
"Apa sudah ku katakan? Jika senyum-mu adalah candu bagi ku."
***
Hari ini adalah hari pertama pelaksanan ujian semester genap. Dan itu selalu membuat Melody menyibukkan diri dengan tumpukan buku.
"Kok deg-degan yah kak?" tanya Melody pada Alan yang tengah sibuk bergulat dengan Handphone-nya. Apalagi kalau bukan bermain game, Mobile Legend.
"Lo deket gue."
Melody mengepalkan tangannya gemas mendengar jawaban Alan yang terdengar sangat menyebalkan. Bukan itu yang Melody maksud.
"Bukan itu kak." protes Melody.
"Hm?" sementara Alan hanya berdehem. Matanya tak berpaling dari Handphone-nya.
"Maksud Melody itu, Melody deg-degan karena pengen ujian, hari pertama lagi." benar saja, bukan hanya deg-degan, Melody juga merasa gugup dan takut. Itu, bersatu menjadi satu dan rasanya tak enak.
"Cuman ujian, gak akan mati." jawab Alan enteng sambil masih fokus ke Handphonecnya.
"Cuman?" kesal Melody.
"Iya." kata Alan dengan cepat, membuat Melody meringis.
"Kakak! Udah, jangan main game mulu. Kakak belajar!" mendengar Melody yang kesal Alan langsung berhenti bermain games dan menatap Melody.
Wajah Melody memerah karena kesal.
"Kakak jangan santai-santai gini dong. Gimana kakak mau sukses, kalau belajar aja gak mau!" Alan terdiam. Cowok memang begitu. Tidak belajar bukan berarti tak mau, hanya saja cowok itu tak mau menekankan diri. Jadi, wajar jika cowok selalu santai saat ingin melaksanakan ujian.
"Nanti juga sukses." mendengar Alan mengatakan itu, Melody semakin di buat kesal. Bagaimana bisa Alan sesantai itu?
"Kakak itu nggak ngerti, kalau Melody ingin liat kakak sukses. Melody ingin liat kakak lebih fokus ke sekolah kakak, Melody pengen liat kakak sedikit berubah, kakak gak ngerti." air mata Melody menetes entah sejak kapan.
Rasanya percuma berbicara panjang lebar dengan Alan. Alan tak akan mendengar. Alan keras kepala. Padahal itu untuk kebaikan.
Melody berbalik dan hendak pergi, tapi tangannya di tarik pelan oleh Alan. Hingga Melody berbalik menghadap ke Alan.
"Maaf." Alan menatap Melody dengan lembut. Sementara Melody masih sesegukan.
Alan merasa bersalah karena masih membuat Melody menangis. Bukan itu maksudnya. Alan hanya butuh proses dan betul Alan akan berubah untuk Melody, untuk masa depannya.
"Melody yang minta maaf kak." sesaat Melody sadar, jika ia terlalu mengekang Alan. Dan Melody sadar jika itu tak semudah apa yang dikatakan. Melody yang salah.
Begitulah yang seharusnya terjadi dalam hubungan, di saat ada masalah yang datang, cobalah untuk memulai mengatakan maaf. Meski, di dalam permasalahan itu tak tahu siapa yang salah. Intinya, kata maaf pada suatu hubungan dapat membuat suatu hubungan bisa berjalan dengan lama.
"Jangan nangis! Kalau lo nangis, gue berasa jadi orang yang paling brengsek."
Melody mengangguk.
"Gue akan berubah demi elo dan ke sebelas anak kita nantinya." itu lagi, Melody sampai bosan mendengarnya.
"Sebelas anak? Kakak itu banyak banget!"
"Gue suka anak kecil."
Mendengar itu Melody hanya terkekeh.
Hingga bel pun membuat Alan mau tak mau harus beranjak. Dan memasuki ruangannya.
Begitupun dengan Melody.
***
Alan, Gio dan Eza sama-sama memilih tempat duduk yang paling strategis. Di mana lagi, yah kalau bukan bangku paling belakang di antara yang terbelakang.
Alan bersih keras melarang Eza dan Gio untuk menyontek atau pun membuat pelampung. Katanya itu dosa. Dan itu salah satu tindakan perubahan Alan untuk berubah.
"Lo si Lan, napa lo larang gue bikin pelampung?!" protes Eza yang sudah kelimpungan, bingung sebentar akan menjawab apa di kertas jawabannya. Untung bila soal itu Pilihan ganda, tapi bagaimana kalau itu Essay? Bagaimana?
"Entar kita mau jawab apa ini?" teriak Eza dengan pelan.
"Jawaban lah." jawab Alan dengan santai. Dan itu sangat membuat Eza semakin kesal.
"Derita lo." kata Gio lalu terkekeh.
"Gi..lo itu harapan satu-satunya untuk kita. Di antara kita bertiga cuman lo yang punya otak, walaupun dikit."
Mendengar itu Gio berdecak kesal, itu kesannya seperti menghina secara halus. Dan itu sangat tak keren.
"Kok dengernya gue pengen nabok yah?" Gio sudah mengepalkan tangannya bersiap melayangkan tabokan yang luar biasa memabukkan.
"Jangan nabok, cium aja sini." entah, tapi itu kedengaran sangat menjijikkan di telinga Alan dan Gio.
"Lo kerasukan yah?"
"Iya, gue kerasukan setan pohon toge."
Alan dan Gio semakin di buat kesal. Apa ada setan yang bersarang di pohon toge? Bukannya pohon toge itu kecil yah?
"Lo bosen hidup Za!" pekik Gio sambil menatap malas ke arah Eza.
"Ah, udahlah. Diem, gue pengen ngasih tahu kalian sesuatu." Eza menatap ke sekeliling kelas yang sudah mulai ramai, tapi masih belum ada pengawas yang masuk. Dan itulah kesempatan yang terbaik untuk membuat strategi.
"Jadi, lo denger yah!" kata Eza lalu menjeda ucapannya.
Alan dan Gio hanya mengangguk malas.
"Jadi kalau soalnya entar pilihan ganda. Kita bisa saling ngasih kode. Nih liat yah, kalau gue nyentuh dagu itu jawabannya A. Kalau gue nyentuh bibir itu jawabannya B. Kalau gue nyentuh hidung itu jawabannya C. Kalau gue nyentuh alis atau mata itu jawabannya D. Dan kalau gue nyentuh dahi itu jawabannya E. Lo pada ngerti kan?"
Hanya Gio yang mengangguk paham. Sementara Alan hanya diam tak mau menggubris. Dasar Eza licik.
"Lan, lo ngerti kagak?" akhirnya Alan hanya mengangguk pasrah.
Hingga kelas kembali heboh karena ada yang mengatakan jika pengawas sudah berjalan.
Beginilah keadaan kelas. Semua yang ada di dalam kelas ke luar di pintu untuk menengok siapakah pengawas yang akan mengawasi ruangannya.
Tak terkecuali, Eza dan Gio pun melakukan hal yang sama, dan kini hanya Alan yang duduk tenang di dalam kelas sambil membaca buku catatan Matematika-nya. Karena memang ulangan pertama itu Matematika. Dan tolong jangan remehkan Alan, sedikit namun pasti. Alan juga ahli mengerjakan soal Matematika.
Suara teriakan pun kembali membuat Alan merasa jengah. Di saat para cewek mulai berlari dan berebut ingin duduk bersama Alan.
Kali ini memang ada penggabungan kelas antara kelas duabelas dan kelas sebelas dan sialnya Alan tak satu kelas dengan Melody. Padahal Alan sangat ingin satu kelas dengan Melody. Namun sayang Tuhan berkehendak lain. Sadis yah?
"EH...AWAS YAH KALAU LO PADA DUDUK DI DEKAT ALAN GUE, GUE TABOK LOH?"
"GAK. GUE YANG DUDUK DI SAMPING ALAN."
"AWAS AJA GUE CAKAR LO."
"KAK ALAN DUDUK SAMA GUE LAH."
"KAK ALAN PUNYA GUE."
"GUE LAH."
"KAK ALAN ITU PUNYA GUE."
Alan yang sangat kesal langsung menarik cowok berkacamata untuk duduk di sampingnya. Dan itu mampu membuat semua cewek merasa kalah.
Alan tak mau pusing. Hingga seorang guru masuk dengan tampang sangarnya.
Eza menatap seorang guru wanita itu dengan kalut.
"Gila, gimana mau nyontek. Ini guru ngawasnya ketat banget, ketatnya itu ngalahin rok cabe-cabean."
"Bacot loh!" bisik Gio sambil menatap Eza kesal.
Dengan pasrah Eza pun menjawab sesuai dengan kata hatinya, tak peduli jika itu nanti akan salah. Karena yakin dan pasti, jika nanti Eza akan remed juga.
Jadilah sekarang, menjawab dengan hati bukan dengan pikiran. Karena menurut Eza, hati tak akan pernah salah.
***