
"Kamu, seorang yang saat ini selalu berlalu lalang di pikiran, hingga membuat ku pusing sendiri karena Rindu."
***
Melody berkali-kali mendengus kesal saat benar-benar merasa bosan. Semuanya sangat monoton rasanya. Jika sebagian orang sangat menyukai hari Minggu, maka Melody lah salah satunya orang aneh yang sangat membenci hari itu dan mengumpat kesal berharap hari itu tak pernah ada.
Banyak alasan yang Melody akan berikan jika kalian ingin tahu,
yang pertama: Melody tak akan bertemu Alan.
Yang kedua: Melody tak akan melihat wajah Alan.
Yang ketiga : Melody tidak akan bisa membawakan Alan bekal.
Yang keempat : Melody tidak akan bisa memandangi Alan dari kejauhan dan seterusnya semua alasannya tentang Alan.
Sebenarnya alasan paling kuat adalah karena Melody tak kuasa menahan desakan yang kalian sebut dengan rindu itu, yang beratnya mengalahkan beton yang datangnya tak tahu waktu yang dengan lancangnya membuat semua orang seketika menjadi lemah. Melody benci rindu.
Dengan sedikit memanyunkan bibirnya Melody meraih Handphone-nya lalu menatap lekat ke arah layar.
Ada beberapa notif WhatsApp yang masuk. Tapi yang paling mendominasi di sana adalah chat dari Dena.
Dena Andara :
Jalan yuk Melo!
Main ke danau, gue gabut ni di rumah mulu.
Ckck, just read😡
Kalau ketemu gue tempeleng lu Melo.
Sialan.
Melody terkekeh pelan melihat tingkah Dena yang kelewat ajaib itu.
Kamu aja yang ke rumah.
Wait.
Cepet yah!
Jangan lupa bawa bubur ayam yah!
Aelah, bilang aja lo mau manfaatin gue. Kan?kan?
Tuh tahu, makasih cabat.
Untung gue sayang😌
Melody hanya membaca chat Dena, dan lekas menaruh hanpdhone-nya di atas meja belajarnya.
Tapi memang dasarnya Melody adalah seorang yang sangat gampang tertidur, belum beberapa menit Melody menghempaskan tubuhnya di kasur, Melody sudah mulai mendengkur halus. Melody tertidur dalam hitungan kurang dari sepuluh menit.Luar biasa gak tuh si Melody.
***
"Bantuin gue napa Lan, please" Gio memasang wajah memelas ke arah Alan membuat Alan mendengus kesal.
"Muka lo kayak cucian kotor, lepek, bernoda dan penuh dengan dosa." suara Eza mulai terdengar dari belakang Alan, yah tepatnya saat ini Eza tengah tengkurap di tempat tidur Alan sambil memainkan game yang ada di handphone-nya, game Pou, game yang selalu saja Eza banggakan, alasan kenapa Eza tengkurap adalah, supaya Eza bisa menghayati setiap permainan itu.
"Diem lo, dugong!" bentak Gio kesal.
"Dudududu..." seolah merasa tak bersalah Eza kembali tak mengindahkan balasan Gio yang sudah nampak kesal.
"Alan, ayolah! ayo dong!" rengek Gio kepada Alan.
"Najisin." dengus Alan sambil berdiri.
"Buru." singkat Alan kemudian meraih jaketnya dan berlalu keluar.
"Kampret lo, masa mau ngejebak sahabat sendiri." Eza menarik ujung baju Gio seperti menarik anak kucing.
"Lah, apaan?" Merasa tak terima, Gio mulai semakin kesal dengan Eza.
"Apaan, apa?" Eza menaikkan satu alisnya bingung. Gio langsung mendengus, pembahasan macam apakah ini?
Hendak ingin melanjutkan perdebatan, tiba-tiba terdengar suara Alan, keduanya pun langsung berlari keluar.
"Cepet! Atau gue cincang." suara dingin Alan menembus gendang telinga Eza dan Gio. Kedua cowok itu pun langsung keluar dan berjalan masuk ke dalam mobil Alan. Kemudian Alan melajukan mobilnya ke tempat yang ingin mereka tuju.
"Sayang...opo ko----"
Brukk...
Eza mengaduh kesakitan, membuat Alan menyeringai puas.
"Silent!" kata Alan tak terbantahkan.
Tentu saja Eza mendengus kesal, hendak ingin menyanyikan salah satu lagu dangdut kesukaannya saat ini, tapi tiba-tiba Alan melemparkan botol yang isinya masih setengah tepat mengenai kepala Eza.
"Gue nyanyi salah, padahal kalau di denger-denger nih suara gue gak jauh beda sama Justin Bieber yang punya suara serak-serak basah, seksi gitu. Terus gue juga----"
Brukk...
Untuk yang kedua kalinya Alan melempar ke arah Eza membuat Eza meringis kesakitan dan itu justru membuat Alan puas.
"Mati, mati deh lu." tawa Gio terdengar meledek, dan itu sanggup membuat Eza semakin kesal.
Saat hening mulai menguasai, seakan-akan waktu jadi semakin cepat hingga membawa Alan, Eza dan Gio pada suatu tempat yang sebenarnya Alan sangat tak suka, Mall.
Alan tak suka keramaian, Alan suka ketenangan, tanpa suara yang memekik telinga dan tanpa adanya tatapan-tatapan memuja yang seolah terarah pada dirinya.
"Ngapain? Ayo buruan!" dengan semangat 45 yang membara, Eza dan Gio segera menyeret Alan untuk masuk.
"Lepas." Alan langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Eza dan Gio.
"Sialan, buruan!" desis Gio membuat Alan berdecak sebal.
Tapi seketika mata Gio terhenti saat melihat Dena menarik seorang gadis mungil yang tengah asik dengan Ice Cream di tangannya.
"Dena?!" panggil Gio membuat yang di panggil menoleh, Dena melemparkan senyuman ke arah Gio sambil mempercepat langkah dengan masih menyeret Melody.
"Maaf, udah lama nunggu yah?!" Dena menunduk malu, Gio langsung menggeleng dan menatap lekat cewek yang ada di hadapannya.
"Gak kok." jawab Gio seadanya, "Yaudah ayo, kita jalan ke sana yuk!" Gio langsung menuntun Dena untuk berjalan bersama, seakan akan lupa jika di sana mereka melupakan sesuatu.
"Yah, si kampret! Masa iya kita di tinggal." Eza mencak-mencak kesal, hingga berjalan dengan langkah terburu saat melihat, si mantan pacar tengah berjalan sendiri.
"Faya!!!" pumam Eza dengan pelan tapi masih terdengar oleh Melody dan Alan.
Mantan gue dateng. Secepat kilat Eza berlari mengejar sosok mantan yang masih sangat tak berubah, masih cantik.
Dan di sini hanya ada Melody dan Alan yang masih sempat terdiam bersama, Ice Cream yang di pegang Melody pun sudah meleleh mengenai tangannya.
Mati-matian Melody menahan senyumnya yang sudah tak tertahan, apa rasanya sebahagia ini bertemu dengan orang yang disukai?
Sementara Alan menatap cewek yang ada di hadapannya ini dengan tatapan yang sama, tak peduli.
Melody baru ingin membuka suara, tapi tiba-tiba dari arah belakang seorang menabrak Melody, membuat Melody terhuyung ke depan dan tentu saja Ice Cream Coklat itu sudah berbaur mengenai baju Alan.
Melody meneguk salivanya dengan susah, pastinya ia harus siap menerima kemarahan cowok yang ada di hadapannya ini.
"Lo," Alan menunjuk wajah Melody dengan tatapan tajam membuat Melody bergetar takut.
"Maaf kak ta-----" Alan menggenggam tangan Melody dengan pelan lalu menariknya keluar dari Mall. Saat sampai di depan mobil Alan, Alan menggiring Melody masuk. Tak mau membantah Melody pun langsung masuk.
***