
"Lelaki yang hebat adalah lelaki yang bisa menghargai seorang perempuan."
***
Hari berlalu begitu cepat, membawa kebahagian yang selalu memenuhi hati. Hari ini adalah hari yang paling menengangkan untuk kelas duabelas. Dan tentu saja ketegangan itu dirasakan oleh Alan, Eza, Gio dan Ijaz. Bukan apa-apa mereka berempat ternyata sangat ahli menjalin persahabatan. Ijaz adalah bagian baru dari Alan, Eza dan Gio. Persahabatan mereka memang terkadang selalu di bumbuhi dengan pertengkaran kecil, tapi sudahlah itu hanya pelengkap cerita.
Sekarang waktunya, mereka dan persahabatan kembali harus teruji, setelah kelulusan sekolah nanti. Mereka mungkin akan sulit bertemu, padahal biasanya jika ingin bertemu itu sangat gampang karena selalu bertemu di sekolah. Tapi sekarang mungkin akan banyak mengalami perubahan. Semua akan fokus meraih tujuan hidup mereka.
Rasanya baru kemarin mereka masih memakai seragam putih abu-abu, bisa bolos sekolah, berantem satu sama lain atau melakukan hal gila lainnya. Tiba-tiba hari ini datang, hari yang akan memisahkan mereka untuk kebaikan hidup mereka masing-masing.
Rasanya mungkin tak rela, tapi mau apa? Semua harus terjadi. Ini cobaan hidup dan ujian persahabatan. Rasanya Alan, Eza, Gio dan Ijaz akan membuktikan pada dunia jika mereka ahli menjaga hubungan persahabatan meski mereka terpisah oleh jarak.
"Lo tahu, gue gak mau pisah sama kalian." Eza pun mulai mendramatis seraya memeluk ketiga sahabatnya.
"Emang lo yakin lo bakal lulus?" oh tidak, itulah Ijaz, hampir sama dengan Alan, jika berbicara maka akan menusuk sampai ke akar hati yang paling dalam.
"Lo pada ngeraguin kecerdasan gue?" Eza mulai menampilkan wajah sok nya dan itu tentu membuat Alan, Ijaz, dan Gio ingin menabok wajah Eza.
"Cerdas? Lo cerdas Za? Lo lupa kemarin kita berempat remed loh, hampir semua mata pelajaran." Gio mencoba mengingatkan kejadian-kejadian lucu saat waktu itu mereka berempat remed secara bersamaan karena mendapat nilai di bawah standar.
"Jadi maksud lo, kita gak akan lulus?" tanya Ijaz sambil mengerutkan alisnya bingung.
"Bukan gak akan, cuman kemungkinannya kecil." mendengar ucapan Gio, Eza dan Ijaz hanya mengangguk.
Berbeda dengan Alan, entahlah ada rasa takut yang dirasakan Alan saat ini. Melody? Kemana dia? Kenapa dia belum datang? Tiba-tiba saja perasaan Alan menjadi tak enak.
Tiba-tiba saja ingatannya berputar pada kejadian tadi malam.
*Flashback on
Langit malam di penuhi banyak bintang yang gemerlap. Angin malam pun seolah menari-nari di rambut Melody, hingga rambut Melody terlihat berterbangan dengan indah.
Diam-diam Alan mengagumi kecantikan dan keindahan Melody yang sangat natural. Ini adalah keberuntungan yang sangat luar biasa, di saat Alan mampu mendapatkan wanita hebat yang selalu mampu mengerti dan bisa menenangkan Alan.
"Kakak, liat Melody biasa aja dong!" tegur Melody saat Melody merasa malu karena Alan menatapnya dengan dalam.
"Emang kenapa? Melody kan punya Alan."
Seketika tawa mereka pecah. Hanya dengan kata-kata sederhana, tawa datang tanpa permisi dan membuat keadaan mereka semakin hidup.
Kali ini mereka tengah ada di pinggir danau, danau yang selalu menjadi saksi perjalanan kisah cinta mereka yang tak akan lekang oleh waktu.
Alan yang melihat Melody masih tertawa langsung beralih dan memeluk Melody dari belakang, Alan menempelkan dagunya pada pundak Melody, tangannya pun sudah melingkar di perut datar Melody.
Hening menguasai, keduanya sama-sama diam karena rasa nyaman yang tiba-tiba saja menyeruak. Membuat kelegaan dalam hati mereka.
"Kakak, besok udah hari kelulusan yah? Semoga kakak bisa lulus dengan nilai yang memuaskan."
"Semoga." Alan terkekeh pelan, dengan nilai yang memuaskan? Ah, itu sangat tak meyakinkan.
"Kakak?"
"Hm..."
Melody menarik nafas dengan pelan, kenapa semuanya sangat rumit. Melody hanya ingin semua berlalu dengan indah. Menghabiskan waktu bersama Alan. Bukankah itu indah.
"Kalau nanti Melody pergi, kakak harus janji sama Melody."
Alan yang mendengar itu hanya terdiam.
"Melody mau kakak jadi orang yang sukses, kakak gak boleh nakal lagi, jangan coba-coba minum minuman haram lagi. Kakak harus jaga kesehatan kakak."
"Kamu gak akan kemana-mana sayang. Kamu akan selalu di sini, nemenin aku."
Melody menggeleng dalam diamnya.
"Itu mungkin keinginan kita kak, tapi kita gak tau kemana takdir akan membawa kita. Kemana takdir akan melabuhkan kisah hidup kita, kita gak tahu kak. Jika boleh Melody memilih, Melody cuman pengen sama kakak terus, Melody mau habisin hari-hari sama kakak, mewujudkan semua impian sederhana kita, tapi kadang takdir itu terlalu kejam kak, kita gak tahu, besok, lusa atau hari-hari selanjutnya si takdir nyeret aku untuk pergi dari kakak."
"Takdir gak akan ngerebut kamu dari aku, kita akan sama-sama terus." Alan membalik tubuh Melody menghadapnya. Menyatukan kening mereka, hingga kini suara isakan semakin terdengar.
"Aku gak bisa kak. Aku harus pergi." lirih Melody. "Cepat atau lambat, kepergian aku akan kakak terima dengan ikhlas. Mungkin aku pergi dan gak akan kembali."
Alan tak menjawab, dia hanya diam. Tak boleh terjadi, semuanya akan baik-baik saja. Melody
tak akan pergi.
Flashback Off*
"Lan? Lo kenapa?" Ijaz menepuk bahu Alan yang sedari tadi tengah melamun.
Alan langsung tersadar karena terkejut.
"Kesambet lo Lan? Kita di sini udah ngoceh ampe mulut gue berbusa, eh lo kagak dengerin." entahlah Eza juga bingung dengan Alan yang tiba-tiba berubah menjadi sering melamun seperti ini.
"Lo mikirin Melody?" tepat sasaran, Gio memang sangat jago menebak pikiran semua sahabatnya termasuk Alan.
Alan masih diam. Benar-benar merasa ketakutan. Apa benar, matahari kecilnya akan berlalu? Apa benar Melody akan pergi? Meninggalkan Alan sendiri. Alan tak mau itu terjadi.
Melody harus tetap bersama Alan, apapun kondisinya Alan tak mau peduli.
"Lo tenang Lan, semua bakal baik-baik aja."
Baik-baik saja, bukankah itu kalimat penenang yang tak selamanya benar? Bisa saja semua akan terjadi tanpa ada kata baik-baik saja. Dan Alan tak mau itu terjadi.
"Mending sekarang kita ke papan informasi. Katanya udah ada pengumuman kelulusan di sana." Gio pun menarik tangan Alan untuk berlalu.
Saat sampai di sana, semua nampak berkerumung. Masing-masing mencari nama mereka.
"Tenang, biar gue yang nyelip! Gue bakal cari nama kalian. Oke?" Eza pun mulai menyelinap masuk ke sela-sela kerumunan itu.
"Minggir, minggir, orang ganteng mau lewat." teriak Eza dan tentu saja mendapat sorakan tak terima dari orang-orang.
Nah sekarang apa peduli Eza? Tentu tak peduli. Bukankah ini fakta, jika Eza itu ganteng😎 iya kan? Iyain ajalah biar cepet.
Mata Eza pun menatap tajam ke arah papan pengumuman itu.
"Gio Derfandy." wah Gio lulus dan tentu saja Eza juga merasa senang.
Matanya pun terus mencari, hingga terhenti pada satu nama lagi.
"Alan Afraz." ternyata Alan juga lulus dan tentu saja tingkat kepedean Eza sudah meningkat.
"Nah, itu Ijaz Dheandra" Ijaz juga lulus, wah...wah...menyenangkan bukan.
"Alan sama Ijaz aja lulus masa gue kagak, kan gak keren kalau gitu." akhirnya Eza semakin gencar menatap teliti papan informasi yang berisi nama-nama siswa yang lulus.
Lama tak kunjung menemukan namanya Eza pun menempelkan kedua tangannya di Papan Informasi. Semakin mencari meski hatinya sudah berdetak tak karuan.
"Ah, gak lucu nih, kalau gue gak lulus." Eza mulai berkeringat dingin. Dan akhirnya menyerah. Namanya tak ada.
"Wadduuh, gue tercyidukk, nama gue kagak adaaaa..." teriak Eza nyaring dan tentu saja mengganggu semua orang yang ada di sana.
"Buta apa emang ****? Nama lo ada di sini kampret!" Dafa yang jengah melihat tingkah Eza langsung menggeser kedua tangan Eza yang menempel di papan informasi dan memperlihatkan pada Eza, jika nama Eza tertutupi oleh kedua tangannya sendiri😑bukankah itu konyol😕
"Allhamdulillah, Sah!!!" Dafa yang sudah semakin kesal langsung meninggalkan Eza yang masih seperti orang bodoh karena berteriak nyaring di depan papan informasi.
Tak lama Eza langsung berlari ke arah sahabat-sahabatnya.
"Woy, kita lulus..." teriak Eza dan memeluk ketiga sahabatnya.
Tentu saja keempatnya merasa bahagia. Akhirnya mereka dinyatakan lulus, meskipun nilai jauh dari kata sempurna. Tapi tak apa asalkan mereka lulus. Dan itu lebih dari cukup.
***