ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Bertengkar?



"Kehilanganmu adalah ancaman terburuk yang selalu aku ingin hindari."


***


Melody berjalan beriringan dengan Dena yang nampak bersemangat di hari ini. Melody pun tak nampak kalah, senyumnya tak pernah luntur selalu saja tetap terjaga.


Entah semua karena apa, Melody tak tahu. Hingga pandangan Melody terarah pada lapangan upacara, di sana terlihat banyak orang yang nampak berkerumunan. Jujur Melody tak terlalu tertarik, tapi ketika melihat Eza melambaikan tangan padanya matanya langsung membulat.


Senyumnya perlahan luntur, tiba-tiba saja perasaanya tak karuan, ada yang tak beres.


"Melody...." teriakan Gio membuat keterdiaman Melody terhenti, tanpa peduli Melody berlari membelah kerumunan itu.


Di sana, Melody melihat Alan dengan penampilan yang sangat kacau, baju seragamnya sudah tak terkancing. Semua kancingnya lepas, menampilkan kaos oblong putih. Rambutnya juga sudah acak-acakan. Di tambah lagi emosi yang terlihat menggebu di mata Alan.


"Kakak..." lirih Melody menahan air matanya.


Alan yang samar-samar mendengar seorang yang ia sayangi memanggilnya langsung menoleh mencari asal suara. Ketika pandangannya terkunci saat bertemu dengan mata teduh Melody tiba-tiba hantaman kuat terasa menghantam rahangnya, itu membuatnya meringis.


Brukk...


Posisi Alan langsung bergeser sedikit, tadi Alan yang memegang kendali dengan Alan yang ada di atas Ijaz sambil meremas kerah baju cowok brengsek itu.


"Sialan." emosi Alan kembali menggebu, dengan kepalan penuh Alan mulai memukuli Ijaz dengan membabi-buta. Semua yang ada di sana menatap Alan dengan takut, sudah, beginilah nasibnya jika ada yang mencari masalah dengan Alan. Kejadiaan buruk akan menimpanya.


"Kakak stop!" Melody yang sudah tak sanggup melihat Alan yang sudah bergulingan di tanah sambil saling memukul dengan Ijaz langsung melerai keduanya.


Alan yang melihat Melody melakukan hal yang berbahaya langsung bangkit dan menarik pelan pergelangan tangan Melody, membawa Melody ke belakang punggung besarnya.


Melody langsung memeluk erat tangan kekar Alan, menahan agar Alan berhenti berkelahi.


Ijaz yang melihat itu hanya tersenyum mengejek.


"Oh jadi ini cewek yang namanya Melody. Hahah, mainan baru elo Lan, lumayanlah, cantik juga." Alan yang mendengar itu kembali menggeram emosi, coba saja Melody tak menahan tangannya pasti Alan akan merobek mulut sialan Ijaz.


"Udah lo pake juga Lan? Ups, itu kayaknya pertanyaan bodoh, udah pastilah. Cewek ini kan temen tidur lo iyakan?"


Demi apapun, biarkan Alan membunuh cowok brengsek itu.


"Boleh kali gue pake, semalam aja kok."


Jangan harap dia akan memiliki kesempatan bernafas lebih lama. Ucapannya sungguh membuat Alan menjadi naik pitam. Jangankan Melody, guru BK pun tak akan mampu meredam emosi Alan.


*Bruk...


Bruk...


Bruk*...


Tiga pukulan beruntun itu langsung membuat wajah Ijaz tak nampak lagi, semuanya di penuhi luka. Di tambah lagi sumpah serapah yang Alan keluarkan semakin menambah aura mencekam di lapangan upacara.


"Brengsek lo!"


Bruk...


"Gue pastiin lo bakal mati di tangan gue, sialan."


Bruk...


"Berani-beraninya lo bilang yang nggak-nggak tentang cewek gue."


Bruk...


Bruk...


Itu bukan pukulan terakhir. Alan masih ingin menambah, tangannya masih panas, tapi sayang semuanya tak mampu ia lanjutkan.


"Kakak..." setelah suara itu memanggal lirih untuk Alan, Melody pun ambruk. Tak kuasa melihat Alan bertingkah seperti itu. Itu bukan Alan yang Melody kenal.


"Alan, berhenti! Melody pingsan." teriakan itu berasal dari suara Eza yang nampak semakin panik.


Alan menoleh, pandangannya berubah menjadi khawatir, matanya melihat Melody yang sudah tak berdaya dan terkulai lemas dalam dekapan Eza.


Dengan secepat mungkin Alan berlari menghampiri Eza dan mengambil Melody, menggendongnya dengan seperti biasa membawanya ke UKS.


Ini yang selalu mengganggu Alan, kalau tidak terjatuh pasti Melody pingsan. Begitukah kebiasaan Melody, selalu saja membuat Alan khawatir.


Persetan dengan Ijaz, biarkan dia mati di lapangan. Kalau pihak keluarganya ada yang menuntut yah biarkan, Alan tak peduli. Siapa yang duluan mencari masalah? Itu Ijaz.


Alan menatap Melody, yang terbaring kemah di brankar UKS.


15 menit berlalu, hingga Melody mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap sekeliling dengan bingung.


"Lo baik?"


Melody yang mendengar suara itu langsung terdiam, pandangan mata mereka bertemu. Hingga seperkian detik Melody beralih memunggungi Alan, tentu saja Alan bingung kenapa dengan Melody?


"Melo..." Melody mendengarkan tanpa mau menjawab, air matanya pun sudah berlomba-lomba keluar dari mata indahnya. Punggung kecilnya naik turun menandakan bahwa Melody sedang berusaha menahan nafas untuk mengatur sesaknya karena menangis.


Hingga isakan kecil mulai lolos dari bibirnya.


Alan yang mendengar itu langsung merasa takut. Batinnya bertanya-tanya, ada apa, kenapa, kenapa wanitanya menangis?


"Don't cry honey!" suara lembut Alan membelai telinga Melody.


Alan mengelus pucuk kepala Melody dengan sayang. Membuat Melody semakin terisak.


Melody langsung bangkit dan berhambur ke pelukan Alan.


Untungnya Alan kuat, coba saja ia lengah sedikit, sudah pasti mereka berdua akan terjatuh bersama.


Tangan Alan bergerak naik turun mengelus punggung Melody yang masih saja terisak.


"Kakak, jangan berantem lagi, Melody takut..." Melody mencengkram kaos oblong Alan dengan kuat, seolah menyalurkan ketakutan yang amat luar biasa. Entahlah Melody takut, takut akan sesuatu hal yang seakan ingin merenggut Alan darinya.


"Gue gak janji."


"Kalau orangnya kayak Ijaz, gue bakal bunuh dia."


"Apalagi kalau ada orang yang ngrendahin lo di depan mata gue. Jangan harap besok dia masih bisa nafas dengan santainya, paling nggak boleh nafas tapi pake alat bantu." itu terdengar sangat tegas. Mereka berdua sama-sama memiliki ketakutan yang sama, sama-sama takut kehilangan.


"Kakak..." Melody semakin terisak, kata-kata pun tak mampu terucap.


Bolehka Melody bersyukur? Melody bahagia bisa mendapatkan seseorang seperti Alan. Yang memprioritaskan diri Melody dibandingkan dirinya sendiri.


Sementara Alan, ia merasa sangat bahagia. Tuhan berpihak padanya, pada dirinya. Karena Tuhan mengirimkan bidadari tak bersayap untuk Alan. Setidaknya membuat Alan merasa kelebihan kebahagiaan.


Mohon, Alan ingin Melody tak berlalu pergi. Melody tetap bersama Alan, tepat menjadi milik Alan. Itu harus, tak boleh berganti.


***