungkan tangannya di leher Alan, bisa secara langsung menghirup aroma rambut Alan yang harum dan itu makin membuat Melody nyaman.


"Rambut kakak wangi."


"Rambut lo lebih wangi."


"Kan, ketahuan! Sering nyium rambut Melody." kata Melody dengan semangat.


"Iya." singkat Alan.


"Iya apa?"


"Gue cinta Melody." Melody yang merasa tak kuasa menahan senyuman langsung menenggelamkan kepalanya di punggung Alan.


"Melody cinta Alan gak?" tanya Alan dengan suara menggoda.


"Cinta..." suara melengking Melody membuat Alan kembali terkekeh.


"Tapi bohong!" sambung Melody cepat.


"Oh yah?"


Melody tersenyum lagi. Tidak. Itu salah, bahkan cinta Melody sangat besar ke Alan.


"Melody cinta kak Alan."


Mendengar itu Alan tertawa dengan senang.


Cinta, itu bisa membuat orang gila, tapi bukan gila karena nafsu melainkan gila karena bahagia. Karena cinta yang asli, bukanlah cinta yang beralaskan nafsu ingin memiliki, melainkan cinta yang ingin membahagiakan dan menjaga.


Itulah cinta.


***