ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Masih Belum Di Hargai



" Dia, jiwa yang luka karena serbuan masalah yang rakus."


***


Sambil memegang gitar kayu, Alan terduduk di atap sekolahnya. Sambil menikmati alunan angin dan nada yang membentuk satu melody indah yang membuat hati Alan tenang. Meski pusing dikepalanya masih terasa, tapi itu tidak membuat Alan terhenti.


Dengan gemulai, jemari-jemari Alan menari di atas senar gitar. Menciptakan alunan nada yang indah dalam pendengaran.


"Alancuu...." suata absurd itu membuat Alan menghentikan kegiatannya. Tanpa menoleh, Alan pasti sudah tahu siapa yang datang.


Eza dan Gio sudah berdiri di samping Alan, dengan posisi Eza di samping kiri Alan dan Gio yang di samping kanan Alan. Nafas keduanya masih terdengar tersenggal-senggal.


"Lan, lo kemana aja sih semalem ini?" suara tegas Gio membuat Alan menoleh menatap kedua sahabatnya itu dengan bergantian, lalu kembali menunduk.


"Kalau ada masalah jangan ngilang, badan lo emang besar, tapi gue sama Gio bisa kurus kalau nyisirin seisi kota ini buat nyari elo." masih ada nada candaan di kalimat Eza itu, tapi terdengar nada khawatir di dalamnya.


Tentu hati Alan menghangat, apa dia kelewatan semalam tadi, tega mengabaikan telepon dari kedua sahabatnya dan dari Ayahnya, Afraz.


"Alancuu..., kalau di tanya itu jawab nak! Jangan diem, entar mama Eza cekokin kenangan masa lalu nih, mau?" Gio memutar bola matanya jengah, begini nih kalau orang gagal move on, apa-apa pasti baper.


"Orang gagal move on!" desis Gio sedikit kesal.


"Gak apa-apa, gue gagal move on, artinya gue tipe orang yang setia." dengan gaya yang dibuat dramatis Eza mulai merangkai kata kata, ciri khas orang gagal move on, yang sampai saat ini tingkat kegalauannya di atas rata-rata.


"Gagal move on aja bangga!" ledek Gio.


Eza baru ingin membuka suara, tapi dengan cepat Gio menempelkan telunjuknya di kening Eza.


"Ssssttt...udah diem, kita ke sini itu mau ngomong serius sama si Alan. Bukan malah ngedengerin curhatan orang yang gagal move on kayak elo." mendengar ucapan Gio, Eza langsung memanyunkan bibirnya sambil menggerutu tak jelas.


"Lan?" panggil Gio pelan.


"Hmm," Alan langsung mendonggak dan menatap lurus ke depan.


"Tadi malam lo kemana?" Gio kembali menanyakan dimanakah tadi malam Alan berada, sampai-sampai menghilang seperti di telan bumi.


"Danau." jawaban jujur dari separuh kebohongan yang Alan sembunyikan. Berbohong untuk kebaikan, maksudnya untuk kebaikan dirinya dan perasaan orang-orang terdekatnya. Takut, karena semalam ia melakukan hal di luar batas, merusak diri dengan datang ke tempat laknat itu untuk menenangkan hati dan perasaannya.


"Lo bohong Lan, semalem kita ke danau tapi lo gak ada." ucapan Eza membuat Alan kembali menunduk.


"Lan, lo gak bakat bohong." Gio berkata sambil menepuk pundak Alan.


"Sekali lagi, di saat lo punya masalah. Lo punya gue dan Gio untuk jadi sandaran lo. Lo yakinin diri lo kalau lo itu sendiri, tapi nyatanya di sini ada kita Lan, kita, seorang sahabat yang akan selalu ada di saat lo bahagia, sedih, merana, gelisah, galau karena gagal move on..."


Plakk...


Belum sempat Eza menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Gio kembali menepuk kencang pipi Eza, terpaksa membuat Eza menghentikan kalimatnya.


"Intinya kita selalu ada buat lo Lan!" Gio langsung merangkul pundak Alan.


"Makasih!" kata Alan tak kalah tulus.


"Lan, turun yuk, laper gue ini..." dengan heboh Eza langsung bergerak-gerak seperti cacing kepanasan.


"Ganggu banget lo..." desis Gio sambil menatap tajam ke arah Eza.


Sementara Eza hanya menjulurkan lidahnya ke arah Gio.


Alan berdiri, dan memberikan kode kepada kedua temannya untuk turun dari atas dan beralih ke kantin.


Saat sampai di kantin, semua tempat nampak terisi penuh. Berhubung ini lagi jam istirahat jadi kantin sekarang lagi padat-padatnya.


"Ayo, ngapain malah diem!" Eza menyeret lengan Alan, membuat Alan terpaksa mengikut.


Alan menatap datar ke sekelilingnya, ini terlalu ramai.


Sementara Eza sudah bertepuk tangan ria, persis sekali dengan orang utan, yang selama seminggu belum dapat jatah makan.


"Malu-maluin banget lo Za," tegur Gio kepada Eza, tapi Eza tak menggubris.


Merasa terabaikan Gio memutar bola matanya jengah.


"Lan, lo mau pesen apa?" tanya Gio.


Alan menggeleng.


Bagaimana Alan bisa makan, di kantin terlalu ramai, dan Alan adalah tipe orang yang jika makan sangat tak suka di lihat, apalagi di tatap intens oleh banyak mata. Alan sungguh benci akan hal itu.


Gio tentu paham betul dengan logat Alan, beda dengan Eza yang sama sekali tak tahu malu.


Beberapa menit berlalu, dan meja yang ada di depan Alan, Eza dan Gio sudah penuh dengan pesanan makanan yang di pesan oleh Eza dan Gio.


"Makan!!!" teriak Eza dengan penuh semangat membuat Alan berdecak kesal.


Alan pun memilih menyibukkan dirinya dengan Handphone-nya, apalagi jika bukan main game online, Mobile Legend.


Hingga fokus Alan sepenuhnya terarah pada layar ponselnya.


"Maaf ganggu kak," Melody datang sambil membawa kotak makanan bermotif BT21.


"Ehh, Melody..." suara melengking Eza membuat Melody sedikit meringis.


"Kenapa Mel?" tanya Gio membuat Melody kian menunduk.


"Aku, mau ngomong sama kak Alan." dengan suara bergetar Melody berusaha menatap Alan yang masih sibuk dengan Handphone-nya.


"Lan, Melody mau ngomong tuh!"


Mendengar suara Eza, Alan langsung menghela nafas kasar. Melody siapa lagi? Wajah Alan nampak mengeras saat melihat orang yang di maksud Eza.


Dia..., gue benci sama cewek ini. Alan menatap sinis ke arah Melody.


"Kakak, ini aku bawain bekal buat kakak." lagi, Melody kembali memberikan bekal kepada Alan.


Lama terdiam, Alan mulai muak. Eza dan Gio mulai mendesak Alan untuk mengambil bekal itu, tapi dasarnya Alan tak akan mau.


Melody sendiri merasa sangat bahagia saat dengan cepat Alan meraih bekal yang ada di tangan Melody.


Tapi kebahagiaan Melody tak bertahan lama, seperkian detik, isi dari kotak bekal itu menyatu dengan lantai.


Nasi goreng yang dengan susah payah Melody buat untuk Alan malah berakhir sia-sia di lantai. Yah, Alan membuang nasi goreng buatan Melody itu.


Lagi lagi Eza dan Gio hanya mampu diam. Sikap kasar Alan kembali hadir.


Tanpa berkata apa pun Alan kembali berlalu, bahkan kali ini sempat menubruk bahu Melody, hingga Melody kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai yang penuh dengan nasi goreng.


Dalam hati Melody memperkuat pertahanan dan hatinya. Kuat! Melody, mungkin kak Alan gak suka makan nasi goreng jadi nasi gorengnya di buang. Melody berusaha meyakinkan dirinya sendiri agar ia tak kecewa sendiri.


Menyemangati diri sendiri nyatanya lebih penting. Untuk menjaga pertahanan yang mula melemah.


Tapi, untuk saat ini Melody tak mau tahu apa pun, apalagi harus bersahabat akrab dengan yang namanya menyerah. Melody memilih setia pada perjuangan yang ia yakini akan indah di akhir walau awal sangat menyakitkan.


***