
"Takdir membawa cinta kembali, membuat hati menjadi terisi, hingga kebahagiaan pun melimpahi."
***
Alan terbangun sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, Alan menatap sekelilingnya heran. Tadi, ia ada di panggung dan sekarang sudah ada di sofa yang entah Alan tak tau di mana.
"Udah sadar lo? Gimana lo baikan?" Alan tak menggubris. Matanya mencari seseorang.
Matanya tak mungkin salah liat, tadi Alan melihat dengan jelas.
"Melody mana?" tanya Alan.
"Hah? Lo ngigo Lan atau jangan-jangan pas pingsan tadi kepala lo kejedot yah ampe agak oleng gini otak lo?" tidak. Alan tak begitu, tadi Alan melihat sosok wanita yang di maksud oleh sahabatnya dan wanita itu adalah, Melody.
"Lan, lupain Melody. Dia gak akan kembali." mendengar itu Alan langsung memejamkan matanya, tak sanggup dia mendengarkan kenyataan hidup yang sangat menyakitkan ini.
Dan itu benar, mungkin Melody tak akan kembali dan Alan akan sendiri.
Lama. Alan tak berkutik. Hanya diam, sambil memejamkan mata. Alan takut melihat dunia. Karena rasanya, dunia pun kini mengejeknya.
"Kakak,"
Alan menggeleng pelan, tapi tak berniat membuka matanya. Itu hanya angin lalu, dan itu tak pernah nyata. Suara itu, suara tipuan.
Alan merasa jika dia memang sudah gila. Bahkan kini ia mendegar suara Melody memanggilnya.
"Kakak,"
Itu yang kedua kalinya dan Alan kali ini benar-benar merasakan jika ia dan dirinya sedang mengalami masalah besar, apakah Alan sudah mulai gila?
Hingga sentuhan pun mendarat pada rambut Alan yang sudah acak-acakan. Alan yang merasakan itu langsung terdiam. Matanya masih terpejam, tapi jantungnya kini sudah berdetak cepat.
Aroma parfum yang Alan kenali itu, semakin membuat Alan frustasi. Separah ini kah masalahnya? Alan benar-benar gila.
"Kakak,"
Itu yang ketiga kalinya dan Alan merasa takut sendiri. Ia ingin membuka mata, tapi takut saat ia membuka mata ternyata semua hanyalah kepalsuan. Dan Alan akan merasa kekecewaan yang berlebihan.
"Buka mata lo Lan!"
"Aelah, si Alan berharap di kiss yah lo?"
"Alaynya dirimu Lan."
"Kakak, gak mau liat aku lagi? Kakak benci aku yah..."
Deg...deg...deg...
"Aku pergi lagi kak."
Mendengar itu, Alan langsung membuka mata. Dan melihat Melody bergerak dan tentu saja Alan reflek dan menariknya kuat. Hingga Melody kembali ke tempatnya semula.
Lama, mata keduanya saling beradu. Ada banyak rasa yang keduanya rasakan. Ada Rindu, senang, sedih, tak percaya dan itu berbaur menjadi satu.
Alan langsung terjengkit kaget dan berdiri.
"Tampar gue!" pinta Alan. Dan tentu saja itu tak jadi masalah buat Eza, Gio dan Ijaz.
*Plak...
Plak...
Plak*...
Alan meringis kecil dan tersenyum senang. Ini bukan mimpi dan Alan bisa bertemu Melody.
Seketika semua yang ada di sana langsung tertawa melihat tingkah Alan yang berlebihan.
"Kamu kembali, sayang."
Alan tak berniat melepaskan Melody. Takutnya Melody akan pergi.
"Jangan pergi."
Melody tersenyum haru.
Teringat saat Melody dengan keras kepalanya tak mau kembali ke Indonesia dan tak mau berniat mengusik Alan. Karena Melody yakin, jika Alan sudah mendapat penggantinya. Alan telah melupakannya dan Alan tak akan menginginkan Melody lagi.
Tapi, saat kenekatakan Eza, Gio dan Ijaz berusaha menghubungi Melody dan menjelaskan jika Alan tak pernah mau mendekati wanita lain dan lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja.
Lagi, saat ketiganya mengatakan jika Alan telah berubah menjadi sangat dingin tak tersentuh. Entah mengapa itu membuat Melody merasa bersalah.
"Udah kali pelukannya..." sindir Eza, namun Alan sama sekali tak mau tahu. Malam ini, malam terindah yang Tuhan berikan kepada Alan.
"Gak punya malu si Alan, noh udah di liatin sama orang banyak..."
"Udah si Lan, mending kita keluar ke lantai dansa."
Melody yang merasakan Alan tak menggubris langsung mencubit pelan perut Alan. "Kakak gak mau dansa?" tanya Melody dengan senyuman.
"Why not?" Alan langsung menarik Melody ke lantai dansa, hingga semua yang ada di sana menepi. Membiarkan keduanya mengusai lantai dansa itu. Para kaum hawa yang melihat Alan bersama seorang wanita langsung menjerit, lebih lagi sebelumnya Alan tak pernah seperti itu.
Para kaum hawa tentu merasa iri pada wanita yang mengenakan dress berwarna merah maroon.
"Gue berasa liat Beauty and The Ice, tahu gak?" gumam Eza, tapi tak ada yang menggubris semua sibuk menatap dua orang yang tengah mengusai lantai dansa.
Alan dan Melody saling menatap satu sama lain, musik romantis mengalun indah, membelai telinga keduanya. Tangan Alan pun sudah memegang pinggang Melody, sementara tangan Melody sudah dikalungkan di leher Alan. Dengan langkah kaki yang di buat seirama. Keduanya terbuai oleh indahnya kasih dan bahagianya pertemuan setelah perpisahan.
"Aku ingin menikah dengan mu." itu mungkin terdengar sangat tak romantis. Tapi, inilah Alan, Alan yang sederhana dalam mengatakan keinginannya. Karena menurutnya semua tentang ketulusan, jika dilakukan dengan tulus, maka hal sederhana akan terkesan menjadi sangat istimewa.
"Kak, aku gak bisa..." nada suara Melody terdengar lirih.
Alan yang mendengar itu langsung kaget, apa-apaan ini?
Pikiran Alan sudah mulai di penuhi oleh pertanyaan-pertanyaan absurd.
Apa Melody sudah memiliki kekasih?
Melody sudah memiliki suami?
Atau Melody sudah memiliki keluarga kecil?
Atau banyak lainnya.
"Kamu sudah punya suami?" tanya Alan dengan kecewa.
"Iya, "
Dan bagaikan petir di siang bolong, hati Alan kembali luka setelah merasa sembuh dan ternyata luka ini semakin parah.
Tanpa mengucapkan apa-apa, Alan langsung bergerak menjauh dan berlari keluar dari kerumunan orang-orang. Ini kekecewaan yang paling menyedihkan, setelah 5 tahun lamanya Alan menunggu. Apa ini balasannya?
Sungguh Alan tak mau kenyataan ini, Alan ingin Melody pulang dengan membawa perasaan yang sama, bukan dengan perasaan kosong. Jika begitu, untuk apa Melody kembali? Hanya ingin memamerkan jika dia sudah memiliki orang lain dalam hidupnya dan untuk menertawakan kesetiaan Alan yang dengan bodohnya menunggu lama?
"Kunci mobil gue." geram Alan sambil menatap ketiga sahabatnya dengan nyalang. Tanpa aba-aba Eza pun menyodorkan kunci mobil Alan dan tentu saja Alan langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Kini Alan sudah membela jalan raya yang masih ramai dan padat di malam hari. Alan membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikirannya sama sekali tak bisa fokus.
Ada rasa sakit yang jelas di hatinya. Dan itu sangat perih. Tak kuasa menahan itu, Alan langsung menginjak rem mobilnya dengan mendadak. Memberhentikannya di tengah jalan yang sudah agak sepi.
"Arghh..." kedua tangan Alan manarik rambutnya sendiri karena frustasi. Kenapa harus serumit ini. Alan tak akan bisa membiarkan cinta pertamanya pergi begitu saja. Alan tak mau.
Tapi Alan harus apa? Melody sudah menjadi milik orang lain, dan sampai kapanpun Alan tak mau menerima itu.
***