ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Mulai Bahagia



"Aku tak perlu berteriak lantang, sebab dunia dan semesta sudah tahu, aku milik mu."


***


Alan berdiri di atap sekolahnya. Memandangi kedua sahabatnya yang tengah sibuk berdebat mengenai hal yang menurut Alan tak ada faedahnya.


"Gue bilang empat yah empat lo budeg atau apa?" teriak Eza dengan lantang.


"Banyak banget, gue bilang dua. Lo kagak pernah dengar dua anak itu lebih baik. Lagian lo mau buat Melody menderita hah? Si Alan mah enak, buatnya doang Melody apaan?" Gio menolak tak terima pendapat Eza.


"Empat, yah empat. Lo mah kagak ngerti. Masalah buat itu, kan ke enakan bersama. Untungnya si Alan, Melody mah..."


"Shut up!" merasa jengah akhirnya Alan angkat suara.


Tahu tidak apa yang mereka berdua bicarakan? Mereka membahas hal yang tak berfaedah yaitu menerka-nerka jumlah anak Alan dan Melody nanti.


Bukannya itu rahasia sang pencipta. Tapi, kenapa dua bocah ini malah menebak berlebihan.


"Gue sebelas." tegas Alan lalu mengalihkan tatapannya pada handphone-nya.


"What? Lo parah ****, lo mau buat Melody kesiksa." kata Eza tak setuju.


"Masalah?" dengan tatapan tajam Alan membuat Eza dan Gio bungkam.


Hening. Tak ada percakapan. Semua sibuk dengan handphonenya.


Gio sibuk menstalk akun Dena, dan Eza sibuk menstalk akun mantannya, Faya.


Sementara Alan sibuk bermain Mobile Legend.


Alan, Gio dan Eza memang bolos lagi. Kali ini, mereka bolos karena jengah, bosan terus-terusan menerima pelajaran yang berlebihan. Rasanya itu memuakkan.


"Lan?!" panggil Eza sambil menatap Alan, menghentikan sejenak aktivitasnya.


"Hm..." dehem Alan seoalah-olah mewakili suara Eza.


"Lo kenapa bisa jadian sama Melody?" kepo Eza.


"Iya, bukannya elo itu kayaknya gak suka banget sama Melody?" kali ini suara Gio pun terdengar.


"Jangan-jangan lo cuman manfaatin Melody yah? Lu cuman mau buat dia baper abis itu lo tinggal? Astaga lo jahat banget." tuduhan-tuduhan mulai terarah pada Alan, sementara Alan hanya menatap datar kedua sahabatnya itu.


"Kayak di sinetron-sinetron itu kan?" tanya Gio lagi.


"Parah yah lo, inget Lan, karma, karma!" Eza menepuk pelan bahu Alan, seolah mengingatkan jika yang dilakukannya itu salah.


"Cinta." singkat Alan membuat Gio dan Eza mendengus. Bisa tidak, Alan berbicara lebih panjang, ini sudah pendek, singkat, kagak jelas lagi. Kan nyesekin.


"Maksud lo, lo cinta sama Melody?" tebak Gio dan mendapat anggukan dari Alan.


"Kok bisa?" kali ini suara Eza terdengar lagi.


Alan mengangkat kedua bahunya tanda tak tau.


"Kok lo kagak tahu..." tatapan curiga pun kembali di lemparkan oleh Eza.


"Emang cinta butuh alasan?" skak, Eza yang tadi hendak berceloteh langsung terdiam.


"Kagak sih? Ehh, tunggu lo udah punya Instagram kan?" Eza menatap Alan dengan penuh harapan.


Alan hanya menggeleng sebagai jawaban.


Eza dan Gio mendengus, buat apa punya wajah tampan jika tak di pamerkan. Tak habis pikir kenapa Alan sebego, sebodoh itu. Ini udah zamannya cekrek dikit upload.


"Hape lo sini!" Eza langsung merebut Handphone Alan, Handphone barunya maksudnya. Baru di beli tadi pagi.


"Lo," Alan mengeluarkan sumpah serapahnya, tak kuasa menahan kesal melihat kelakuan Eza yanh semakin menjadi-jadi.


Saat ini Gio sibuk menahan lengan kekar Alan, mencoba agar cowok itu tak membunuh Eza dengan bogeman dahsyatnya itu.


"Buruan setan, ini gue pegel. Gue kayak nahan anak gajah ini." Gio mendelik kesal menatap Eza yang belum selesai menjalankan misinya.


"Sabar napa, ini gue lagi serius." Gio memutar bola mata jengah, dasar tidak becus.


"Udah..." Gio langsung melepaskan Alan dan membiarkan Alan mendekati Eza yang nampak menyengir tanpa dosa atau rasa bersalah.


"Ampun pak, ampun! Gue cuman buatin lo akun Instagram aja kok, gak lebih, lagian kan elo tampan banget yah. Gak enak lah kalau lo nyianyian karunia Tuhan." kata Eza sambil menatap Alan yang semakin kesal.


"Percuma, gak tahu pake!" singkat Alan dan berlalu pergi.


"Bodoh, sahabat lo itu Gi..."


"Sahabat lo juga itu."


Alan memang begitu, terlalu ****, masa iya tidak tahu memakai Instagram? Aneh gak? Aneh banget kan.


***


Melody terlihat duduk di taman, sendiri. Melody menunggu seorang yang tadi mengirimkan pesan singkat padanya. Betapa bahagianya Melody, dulu Melody mati-matian selalu mengirim pesan singkat tapi malah tak di gubris. Sekarang, bahkan semuanya nampak begitu indah, saat Melody tahu, jika dirinya adalah pacar dari Alan.


"Hey..." suara dingin yang masih terdengar kaku itu berasal dari arah samping Melody.


"Kakak." mata Melody berbinar, saat melihat cowok dengan rambut acak-acakan itu duduk di sebelahnya.


"Makan?"


Melody mengerutkan alisnya bingung, itulah Alan, selalu berbicara dengan singkat. Membuat Melody berpikir keras.


"Maksud kakak?"


"Makan?"


"Kakak ngomong apa sih? Jangan singkat-singkat gitu dong, Melody jadi susah mikir ini." protes Melody sambil memanyunkan bibirnya sedikit kesal.


"Udah makan?"


Melody menepuk pelan dahinya. "Kakak ternyata nanya aku udah makan apa belum yah? Kok susah banget keliatannya."


"Hm..."


"Kakak itu pelit yah? Pelit banget malah."


"Pelit?" kini giliran Alan yang menautkan alisnya bingung.


"Iya, pelit ngomong maksudnya. Pelit senyum juga tentunya."


"Hm..."


"Tuhkan, kakak mah gitu. Kok,"


"Cerewet." Alan langsung menarik pipi Melody, membuat Melody memekik karena kaget.


"Kakak." teriak Melody sambil meringis.


"Iya sayang?" jantung Melody menjadi berdetak tak normal, pipinya memanas, rasanya Melody ingin menghilang dari sini saat ini juga. Suara Alan tadi begitu lembut di telinga Melody.


Melihat Melody seperti itu, Alan nampak bahagia, ujung bibirnya tertarik ke atas. Menampakkan senyum yang sangat tipis.


"Tadi kakak bolos yah?" Melody berusaha mengganti topik pembicaraan, agar Melody dapat bernafas lega.


"Kayaknya gitu." Melody memutar bola mata jengah. Kenapa Alan menjadi lebih menyebalkan.


"Kok gitu sih? Kakak jangan bolos gitu dong, kakak kan udah kelas duabelas. Jangan sampai ada nilai kakak yang bermasalah." raut wajah Melody nampak lebih serius, beda dengan Alan yang biasa saja.


"Masalah? Itu sahabat gue." Alan sedikit tersenyum remeh. Nyatanya ia bersahabat akrab dengan masalah.


"Kakak jangan ngomong gitu." tak akan Alan tahu, jika Melody saat ini sudah tahu jika ia sedang menyimpan banyak masalah, tanpa mau membaginya.


"Oke. I love you aja deh."


Lagi-lagi, cowok itu mampu membuat Melody sesak karena bahagia. Melody tak pernah tahu jika Alan memiliki sifat semanis ini.


"I love you." ulang Alan dengan sengaja.


"Kakak, ih kok ngegemesin." Melody menatap Alan dengan perasaan yang tak karuan.


"Gue tahu." tingkat kepercayaan diri Alan nyatanya sangat tinggi.


"Tapi jelek." itu bohong, bagi Melody, Alan adalah ciptaan terindah.


"Gue tahu." Dengan santainya Alan menjawab.


"Tapi aku sayang."


"Gue tahu."


"Tapi aku..."


"Apa?" Alan menaikkan satu alisnya bingung.


"Cinta." Melody menutup kedua pipinya yang nampak memerah karena nekat mengatakan cinta pada Alan.


Alan tersenyum kecil, Melody yang melihat itu langsung mengerjapkan mata dengan gemas. Senyum itu terlihat lagi.


"Gue tahu." Alan kembali mengelus pucuk kepala Melody, memberikan kehangatan yang selama ini Melody rasakan saat bersama Alan.


"Lo berhasil buat gue tersiksa." mendengar itu Melody mendonggak menatap Alan.


"Tersiksa karena, rasanya gue udah kecanduan sama lo." lagi, rupanya Alan sangat ahli membuat Melody merasa bahagia. Lewat kata demi kata sederhana yang mampu menambah detakan jantungnya.


"Beruntung banget yah orang yang jadi pacar kakak."


"Itu lo." Melody cengengesan, iya itu benar. Sekarangkan Alan itu pacar Melody, Melody itu pacar Alan.


"Maksud aku, mantan kakak yang dulu-dulu."


"Lo yang pertama," Alan menjeda ucapannya.


"Dan yang akan jadi yang terakhir."


Blushing, Alan itu memang sangat luar biasa.


"Kakak gak punya mantan?" Melody hanya bingung kenapa cowok tampan seperti Alan tak punya mantan.


"Kenapa? Lo mau gue punya mantan?"


Melody menggeleng.


"Jangan! Kakak punya Melody."


"Itu salah!" Alan protes sambil menatap Melody. Kini, Melody sudah memanyunkan bibirnya. Salah kenapa?


"Melody punya Alan." langsung saja Melody memutar bola mata jengah, apa bedanya coba? Itu hanya keterbalikan dari apa yang Melody katakan.


"Kakak kok nyebelin." tekan Melody sambil mencibir.


"I love you too."


Melody menahan senyumnya, kali ini benar-benar luar biasa. Bahagia tak terkira datang menghampiri.


Melody hanya berdoa semoga ini bisa bertahan lama.


Alan pun merasa jika dia tak pernah sebahagia ini, sudah lama kata itu menghilang. Kebahagiaan itu nyatanya sudah setahun belakangan ini tak ia rasakan, tapi kini? Kenapa ia hadir lagi, dengan kadar yang sangat memabukkan. Dan Alan suka itu. Alan hanya berdoa, tolong jaga sumber bahagia Alan, jaga Melody.


***