
"Aku terluka karena cinta, yang awalnya manis tapi lama kelamaan malah terasa pahit."
***
Alan baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Suasananya tak sepi seperti kemarin, nampak kedua orang yang sering Alan sebut sebagai orang tua, tengah berdebat hebat.
"Saya sudah bilang! Berhenti bekerja, apa kurang uang yang saya berikan pada kamu? Sampai kamu masih bekerja pada perusahaan milik orang tuamu itu?" Afraz, ayah Alan berteriak nyaring membuat Nada, mama Alan menunduk karena takut.
"Saya ingin kamu di rumah, mengurus Alan!!! Bukan malah menyibukkan diri di luar."
"Memang salah jika saya bekerja?" tantang Nada sambil menatap tajam ke arah Afraz.
"Salah! Karena kamu tidak akan punya waktu untuk Alan, cukup saya saja yang menyibukkan diri untuk mencari uang di luar sana. Kamu jangan, kamu cukup tinggal di rumah dan selalu ada untuk Alan." Afraz menjeda sedikit ucapannya, kemudian melanjutkannya. "Apa kamu tidak kasihan dengan Alan? Alan merasa terabaikan, Alan merasa gak punya siapa-siapa di dunia ini."
Nada terdiam mendengar ucapan suaminya.
"Saya bosan, bosan dengan semua ini. Saya merasa terkekang, saya ingin bebas!" teriak Nada kencang seolah olah tak peduli dengan semua. Tak sadarkah jika rentetan kalimatnya tadi mampu melukai hati seorang anak yang masih berdiri tak jauh dari mereka.
"Apa kamu bilang?" suara Afraz naik satu oktaf, emosinya tak mampu ia kendalikan.
"Saya bosan, apa kurang jelas?"
"Maksud kamu bosan? Apa kamu lupa, kalau kamu memiliki seorang anak laki-laki, dan apa kamu lupa status kamu sebagai seoarang istri dan seorang ibu? Sangat tak pantas rasanya kamu mengucapkan kalimat bosan itu." teriak Afraz frustasi.
"Lepaskan saya, saya ingin cerai, saya ingin bebas."
"Apa? Lalu Alan?" meski terdengar tak percaya Afraz mencoba menahan diri.
"Kamu saja yang rawat dia, saya gak mau dia ngerepotin saya." kata Nada santai membuat Afraz menggelengkan kepalanya tak percaya.
Wanita yang ada di depannya ini, dulu wanita yang sangat ia cintai, yang Afraz anggap sebagai wanita terhebat yang ada dalam hidupnya. Wanita yang menjadi ibu dari anaknya, Alan. Wanita yang memberikan cinta kepada Afraz dan Alan dengan tulus. Tapi, sekarang Wanita itu menjelma menjadi seorang yang tak punya hati. Bahkan untuk darah dagingnya saja ia tak mau peduli lagi. Afraz tak bisa berkutik lagi, bagaimana jika Alan tahu hal ini? Sudah cukup akan Alan yang sekarang, Afraz tak mau anaknya itu berubah menjadi lebih dingin, cukup sudah, itu terlalu rumit.
Bagaikan petir di siang bolong, rentetan kalimat itu mampu membuat pertahanan Alan runtuh, di mulai dari rasa sesak, pengap, sakit membaur jadi satu. Alan terluka parah, jelas tak berdarah tapi sangat berbahaya untuk diri Alan.
Emosi Alan sudah mulai tersulut, tak mau berlama lama mendengarkan yang lebih, Alan langsung berlari keluar dan menutup pintu dengan keras. Membuat kedua orang yang masih sibuk berdebat menoleh ke arah pintu. Dan Alan sudah berlari keluar dengan kecepatan di atas rata-rata.
Keadaan tadi jelas jelas mampu membuat hatinya porak-poranda. Keluarga kecilnya hancur dan berakhir dengan kata bosan.
Satu kata laknat itu membuat semua warna kehidupan Alan memudar, yang dulunya berwarna warni, namun saat ini hanya tersisa warna hitam, yang kelam dan menyedihkan.
Kini Alan sudah ada di dalam mobilnya, mengemudi seperti orang yang kesetanan, tak peduli dengan keadaan lalu lintas. Alan ingin sendiri.
Alan terus saja melajukan mobilnya mengelilingi kota di malam hari ini, tak tentu arah. Saat ini ia tak punya penenang, tak memiliki sandaran yang berarti. Ia lemah, karena satu penyangga dalam hidupnya sudah melangkah pergi dan kini apa gunanya satu penyangga yang tersisa? Hanya membuat Alan hidup tapi tak bernyawa, hangat tapi terasa dingin. Alan memutuskan bahwa hidupnya berakhir malam ini.
Hingga mobil Alan berhenti di sebuah club malam ternama, dengan langkah cepat Alan berlalu masuk dan menerobos puluhan orang-orang yang sibuk berdansa seperti orang gila serta berbuat di luar kendali.
Alan berjalan ke arah meja, dan meminta pada satu bartender untuk menuangkan segelas wine ke gelasnya. Lalu meneguknya hingga tandas. Rusak sudah diri seorang Alan Afraz.
Seolah tak cukup dengan segelas, Alan kembali menyodorkan gelasnya dan meminta untuk diisi kembali, setelah terisi kembali Alan meminum minuman haram tersebut, hingga begitu dan seterusnya, malam ini untuk pertama kalinya Alan meneguk minuman haram itu dengan lahap. Bukan hanya satu gelas tapi hingga lima gelasan lebih. Sangat berlebihan.
Mulai malam ini dan seterusnya mungkin minuman haram itu akan menjadi penenang untuk Alan.
Hingga tak tahu, kenapa Alan menjerumuskan dirinya pada suatu hal yang sia-sia. Mungkin harapannya, agar Alan bisa melupakan masalah hidupnya. Iya, memang bisa melupakan, tapi hanya dalam sekejap, besok saat Alan sudah tak terpengaruh oleh minuman itu, semua masalahnya pasti akan teringat lagi.
Terkadang untuk melupakan masalah, kita perlu orang untuk bercerita. Bukan malah menghancurkan diri sendiri dengan hal yang sia-sia ini.
Di sini lah Alan, masih diam di dalam club sambil meracau tak jelas, keadaannya sudah mulai tak sadar seperti tadi, dengan penampilan kacau, rambut berantakan, matanya sudah memerah bahkan jalannya sudah sempoyongan.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tapi, masih tetap Alan tak mau beranjak dari tempat maksiat itu.
Handphonenya berkali kali bergetar, menandakan ada panggilan masuk, tapi tetap saja Alan tak peduli.
Serasa sudah puas merusak dirinya sendiri, Alan berlalu keluar dari club malam itu dan melangkahkan kakinya memasuki mobilnya dan membawanya dengan kecepatan pelan, sangat pelan.
Mengemudi tak tentu arah. Hingga terhenti saat melewati sebuah taman yang di dalamnya ada sebuah Danau buatan yang indah. Alan menepikan mobilnya dan turun berjalan ke Danau buatan itu sambil sempoyongan.
Kesadarannya tinggal separuh, tapi ia masih kuat mengingat tempat-tempat yang selalu membuatnya tenang.
***