ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Hilang Dan Mencari



"Bertahan. Aku sedang mencari dan pencarian ini tak akan terhenti sebelum aku menemukan mu."


***


Melody membuka mata, saat rasa sakit di kaki dan di pergelangan tangannya terasa.


Sayup-sayup Melody melihat sosok pria tengah berdiri dengan pakaian serba hitam. Tak lupa dengan topeng yang menutupi wajahnya.


Melody ingin berteriak kencang tapi tak bisa ia lakukan karena mulutnya di bekap oleh lakban hitam. Kaki dan tangannya pun terikat dengan kursi tua.


Saat penglihatan Melody terasa semakin jelas, Melody pun meneliti keadaan sekitar. Rumah tua, Melody di sekap di sebuah rumah tua yang sangat mengerikan.


Pria bertopeng itu berjalan mendekat ke arah Melody dan itu membuat Melody merasa takut. Mata Melody sudah memerah karena air matanya sudah kembali mengalir.


Melody takut.


Bunda, Ayah, Abang, Dena, Kak Alan tolong Melody, Melody takut. Teriak Melody dalam hati.


Sekarang Melody hanya bisa berdoa, semoga tak terjadi apa-apa dengan dirinya. Dan semoga secepatnya ada yang bisa menemukan Melody.


Plak...


Tamparan keras itu mendarat di pipi mulus Melody, membuat pipi Melody terasa sakit. Air mata Melody semakin deras mengalir, ketakutan menyelimuti diri Melody.


Hingga rambut Melody terasa di tarik kencang dan Melody hanya mampu menutup mata dalam, berharap jika Melody hanya bermimpi buruk. Tapi, lambat laun rasa sakit di kepalanya semakin menjadi saat tanpa perasaan pria bertopeng itu kembali menggunakan kedua tangannya untuk menjambak rambut Melody.


Ingin rasanya Melody melawan, tapi sayang keadaannya sangat tak memungkinkan, bahkan untuk berteriak pun susah. Hanya air mata yang bisa mewakili kelelahan dan rasa sakit yang Melody rasakan.


Lama, pria bertopeng itu pun menjauhkan tangannya dari rambut Melody. Kemudian dengan kasar menarik lakban hitam yang ada di mulut Melody. Dan itu membuat Melody merasa sakit.


"Aww..." rintih Melody sambil masih menahan tangis.


Pria bertopeng itu membuka topengnya yang masih melekat sempurna di wajahnya.


Melody terkejut di saat melihat wajah asli pria bertopeng itu.


"Kak Ijaz..." lirih Melody sambil menatap Ijaz dengan tatapan tak percaya.


"Hei cantik! Gimana lo kaget gak?" Ijaz mendekatkan wajahnya ke wajah Melody, membuat Melody secara langsung memundurkan wajahnya takut.


"Kenapa? Lo takut?" tangan Ijaz kembali menarik rambut Melody dengan kasar.


"Sakit kak, lepasin!" Melody terus saja meronta-ronta, tapi tetap saja Ijaz tak peduli.


Setelah puas menarik rambut Melody, Ijaz merogoh kantong celana hitamnya.


Hingga kini di tangan Ijaz sudah ada pisau kecil yang nampak berkilauan, itu pisau sangat tajam, dan rasanya pisau itu akan melukai Melody saat ini juga.


Melody yang melihat pisau itu hanya mampu berdoa, bahkan air matanya pun sudah tak lagi menetes. Kini, Melody tak mau terlihat lemah, walaupun mungkin Melody akan mati di tangan psikopat itu.


Kemungkinan Melody selamat sangat kecil, Melody di sekap di sebuah rumah tua yang Melody yakini jarang di ketahui oleh orang.


Tatapan Ijaz kini tak lepas dari Melody, dengan perlahan Ijaz mulai mendekatkan pisau itu ke pipi Melody, menggerakkan pisau itu dengan pelan.


Melody menggigil karena takut, tapi sebisa mungkin Melody menahan. Ia tak boleh lemah.


"Kakak gila, kakak psikopat!" mendengar teriakan Melody, Ijaz hanya tersenyum remeh.


"Gue gila, gue psikopat? Gak ada yang peduli." teriak Ijaz dan mulai semakin berani menggerakkan pisau itu turun ke area leher Melody.


"Setelah gue gak berhasil bunuh Alan, gue rasa Alan bakal mati juga kalau tahu ceweknya ini mati di tangan gue dengan tragis." Ijaz tertawa seperti iblis.


"Lo jangan gila Jaz." suara itu berasal dari belakang Ijaz. Samar-samar Melody melihat seoarang wanita yang memakai pakaian sangat ketat tengah berjalan ke arah Melody dan Ijaz.


"Kenapa?" tanya Ijaz sambil menatap wanita itu dengan dahi berkerut.


"Lo gak punya otak. Masa lo gak mau main-main dulu sama ini cewek. Masa lo langsung mau bunuh dia, lo yakin? Kita bisa main-main dulu Jaz, kita bisa bunuh dia dengan pelan-pelan, dengan perlahan." wanita itu kembali tersenyum licik.


Apa lagi ini? Cukup Ijaz, kenapa harus ada pemain baru lagi, Melody sudah cukup tersiksa dengan perlakuan Ijaz dan kini ada sosok wanita iblis itu lagi.


Ijaz mengangguk. Itu benar dan baiklah Ijaz akan menuruti apa yang di katakan Ajeng.


"Oke Ajeng."


Ajeng mengangguk. Lalu Ijaz segera berlalu keluar dari ruangan. Kini hanya tersisa Melody dan Ajeng.


Melody sedikit menerka-nerka. Sepertinya Melody pernah melihat wanita itu.


"Kenapa? Lo kenal gue kan?" mendengar itu Melody menggeleng. Entahlah, rasa-rasanya Melody tak pernah memiliki musuh. Tapi kenapa sekarang Melody malah diancam akan di bunuh seperti ini.


"Rupanya gue harus ingetin lo lagi. Ini gue, orang yang ngirim foto Alan ke elo. Dan gue adalah cewek yang pelukan sama Alan di foto itu."


Melody terdiam, dia ingat sekarang.


"Lo tahu, gue sakit hati pas Alan selalu nolak gue. Dan pas ngedenger kabar kalau Alan punya pacar gue semakin terluka. Apalagi pas gue tahu Alan pacaran sama cewek yang biasa-biasa aja kayak lo. Sekarang gue bingung, Alan itu kenapa sih bisa suka sama lo?" Ajeng sedikit menjeda ucapannya.


"Padahal kalau di liat-liat lo itu gak ada apa-apanya di banding gue, cantik? Cantikan gue kemana-mana."


Melody terdiam mendengar ucapan Ajeng, jadi benar? Benar jika Alan tak pernah selingkuh. Dan Melody malah menuduh Alan selingkuh.


Bolehkah Melody menyesal, semestinya Melody bisa mendengarkan penjelasan Alan, bukan malah mengikuti emosi yang kini malah membuatnya terjebak di sini.


"Dan sampai kapan pun gue gak akan nerima itu, kalau gue gak bisa sama Alan maka elo pun gak boleh sama Alan."


"Kakak itu gak tahu diri, makanya Kak Alan gak mau sama kakak." entah keberanian dari mana, Melody berteriak di hadapan Ajeng dan itu tentu saja semakin membuat Ajeng murka.


"Berani yah lo ngelawan gue?"


Melody tertawa remeh.


"Kenapa harus takut? Emang kakak siapa? Kakak cuman cewek bodoh yang ngikutin obsesi untuk ngedapetin kak Alan."


Plak...


Tamparan itu jelas membuat Melody semakin sakit, tapi lagi, Melody harus berpura-pura sekarang. Melody harus terlihat baik-baik saja.


"Tamparan kakak itu bukti kalau kakak kalah bersaing sama aku. Percuma cantik, kalau murahan. Itu gak ada gunanya." ucapan Melody jelas membuat Ajeng semakin marah dan kesal. Ajeng bingung, kenapa Melody bisa mengeluarkan kata-kata tajam seperti itu.


Tanpa aba-aba, Ajeng langsung kembali membekap mulut Melody dengan lakban hitam. Dan berlalu keluar meninggalkan Melody sendiri.


Oh, tidak. Melody tak sendiri, di sini, di rumah tua, di ruangan gelap, sempit dan menakutkan Melody ditemani oleh luka dan berbagai macam rasa sakit dan penyesalan.


Kenapa Melody malah meragukan kesetiaan Alan? Meragukan Cinta Alan. Dan lebih parahnya kenapa Melody menuduh Alan selingkuh. Melody merasa bodoh, sangat bodoh.


Kini Melody hanya bisa berandai-andai, seandainya tadi Melody membuka telinga dan mau mendengar semua penjelasan, pasti semua akan baik-baik saja. Coba saja tadi Melody tak berlari, pasti Melody sudah ada bersama Alan di suatu tempat untuk membicarakan semua. Sudah pasti semua akan berlalu dengan baik. Tapi sekarang apa? Melody pasti akan membuat semua menjadi rumit. Sangat rumit.


***