ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Aneh



"Jangan berlalu dan pergi. Tetap bertahan, semua akan baik-baik saja."


***


Tatapan Melody penuh dengan selidik. Baru hari ini Alan menolak mengantarnya pulang, padahal saat hari-hari lalu, walaupun Melody berkeras kepala untuk pulang dengan Satya abang-nya ataupun Dena pasti tak pernah di biarkan oleh Alan.


"Kakak emang mau kemana?" Melody menatap Alan dengan tatapan yang penuh kekhwatiran.


"Gak kemana-mana."


"Tapi kok tumben gak mau nganterin Melody pulang, mau ketemu sama selingkuhan yah?" demi apapun, Alan sangat kesal menghadapi Melody yang seperti ini yang penuh dengan tanya.


"Gak." singkat Alan membuat Melody ber-oh ria.


Entah kenapa, Alan tak ada niat mengantarkan Melody pulang. Tapi, hentikan, jangan berpikiran sempit. Alan bukan tipe yang gampang berpaling kalau sudah mencinta maka akan sulit untuk melupa. Satu saja sudah cukup, Alan tak mau menambah lagi.


"Yaudah deh, aku telepon Abang Satya dulu yah! Suruh jemput."


Alan mengangguk pelan. Tangannya terulur meraih pundak Melody, mendekapnya pelan, hingga kini Melody sudah berada dalam peluk hangat Alan.


Rasanya sangat sulit melepaskan ini, Melody sangat berharga. Alan sangat menyanginya.


"Kakak, ini susah teleponnya."


Alan mengangkat kedua bahunya acuh. Tak mau ambil pusing.


Melihat tingkah Alan yang tak mau peduli, akhirnya Melody memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat kepada Satya.


Alan dan Melody sedang ada di halte depan sekolah, mereka berdiri bersama.


Melihat tingkah Alan yang sedikit berbeda, Melody melepaskan dekapan Alan dan menuntunnya untuk duduk di halte.


Beruntung karena halte sepi. Alan pun memilih merebahkan tubuhnya di halte, menjadikan paha Melody sebagai bantalan. Untungnya juga halte itu bersih dan terawat jadi tak apa di pakai untuk tiduran.


"Kakak kok aneh." Melody memecah keheningan, Alan yang mendengar hanya mampu terdiam. Berpikir apa ia aneh atau tidak. Dan nyatanya itu tidak, Alan biasa saja.


Tangan Melody mengusap pelan rambut Alan yang terlihat agak berantakan, menyalurkan rasa sayang yang membuat Alan semakin tenang.


Mata Alan terpejam kuat, merasakan setiap sentuhan Melody di kepalanya. Itu sangat menenangkan.


Mata Melody terhenti menatap keseluruhan wajah tampan Alan. Melody berdecak kagum, hampir mendekati kata sempurna. Dengan alis tebal, bulu mata agak lentik, hidung mancung, bibir sexy dan tentu saja rahang yang kokoh.


"Udah puas?" Melody terdiam, maksudnya apa?


"Puas liat wajah tampan gue?" pertanyaan itu membuat wajah Melody memanas, bagaimana Alan bisa tahu. Oh tentu saja Alan tahu, Alan mengintip melalui bulu mata lentiknya.


Alan terkekeh pelan, dan itu malah menambah kecepatan degup jantung Melody.


"Gue sayang sama elo, lo jangan tinggalin gue ataupun berpaling dari gue yah! Apalagi saat nanti gue udah mulai tua, udah jelek, lo tetep harus sama gue. Kita lewati masa tua bareng-bareng."


Melody mengangguk, dalam hati Melody berteriak. Bagaimana bisa Melody meninggalkan Alan. Tidak, itu tak akan terjadi. Iya, tidak.


"Kakak jangan terlalu berharap gitu dong!"


"Harapan gue cuman elo di masa depan."


"Lo tahu? Kata orang, di saat elo udah nemuin seorang yang bisa buat lo nyaman, lo harus pertahanin. Jangan biarkan dia berlalu dan pergi. Yang cantik banyak, yang baik banyak, tapi yang bisa bikin nyaman itu susah untuk di dapat. Dan lo tahu gue nyaman sama lo." Alan mengucapkan itu dengan mata yang masih terpejam.


Melody tersenyum senang. Bagimana bisa dia berlalu dan pergi. Benarkan, titik beku yang ada di dalam hati Alan sudah mulai mencair. Sekarang terganti dengan kehangatan yang menenangkan.


Sekarang juga Alan terlihat cerewet dari biasanya. Melody suka itu. Alan sangat cerewet di waktu tertentu, seperti sekarang.


"Kakak kok manis banget yah?"


"Emang iya, coba deh cium pipi gue. Pasti lo bakal ngerasa lebih manis lagi."


Pipi Melody memanas. Dasar penggoda, bisa-bisanya di saat ini menggoda Melody.


"Gak mau." Padahal Melody mau, tapi malu kan?


"Yakin? Yaudah gue minta sama fans-fans gue aja."


Mendengar itu raut wajah Melody berubah.


"Kok kedengarannya genit banget yah kak." Alan tersenyum lagi. Ia bercanda, Alan anti di sentuh oleh cewek, selain Melody-nya.


"Melo..." Alan memanggil Melody dengan lembut, matanya juga sudah terbuka. Mata biru terangnya menatap wajah Melody yang indah dari bawah.


"Iya kak?" Melody menunduk untuk melihat Alan yang memanggilnya.


"Gue kenapa yah?" Melody menautkan alisnya bingung.


"Kenapa apa kak?"


"Gue kok, gini..."


"Gini gimana?" Melody semakin greget dengan apa yang Alan ucapkan


"Gini...hm, gue kok makin sayang sama elo yah!" Itu terdengar seperti apa? Romantis kah? Atau kalian yang membaca butuh kantong kresek?😅


Mendengar itu Melody memutar bola mata jengah. Wah, rupanya Alan mengalami perkembangan yang sangat pesat.


"Geli yah?" tanya Alan dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.


"Melo..."


"Iya kakak?"


Lagi, apa Alan akan mengulangi yang tadi.


"Gak...cuman ngetes aja, lo budeg apa gak!"


Bisakah Melody meraup wajah tampan Alan? Ini sangat mengesalkan, menyebalkan dan membuat Melody gemas.


"Sayangnya telinga Melody masih berfungsi." Melody mencoba terkekeh walaupun sedikit kesal.


"Untungnya yah!"


Melody hanya diam tak menanggapi, benar kan Alan sudah mulai berubah, sekarang lebih cerewet.


"Kok gue berasa nyesek yah?" Melody dan Alan sama-sama mendonggak menatap asal suara, itu Satya.


Melody langsung menyuruh Alan untuk bangkit.


Melody berdiri dan tersenyum menatap ke arah Satya.


"Abang..." Melody berteriak kencang, membuat Satya ingin memekik.


"Bocah...suara lo bikin gue budeg ini." suara Satya ternyata tak jauh beda dengan Melody, cempreng😑


"Kakak, ini kenalin. Abang Satya."


"Abang, ini kenalin. Kak Alan."


Alan dan Satya berjabat tangan dengan Satya yang sudah senyum dengan merekah, sementara Alan hanya mengangguk sekilas tanpa senyum.


Satya berdecak, benar kata Melody, Alan sedikit dingin. Yah tentu, Satya sudah tahu status adiknya itu sudah tak jomblo lagi. Sekarang sudah laku, eh...maksudnya sudah punya pacar.


"Lo pacar Melody kan? Wah ganteng, tapi kenapa lo mau sama adik gue ini?"


Melody menatap tajam ke arah Satya, dasar Abang Satya cerewet.


"Dia cantik bang."


Satya tersenyum, dari sorot mata Alan, Satya tahu, jika cowok itu sangat menyangi adiknya.


"Oke deh, yaudah gue izinin Melody sama lo. Tapi, jagain yah, kadang-kadang adik gue ini suka lupa umur, dia masih berasa anak TK yang bedaknya masih tebel kayak valak. Kadang juga cerewetnya minta ampun, cengeng juga dia ini. Jadi kalau lo serius sama adik gue, lo harus siapin kesabaran lo yah."


Mendengar itu Alan mengangguk mantap, kok Alan berasa jika Satya itu lebih banyak mengejek Melody. Sungguh itu sangat menyenangkan. Apa begitu, jika seorang memiliki saudara? Kenapa Alan sedikit iri yah!


"Maaf bang, kali ini gue gak bisa nganter pulang."


"Okelah...gue kan ada, jadi gak apa-apa."


Alan hanya mengangguk lagi. Kemudian menatap Melody yang kini menatap Alan dengan dalam.


"Stop! Jangan mulai dulu yah? Gue lebih baik nunggu di mobil. Lo harus tahu, kalau para jomblo gak pantes nonton adegan yang akan buat hatinya kretek-kretek. Jadi gue harus minggat dulu yah."


"Gue gak mau nyesek, gue gak mau, hati gue itu terlalu rapuh untuk liat kalian mesraan. Jadi..."


"Abang..." Melody berteriak, kapan selesai bicaranya kalau begitu.


Itu terdengar seperti curhat yang berkelanjutan.


Satya hanya mendengus kesal, lalu dengan malas melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.


Beginilah nasib jomblo, selalu tersakiti dan tersiksa.


"Kalau kata Eza, Abang lo pasti tercyidukk..."


Melody memutar bola mata jengah. Astaga virus Eza rupanya menyebar ke Alan.


Apalah itu Tercyidukk, Melody tak tahu. Itu berasal dari mulut absurd Eza dan sekarang Alan sudah mulai ketularan.


"Kakak hati-hati yah!!"


"Iya-iya."


"Yaudah Melody duluan yah kak, kasian Abang Satya kelamaan nunggu." Alan mengangguk, tapi setelah itu malah menarik tubuh Melody, memeluknya erat.


Alan memejamkan matanya nyaman. Alan tak mau melepaskan Melody, jika boleh Alan ingin membawanya pulang saja.


Melody juga merasakan kenyamanan yang sama. Sangat nyaman.


"Jangan kelamaan, hati gue makin nyesek." teriakan itu membuat Alan melepaskan pelukannya dengan penuh keterpaksaan.


"Hati-hati sayang."


Melody tersenyum lembut. Lalu berlari kecil ke arah mobil. Sementara Alan malah tertawa kecil melihat pipi merona Melody.


Setelah Melody dan Satya berlalu, Alan pun memutuskan untuk pulang dengan mengendarai motor.


***