
"Ketika takdir merenggut kebersamaan, membawa luka yang amat parah, memenjarakan rasa dengan dalam, hingga kekecewaan hanyalah dasar untuk penyesalan."
***
Melody terbangun dalam tidur singkatnya, saat rasa haus dan lapar mulai menggerogoti tubuhnya.
Pertama, saat mata terbuka, hanya kegelapan yang mampu menyapa. Tak ada penerangan yang berarti di ruangan itu. Semua terasa kosong dan hampa.
Rasa takut jelas menghantui Melody. Takut dengan keadaan, takut dengan semua kemungkinan yang akan terjadi di sini.
Melody takut jika benar hidupnya akan berakhir tragis di rumah tua ini? Itu berarti tak ada kesempatan bagi Melody untuk melihat wajah orang-orang yang Melody sayangi. Tak ada kesempatan untuk mengucap maaf pada sang kekasih yang telah Melody tuduh berselingkuh.
Alan-nya, Melody merasa bersalah pada Alan. Melody di butakan oleh ego, hingga tak mau mendengar kebenaran. Hingga kini, penyesalan seolah-olah mengepung dirinya, membawa sesak yang berarti.
Doa selalu Melody panjatkan, semoga Allah swt. Memberikan satu kesempatan kepada Melody, untuk bertemu Alan dan meminta maaf. Hanya itu, jika memang ini sudah takdir, biarkan Melody mengucap maaf, sebelum dirinya benar-benar terbawa dalam tidur yang abadi.
Mata Melody kian memanas, saat puing-puing kenangan di hari-hari lalu mulai datang menyapa, hari di mana dirinya dan Alan bersama. Melewati hari dengan kasih, senyum yang selalu Alan torehkan di hidup Melody, warna yang Alan datangkan untuk hari Melody dan semua yang mereka lewati bersama. Itu kembali teringat dalam ingatan Melody.
Ingatan itu membuat tangisan Melody semakin lirih, bahkan di saat seperti ini, Rindu semakin menyesakkan hati Melody. Rindu itu membawa harapan yang selalu Melody semogakan di saat ini. Bahkan Melody meminta, semoga ada keajaiban, semoga saat ini Alan datang membuka pintu, membawa Melody pergi menjauh dari tempat menyeramkan ini. Itu harapan Melody, dan Melody yakini semoga itu tak hanya menjadi harapan semata, semoga itu menjadi nyata.
Ceklek...
Pintu terbuka dan menampilkan dua sosok yang Melody sangat benci saat ini.
Melody bukan membenci tanpa sebab, Melody membenci karena Melody hanya manusia biasa, Melody tak bisa menerima semua perlakuan yang dua orang itu lakukan, menyiksa Melody seperti memperlakukan hewan peliharaan.
Dan bisa Melody pastikan mereka datang bukan untuk membebaskan tapi mungkin mereka datang untuk mengantarkan Melody untuk dijemput oleh kematian.
Isakan Melody beradu dan terdengar dengan pilu, tak peduli tentang bagaimana lemahnya dirinya saat ini. Ia ingin menangis dan tangisan ini mungkin yang terakhir kalinya, sebelum nafasnya di renggut paksa oleh dua psikopat itu.
Dalam hati Melody terus saja memanggil nama Alan, mengirimkan rasa rindu yang Melody tahan. Melody ingin Alan merasakan semua yang Melody rasakan dan tentu saja Melody ingin Alan menemukan dirinya, meski dalam keadaan bernyawa atau sudah kaku tanpa nafas.
Tentu saja, Alan merasa apa yang di rasakan Melody. Rindu yang menggebu, beradu dengan satu, yaitu ketakutan yang kini malah menyesakkan Alan.
Alan di sini berusaha, berusaha mati-matian melacak lokasi Melody, berharap akan ada hasil yang memadai hingga semua dapat berakhir dengan baik.
Plak...
Plak...
Dua tamparan itu mendarat lagi di pipi mulus Melody, tamparan itu berasal dari tangan Ajeng. Lalu Ajeng menarik lakban di mulut Melody dengan kasar.
Sementara Ijaz hanya diam sambil menampilkan senyum liciknya.
"Kenapa kalian ngelakuin ini?" tanya Melody dengan suara yang serak. Melody butuh alasan untuk dasar penyiksaan ini.
Kini Ijaz yang mendekat dan itu membuat Melody menggeleng cepat, takut akan apa yang Ijaz akan lakukan.
"Lo mau tahu?" Ijaz berteriak nyaring tepat di hadapan Melody, tak hanya itu tangannya pun terulur menarik rambut Melody kasar.
"Aww, sakit kak..." teriak Melody tak tahan, rasanya rambutnya sudah banyak yang rontok karena tarikan kencang yang Ijaz lakukan.
Tentu saja Melody tak mengerti.
"Maksud kakak?"
"Lo kenal Mega?" tanya Ijaz dengan tatapan tajam.
Mendengar nama Mega, ingatan Melody kembali teringat pada sosok cewek yang dulu pernah melukainya dan untungnya Alan datang.
"Dia cewek gue dan sekarang dia udah meninggal! Dan lo tahu dia meninggal gara-gara bunuh diri. Dan itu karena elo dan Alan." Melody mengerutkan alisnya bingung, apa masalahnya sehingga kematian Mega di sangkut pautkan dengan ia dan Alan.
"Mega depresi karena dia gak bisa dapetin Alan, dan Alan malah pacaran sama elo, dan pas itu, waktu Mega ngebully lo, Alan lapor ke kepala sekolah dan akhirnya Mega di keluarin dari sekolah. Setelah itu Mega di temuin udah nggak bernyawa di apartemennya, dia bunuh diri. Dan itu semua gara-gara lo dan Alan."
Melody terdiam, tak percaya. Mega bunuh diri karena tak bisa mendapatkan Alan? Tunggu bukankah tadi Ijaz mengatakan jika Mega itu pacar Ijaz, lalu kenapa Ijaz malah membiarkan Mega mengejar Alan?
"Gue emang gak rela saat gue tahu Mega belum bisa lepas dari Alan, gue sakit saat Mega masih suka sama Alan, tapi gue gak peduli! Gue cuman pengen Mega bahagia, dan kalau bahagianya sama Alan yah gue bakal coba terima itu. Tapi, rasanya Alan gak tahu ngehargain cewek. Dan malah nolak Mega, sampe Mega depresi dan bunuh diri. Dan gue gak bakal terima itu, kalau gue udah kehilangan Mega, maka Alan harus ngerasain apa yang gue rasain, kehilangan sosok yang dia cintai, dan itu elo..."
Plak...
Tamparan kembali mendarat pipi mulus Melody. Mendengar ucapan Ijaz, Melody jadi tak terima.
"Kakak yang gak bisa ngehargain cewek." teriak Melody dengan berani.
"Ini kebodohan, bukan cinta. Mestinya kakak bisa menuntun Kak Mega untuk bisa menjauh dan lupa sama Kak Alan, bukan malah nurutin obsesi Kak Mega sama Kak Alan. Kakak bodoh, karena kakak rela nyakitin diri kakak sendiri demi kak Mega, dan kakak terlihat semakin bodoh dengan apa yang kakak lakuin sekarang! Kakak di butakan oleh dendam, dan apa dengan kakak bunuh aku, kak Mega bakal balik? Iya? Nggak kak, lebih baik kakak ikhlasin Kak Mega, ikhlas kak..."
Ijaz terdiam mendengar ucapan Melody, dalam hati Ijaz mengakui jika dirinya brengsek. Ini bukan Ijaz yang asli, bukan. Ijaz hanya terbawa oleh dendam dan dendam itu semakin membara saat Ajeng menawarkan kerja sama untuk melenyapkan Melody.
Bukankah Ijaz salah? Iya, Ijaz salah. Kenapa Ijaz bisa sebrengsek ini, melukai seorang wanita. Tak bisakah Ijaz berpikir jernih, ini sama saja jika dia tengah menyiksa ibunya.
"Jangan dengerin cewek ular itu Jaz, dia cuman pengen ngehasut lo." Ajeng berusaha meyakinkan Ijaz agar Ijaz tak terpengaruh. Namun sayang, ucapan kata demi kata yang Melody lontarkan kini malah membuat Ijaz sadar jika semua ini salah.
Cintanya itu kebodohan. Dan semestinya yang Ijaz lakukan adalah ikhlas. Bukan malah seperti ini.
Tanpa menunggu lama Ijaz membuka ikatan kaki Melody dan tentu saja Melody kaget.
"Maafin gue, gue udah buta, dan gue malah terpengaruh sama ucapan Ajeng." suara Ijaz terdengar sangat tulus. Dan itu membuat Melody tersenyum samar.
Ijaz memang orang baik-baik, tadi dia hanya terpengaruh oleh ego yang berkelanjutan.
"Jauhin tangan lo Jaz, jauhin!" sentak Ajeng dan menarik paksa jaket yang Ijaz kenakan.
"Lo yang jauhin tangan lo dari Melody..." teriak Ijaz dengan kencang. Tentu saja Ajeng kaget. Tidak, ini tidak boleh Ajeng biarkan. Melody harus habis di tangannya.
"Lo terlalu lemah!"
Dan apa peduli Ijaz? Yang Ijaz tahu, dia salah.
"Gue gak akan biarin Melody keluar dari tempat ini dengan keadaan yang baik." tegas Ajeng sambil mendekat ke arah Melody, tapi dengan cepat Ijaz menepis tubuh Ajeng, hingga Ajeng tersungkur ke lantai kayu yang sudah tua.
***