
Jam sudah menujukkan pukul 12 malam, ini sudah sangat larut dan Alan baru beranjak dari tempatnya tadi, di tengah jalanan. Dengan cepat Alan kembali melajukan mobilnya membelah jalan di malam hari. Alan kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Saat sampai di depan rumah mewah yang terlihat sederhana, Alan langsung membawa mobilnya masuk tanpa menaruhnya terlebih dahulu di garasi.
Alan menatap keadaan rumahnya yang terlihat masih ada tanda-tanda kehidupan. Dengan langkah cepat, Alan membuka pintu dengan kasar dan langsung berjalan masuk.
"Mama..." teriak Alan dan langsung bersimpuh di bawah kaki Nada--Mama Alan.
Nada yang melihat anaknya dangat kacau langsung jongkok dan membantu Alan berdiri dan menggiringnya ke sofa untuk duduk.
Sementara Afraz, yang melihat anak tunggalnya itu sangat lemah langsung kembali di buat heran. Alan tak pernah selemah ini, tak pernah.
"Ada apa?" cemas Nada sambil memeluk Alan yang sedari tadi sudah berhambur ke pelukannya.
"Mah, dia kembali!"
Nada tersenyum mendengar itu.
"Tapi, dia sudah mempunyai suami." lirih Alan.
Tak lama, isakan tangis pun mulai terdengar. Bahu Alan berguncang hebat, tubuhnya bergetar kuat. Kesedihan jelas menggerogotinya. Kenyataan ini adalah kenyataan yang Alan tak inginkan.
"Ikhlas nak, mungkin dia bukan untuk mu."
Alan menggeleng dalam tangisnya. Bagaimana bisa ia ikhlas? Sementara rasa cintanya sama sekali tak berkurang saat ini.
"Alan ingin dia, Mah..."
"Percaya sama Mama, pasti masih ada yang terbaik dari yang terbaik untuk kamu."
"Alan cuman mau sama Melody."
"Tapi kamu harus ingat, kenyataannya jika Melody sudah punya suami."
"Alan akan rebut Melody, paling nggak jangan salahin Alan, kalau Alan ngebunuh suami Melody."
"Jangan nekat. Kamu mau liat Melody sedih, karena kamu mau melakukan hal gila pada suaminya."
Alan terdiam, tidak. Melody tak boleh bersedih. Alan ingin Melody bahagia. Tapi egoisnya, Alan ingin Melody bahagia bersama Alan, bukan dengan lelaki lain.
"Gak kan?"
Alan mengangguk.
"Cobalah untuk ikhlas."
Alan tak berkutik. Namun langsung berdiri dan melangkah menaiki anak tangga berniat menaikinya untuk sampai di kamarnya.
Pikirannya sangat kacau dan Alan ingin ketenangan. Mungkin dengan menyendiri di dalam kamar, pikirannya sedikit terbuka. Meski Alan tahu kemungkinannya sangat kecil untuk mendapat ketenangan. Sementara pikirannya selalu mengarah pada Melody, Melody dan Melody.
Alan menarik nafas kasar, saat sudah sampai di depan kamarnya. Dengan kasar Alan membukanya dengan mendorongnya. Hingga suara dentuman pintu beradu dengan tembok.
Satu yang Alan lihat, kegelapan. Itu sama dengan hatinya. Yang sekarang di penuhi dengan kegelapan. Dengan cepat tangan Alan meraba sakelar lampu yang ada di samping kanannya.
Sedikit Alan merasa kesusahan. Dan tentu itu makin membuat Alan semakin kesal.
"Sialan." umpat Alan dan kembali berusaha menyalakan lampu.
Dan saat semua cahaya menerobos masuk ke dalam kamar Alan. Bersamaan dengan suara teriakan riuh yang menggema.
"HAPPY BIRTHDAY TO YOU...
HAPPY BIRTHDAY TO YOU...
HAPPY BIRTHDAY...
HAPPY BIRTHDAY...
Alan langsung terkulai lemas melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Kamarnya sudah tak nampak rapi, balon tertempel di mana-mana dengan balon huruf yang bertuliskan 'HAPPY BIRTHDAY ALAN'
Alan terduduk di lantai sambil mengacak rambutnya frustasi. Lalu menampar pipinya dengan keras. Apa ini mimpi?
Melihat Alan yang nampak sangat kaget, Melody dengan langkah cepat langsung berjalan mendekati Alan dan menyodorkan kue ulang tahun. Seraya tersenyum dengan manis.
"Selamat ulang tahun kakak, aku cinta kakak." Melody ikut terduduk di lantai, sambil masih menyodorkan kue.
Alan yang melihat itu langsung terdiam,l dan menatap Melody dengan lirih. Wanita yang ada di hadapannya ini selalu membuatnya merasa takut.
"Maaf, sudah membuat kakak takut!" Melody masih setia memegang kuenya sambil menatap Alan tanpa kedip. Dalam hati Melody merasa bersalah, sudah membuat membuat Alan kembali terjerat dan berurusan dengan takut dan kesedihan. Tapi, demi apapun Melody tak berniat untuk melakukan itu.
"Maaf, sudah membuat kakak sedih..."
Alan masih tak bergeming, tapi matanya sama sekali tak luput dari Melody.
Alan meraih kue yang ada di hadapan Melody dan memegangnya, tapi lebih tepatnya Alan memegang kedua tangan Melody yang juga menempel di kue itu.
"Tiup lilinnya, tiup..."
"Fiuhhh...." tanpa aba-aba Alan langsung menarik nafas dan mengeluarkannya dengan suatu tarikan kencang. Hingga semua lilin yang ada di atas kue itu padam.
Lalu Alan terlihat memejamkan matanya seraya melapalkan keinginannya. Keinginan yang selalu ia prioritaskan adalah wanita yang ada di hadapannya, Melody.
Perlahan mata Alan terbuka dan menatap Melody sendu. Tarikan nafasnya tak teratur, detakan jantungnya tak normal.
Tangan Alan terulur menurunkan kue yang ada di tangan Melody ke lantai dan kemudian menggenggam tangan Melody erat lalu di kecupnya pelan.
Dan, ini lagi-lagi membuat lutut Melody lemas. Alan sangat keterlaluan karena mampu membuat Melody lemah akan rasa.
"Kamu hampir membunuh ku..." serak Alan sambil masih menatap Melody sendu. "Bahkan sesaat kamu telah membuat ku gila."
"Aku, lemah tanpa mu, bagi ku kamu adalah nafas ku." tarikan nafas Alan sangat tak terkontrol.
"Maaf, kakak..." cicit Melody dan menunduk. Alan langsung meraih dagu Melody dan mengarahkannya untuk menatapnya.
"Aku tidak akan memaafkan mu," desis Alan. "Kecuali..."
"Kecuali?" ulang Melody sambil menaik turunkan alisnya dengan gugup.
"Will you marry me?" Melody yang kaget langsung menganga. Alan yang melihat itu langsung terkekeh pelan.
"Will you marry me?" ulang Alan.
Mata Melody berair dan semua kata yang ingin ia ucapkan rasanya tak mampu keluar, lidahnya keluh dan kaku.
Dengan pelan Melody mengangguk.
"Maaf akan di terima." senyum Alan merekah. Tanpa aba-aba Alan langsung meraih tubuh Melody dan mengangkatnya, menggendongnya lalu memutar-mutarkan tubuhnya. Kebahagiaannya tak terbatas, akhirnya perjalan kisah cinta mereka akan berlanjut ke jenjang yang serius.
Mungkin inilah yang dinamakan jodoh, meski sudah berlalu pergi dengan masalah, tapi ujungnya akan kembali lagi.
Bukan berarti saat mereka bersama seperti kali ini, masalah akan berhenti menghadang. Mungkin ini adalah awal dari masalah yang akan memperkuat cinta mereka, awal dari pembuktian cinta mereka.
Akhir bahagia, selalu yang mereka harapkan, dan inilah akhirnya, perjuangan, penantian, kesetiaan sudah terbayar sudah.
-End-