ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Melupakan Janji



"Jangan selalu menebar janji,  jika janji mu hanya kalimat penenang yang nyatanya hanya berisi kepalsuan."


***


Melody tengah berdiri di depan cermin, dengan senyuman penuh.


Di cermin menampilkan pantulan dirinya yang tengah tersenyum.


Melody hanya menggerai rambutnya, membiarkan rambutnya menjuntai dan terjatuh di atas punggungnya.


Jam menunjukkan pukul 4 sore, tepat waktu. Mengingat Alan menentukan janji bertemu mereka jam setengah 5. Jadi, Melody rasa ini waktu yang tepat untuk berangkat.


Lebih cepat lebih baik, karena datang tepat waktu itu sudah terlambat. Lebih-lebih jika datang tak tepat waktu, itu sudah pasti sangat terlambat.


Dan, Melody tak mau membuat seorang pun menunggu. Karena, Melody tahu menunggu itu tak selalu menyenangkan. Menunggu itu suatu hal yang membosankan. Menunggu itu menyesakkan.


Kali ini Melody pergi sendiri, karena Alan tak bisa menjemput dan Abang Satya pun tak bisa mengantar karena masih ada di kampus barunya.


Dengan langkah pelan, Melody menuruni tangga yang menghubungkan ruang makan keluarga. Melody berjalan, hingga terhenti saat sampai di depan pintu. Melody pun membukanya dengan pelan, hingga menampakkan halaman rumahnya yang tak terlalu luas, terkesan sederhana tapi nampak indah karena banyak macam bunga yang ada di sana.


"Bunda..." teriak Melody dan langsung memeluk Bundanya dari belakang.


Nesa yang kaget hanya mampu terdiam, lalu tertawa saat mendengarkan Melody tertawa sangat menenangkan seolah melupakan satu kenyataan yang harus selalu Melody ingat.


"Melody mau kemana?" tanya Nesa saat sudah berbalik dan melihat Melody sudah rapi dengan penampilannya yang sederhana.


"Mau ketemu sama kak Alan." mendengar itu Nesa hanya tersenyum menggoda.


"Gak di jemput?" Melody menggeleng.


"Mau di anter sama Bunda?"


"Gak usah, Melody bisa berangkat sendiri Bunda..." kata Melody dengan penuh semamgat.


"Tapi..."


"Bunda, Melody baik, Melody sehat!!!" nampaknya memang Melody melupakan kenyataan hidup yang sebenarnya tak boleh ia lupakan.


Nesa rasanya ingin berteriak, namun tertahan. Tangannya yang tadi mengepal langsung meraih Melody dan memeluknya erat.


Keadaan mampu membuat siapapun lupa dengan kenyataan. Dan itu gawat!


Melody tak lupa hanya saja Melody menguatkan diri dan Melody yakin semua akan baik-baik saja.


Yah, itu mungkin untaian kata penenang Melody untuk dirinya sendiri. Agar lebih tenang.


***


Di tempat lain tak jauh berbeda, Alan sudah siap dengan baju santainya. Niatnya ingin menjemput Melody jadi Alan berangkat lebih cepat.


Membelah jalan raya yang masih padat dengan pengemudi. Alan mengendarai mobilnya dengan kecepatan stabil.


Hingga saat sampai di depan toko bunga, mobil Alan terhenti. Dengan niat yang menggebu Alan ingin singgah dan membelikan seikat bunga untuk Melody.


Alan melangkahkan kakinya memasuki toko bunga itu. Matanya menatap sekeliling toko bunga yang di penuhi dengan bunga-bunga yang indah.


Matanya terhenti saat melihat bunga mawar berwarna putih yang nampak indah dari jauh. Dan Alan yakin Melody pasti suka itu.


Saat Alan sudah menemukan bunga yang di rasa cocok untuk Melody, Alan pun segera berlalu dan keluar dari toko bunga itu.


Berjalan dengan cepat, tapi tiba-tiba pandangan Alan terkunci saat melihat sosok wanita yang Alan sangat kenali, sosok yang kalian sering panggil Mama ataupun sebutan lainnya.


Hingga darah segar menetes dari genggaman tangan kanan Alan, darah itu berasal dari tangan Alan yang tadi menggenggam bunga mawar itu terlalu erat, seakan melupakan jika bunga mawar itu berduri.


Rasa perih di tangan Alan rasanya tak cukup terasa, karena rasa yang benar-benar membuat hati Alan seakan hancur dan tak berbentuk saat Alan menatap ke depan, melihat pemandangan Mamanya yang sedang bermesraan dengan seoarang pria lain dan bukan Papanya, Afraz.


Hubungan keduanya memang sedang tak baik, dan tengah ada di ujung tanduk. Tapi kenapa Mamanya itu malah terlihat seperti wanita murahan sekarang! Alan tak terima itu, belum ada kata cerai di antara keduanya jadi di sini Papa dan Mamanya masih sah sebagai pasangan suami istri.


Bunga yang Alan pegang kini terjatuh. Bunga itu sudah kehilangan keindahan. Dan Alan sudah kehilangan kesadaran yang berarti, pikirannya kalut, hatinya di penuhi sesak.


Dengan emosi yang masih menggebu, Alan masuk ke dalam mobilnya, mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata seperti seoarang yang tengah kesetanan.


Alan mengendarai mobilnya dengan tujuan yang entah kemana. Alan hanya berputar-putar pada satu titik. Hingga potongan ingatan saat Mamanya sedang bermesraan dengan pria lain kini mulai terputar-putar di kepala dan ingatannya. Mau tidak mau, itu membuat Alan semakin sakit dan pusing.


Rasanya tak ingin ini terjadi, Alan ingin seperti anak-anak lainnya. Yang kedua orang tuanya selalu nampak baik-baik saja. Alan rela kehilangan semuanya termasuk harta dan uang, Alan rela. Asalkan keluarganya seperti dulu. Selalu hangat dan di penuhi dengan kasih sayang yang berlimpah.


Alan tak mau menjadi orang yang munafik, berkata jika ia baik-baik saja di saat yang seperti ini. Tidak, hati Alan terluka parah, meski tak berdarah Alan tau itu berbahaya.


Alan ingin semuanya seperti dulu, saat Mamanya menjadi wanita terhebat, menjadi penopang Alan, menjadi orang yang selalu peduli, yang selalu memberikan kasih sayang tanpa di minta, Alan rindu masakan Mamanya, suara Mamanya yang lembut, dan Alan rindu pelukan Mamanya. Alan rindu semuanya, rindu. Sekarang Alan hanya menikmati kenangan yang sudah pasti menyesakkan karena tak mampu terulang lagi.


Kenapa Tuhan selalu memberikan Alan cobaan hidup yang berlebihan, Alan tak sekuat yang nampak, tapi Alan juga tak selemah yang kalian pikir. Alan hanya lelah. Apa ada kesalahan yang Alan lakukan di masa lalu? Dan apa ini adalah bentuk hukuman dari kesalahan itu? Entahlah Alan tak mengerti.


Alan butuh ketenangan, dan jangan salahkan Alan, jika Alan pergi ke tempat yang sudah dari beberapa bulan ini Alan tak pernah kunjungi, Club malam.


Alan berjalan dengan gontai ke arah bartender club yang tengah sibuk meracik minuman haram.


Bartender itu pun menuangkan wine ke gelas, lalu memberikan gelas itu ke Alan.


Alan tak membuang waktu, langsung saja Alan meneguk minuman haram itu dengan satu tegukan. Gelas kosong kembali nampak, hingga Alan pun menyodorkan gelas itu dan meminta agar bartender itu mengisinya kembali. Itu di lakukan Alan selama berulang-ulang.


Alan hanya ingin, malam ini semuanya terasa tenang, Alan tak mau merasakan sesak karena sakit hati yang berkelanjutan. Alan ingin tenang.


Dan tentu saja, Alan salah melangkah, ketenangannya bukan ada pada minuman haram itu. Tapi ketenangannya ada pada wanita yang tengah menunggunya berjam-jam di sebuah taman.


Alan melupakan Melody, melupakan janji yang ia buat, melupakan pertemuan mereka di taman dan membiarkan Melody menunggu selama berjam-jam.


Dan saat nanti Alan tersadar dari pengaruh minuman haram itu, maka yakin dan percaya, penyesalan akan membuatnya semakin terluka parah. Dan bukan hanya itu, sadar atau tidak Alan tengah menggores luka kecil yang membuat Melody merasa sakit.


Kalian tahu, Melody masih menunggu di taman. Padahal jam sudah menujukkan jam 9 malam. Meski suasana di taman masih terasa ramai tapi tetap saja Melody merasa kesepian.


Senyum Melody tak luntur, masih tetap sama. Sebab Melody yakin, Alan pasti datang dan oleh karena itu Melody harus menunggu lebih lama lagi.


Hingga tak terasa langit malam yang tadi di taburi bintang yang gemerlap kini berubah menjadi gelap kelam. Apa itu tandanya langit mengerti jika Melody tengah merasa lelah karena menunggu terlalu lama.


Suara petir bergemuruh kencang, tiupan angin sepoi membelah rambut Melody yang tergerai. Semua orang yang ada di sekitar Melody memilih untuk bergerak dan mencari tempat untuk berteduh.


Karena sekarang gemercik hujan sudah membasahi bumi dengan cepat. Hingga bau tanah sangat terasa dan menganggu indra penciuman Melody. Tapi jangan salah, Melody cukup ahli menunggu.


Ini belum berakhir, Melody yakin Alan datang.


Lama tak ada tanda-tanda kedatangan Alan, Melody sudah putus asa. Lihat, jangan seperti Melody yang bodoh dan rela menunggu sesuatu yang kepastiannya tak dapat dipastikan.


Air mata Melody berbaur dengan air hujan yang kini telah membasahi seluruh tubuhnya. Tubuh Melody bergetar hebat, saat dingin mulai menggerogoti tubuhnya, di tambah lagi kecewa yang terang-terangan malah ingin menyiksa Melody.


Melody merasa hatinya terluka parah, sakit dan sesak kini kian terasa di dalam sana.


Melody kecewa.


***