
"Aku menahan diri, agar tak berlalu pergi. Meski dunia tahu, aku di mata mu tak memiliki arti."
***
Alan berdiri di depan ranjangnya dengan kedua tangan yang di silangkan di depan dada. Menunggu cewek itu keluar dari kamar mandi ternyata membosankan, bosan bukan karena muak menunggu lama tapi, kali ini beda, dalam hati Alan meronta, tak kuasa membendung rasa cemasnya. Hampir 15 menit berlalu, namun cewek yang Alan ketahui bernama Melody itu tak juga keluar dari kamar mandi.
Entah ini kenekatan macam apa? Yang pastinya dalam hati Alan ia tengah menghitung pelan, saat dalam hitungannya sudah sampai pada angka tiga, dan cewek itu belum keluar, maka tak ada pilihan lain. Selain, Alan akan mendombrak pintu kamar mandi itu.
Satu...
Alan menatap tajam pintu kamar mandi itu, berjalan pelan ke arahnya.
Dua...
Tinggal beberapa langkah lagi dan Alan akan menendang pintu sialan itu.
Ti...
Belum selesai Alan menghitung, pintu kamar mandi itu terbuka, menampakkan sosok yang benar-benar mampu membuat Alan dan perasaannya porak-poranda karena khawatir.
Tunggu, apa tadi khawatir? Tidak, Alan menarik lagi ucapannya itu. Alan tak khawatir, ini hanya desakan rasa kecil yang sedikit menganggu. Ini tak berbahaya, tak berharga dan tak penting.
Melihat Alan menatapnya intens, Melody hanya menampilkan cengirannya yang begitu indah. Namun terkesan konyol. Melihat itu, Alan mendegus kesal.
Dia nyatanya benar-benar bodoh! Kenapa harus cengar-cengir begitu? Itu sangat tak lucu. Alan merutuki cewek yang ada di hadapannya itu.
Hoodie yang Alan berikan nyatanya mampu menenggelamkan tubuh mungil Melody, lihat saja jaket itu menjuntai hingga sampai di lututnya yang putih. Lengan jaket itu menutupi tangan Melody dan itu menambah tingkat keimutan Melody.
Alan sesekali berdecak kesal, saat melihat Melody benar-benar tak henti tersenyum seperti orang yang baru saja menang lotre. Pikirannya salah, Alan berpikiran sempit. Alan pikir Melody akan merengek, seperti cewek-cewek lain, mengatakan jika ia sedang sakit dan banyak hal-hal lain yang terdengar memuakkan dan menjijikkan. Tapi lihat, tampang polos dengan tambahan bodoh itu, senyum lebar, ah, lupakan! Itu bukan senyum, tapi cengiran kuda.
"Bisa berhenti gak? Lo lebih tepatnya kayak kuda yang lagi nyengir!" entah kenapa, ucapan itu mampu membuat Melody tertawa. Itu bahkan bukan lawakan, tapi suara Alan terdengar dingin.
Alan menautkan alisnya bingung, keningnya berkerut. Rupanya, cewek itu setengah tak waras mungkin. Dengan langkah cepat, Alan berjalan mendekati Melody dan meletakkan punggung tangannya di dahi Melody.
"Sudah gue duga, lo sakit!" kata Alan bermonolog, sementara Melody hanya diam sambil menahan tawa.
Jantung Melody rasanya ingin terlepas dari tempat aslinya, ia dan jantungnya rasanya tak baik-baik saja. Ini gila.
Melody kehabisan oksigen, tepat saat rasa sakit kembali menyerangnya, tanpa niat mengeluh, Melody kembali tersenyum, sangat indah dan itu membuat Alan terpaku.
Jarak yang dekat, mampu menampakkan senyum Melody yang nampak menghangatkan dirinya, yang kali ini ia lupakan. Saat ini, lebih tepatnya Alan belum mengganti seragamnya sendiri.
Alan menoleh ke arah jam nakas yang berada tepat ada di belakangnya, menampakkan pukul yang agak larut, jam 7 malam dengan cuaca yang tak mendukung, hujan sangat lebat, di tambah dengan angin malam yang bertiup kencang.
Tiba-tiba saja sesuatu yang berat menimpa Alan, untungnya kakinya kuat menopang tubuhnya, cewek itu terkulai lemas dan untungnya dia ambruk di dada bidang Alan.
Tanpa aba-aba, Alan bergerak cepat menggendong tubuh mungil Melody ke atas kasur. Menurunkannya dengan pelan, sebelum berkutat dengan Melody, Alan membuka baju seragamnya membuangnya ke segala arah, begitu pun dengan baju dalam polosnya, hingga saat ini bagian atasnya tak menyisakan apa-apa. Ini kebiasaan, begitu saat Alan tengah berada di rumahnya, meski di luar cuaca dingin, tapi tetap saja kebiasaannya itu masih tak akan hilang.
Alan memperbaiki posisi Melody, lalu menarik selimut berwarna putih dengan goresan hitam yang sedikit mendominasi hingga terhenti saat sampai di perut Melody.
Alan mendekat, keberanian lain kembali mengekangnya membuat tangannya mendarat di pipi chubby Melody, mengelusnya pelan dan lembut.
"Buka mata!" dua kata itu masih mampu menembus telinga Melody, membuat Melody mengerjap-ngerjapkan matanya.
Shit, dia, cewek ini. Bisa bikin gue gila kayaknya! Alan mengumpat sembari memejamkan matanya sekilas.
"Ada yang sakit?" tanyanya.
Melody tersenyum cepat, kemudian menggeleng, itu kebohongan. "Aku," mata Melody membulat sempurna saat melihat Alan yang saat ini tengah bertelanjang dada.
Melody menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, jika begini maka Melody akan benar-benar tak akan baik-baik saja, lihat, Alan berada dekat dengannya, tanpa menggunakan apapun untuk menutupi bagian atasnya yang terekspos sempurna.
Dada berototnya, ah itu membuat Melody meneguk susah salivanya sangat susah. Ini tidak boleh di biarkan terlalu lama, Melody tak kuat.
"What?" Tanya Alan sambil menatap Melody heran.
"Kakak, kenapa gak pakai baju? Sana pake baju dulu, nanti masuk angin!"
"No!" singkat Alan.
"No!"
"Pakai, kak!" paksa Melody.
"No!"
"Pakai, kakak ini nanti masuk angin." suara Melody terdengar cemas.
"No!"
Melody mendengus kesal, wajah datar Alan masih terpampang jelas, tapi demi apapun, itu sangat tak tertahankan.
"Laper?" Alan bertanya sambil berusaha menjauhkan tangan Melody dari wajahnya sendiri, Melody yang merasakan hal ini langsung menolak.
"Gue tahu, badan gue sexy!" kata Alan dengan tingkat kepedeannya.
"Emang, ups!!!" Melody langsung membekap mulutnya sendiri, malu, hingga Melody memunggungi Alan, menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti tomat.
"Udah gue tebak! Lo suka gue kan, oke, kita pacaran!"
Bagaikan petir di siang bolong, pernyataan sekaligus permintaan itu mampu membuat Melody melayang tinggi.
Alan membalik tubuh Melody menghadapnya, kemudian membantu Melody untuk duduk bersila di kasur.
Mata biru terang Alan menatap lekat mata cokelat terang Melody, maafkan Alan, ini diluar kendali, mulutnya sungguh tak bisa di ajak kompromi dan kali ini mulutnya itu berkata sama dengan hatinya.
"Maksud kakak?" tanya Melody yang masih terlihat cengo.
"Gak ada siaran ulang!" tegas Alan.
"Masa gak ada siaran ulang, acara di televisi aja ada, masa ucapan kakak gak ada, kok gitu, gak..."
"Ssstt..." Alan menjeda ucapan Melody, membuat cewek itu cemberut.
"Denger baik-baik, kita pacaran!" tegas Alan.
Melody ingin membuka mulut, ingin sedikit protes. Tapi tertahan lagi.
"Jangan menolak, karena gue gak suka penolakan. Lo cuman cukup jawab iya atau mau. Setelah itu, lo jadi tanggungan gue."
Mimpikah ini? Melody, mengerjap-ngerjapkan matanya tak kuasa menahan rasa kaget, inikah yang dinamakan kebahagian setelah lelahnya perjuangan? "Gak mau, Melody gak mau." kata Melody. Hanya ingin mengetes saja.
"Lo mau mati?"
Melody tertegun dan langsung menggeleng.
"Jawab iya." pinta Alan dan menatap Melody dengan tajam.
Hingga mau tidak mau, Melody langsung mengeluarkan suara seraknya. "Iya."
"Tapi, ingat! Gue gak akan pernah ngelepasin apa yang udah jadi milik gue dan saat lo udah jadi milik gue. Itu artinya, saat itu lo udah masuk di dunia gue. Jadi cepat atau lambat lo akan tahu, gimana kelamnya dunia gue. Gimana kacaunya hidup gue, gue..." Alan menjeda kalimatnya sambil menatap ke arah Melody, kali ini bukan tatapan tajam, melainkan tatapan lembut.
"Lo sanggup?" tanya Alan.
Melody hanya mampu mengangguk samar, hingga tak terasa air matanya mengalir.
"Jangan nangis, gue gak suka liat cewek gue nangis, apalagi pas di hadapan gue. Lembek banget!" tangan kekar Alan menghapus air mata Melody, membuat Melody semakin terisak, bahagianya membuncah.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, gue ngomong ini, bukan karena gue terpaksa atau apa, tapi intinya gue gak mau kehilangan saat gue belum sempat memiliki, gue akuin gue tipe cowok yang bodoh karena dari awal udah buat lo merasa gak ke anggep, tapi lo harus tahu satu hal, di saat itupun gue lagi mencoba mencari tahu seberapa hebatnya lo ngambil posisi di hati gue yang udah selama belasan tahun tak tersentuh. Dan ternyata lo berhak untuk ini." Alan menunjuk dadanya dengan senyuman kecil-kecil. Ia tak menyangka akan seperti ini, ia dan Melody bersatu, mengatakan perasaan satu sama lain.
Lihat, nyatanya Alan bukan tipe cowok yang menyianyiakan cewek terlalu lama, apalagi sampai membiarkan cewek itu berjuang sendiri. Nyatanya proses yang bisa di sebut cukup melelahkan itu mampu membuat Alan yakin jika hatinya sudah di renggut dan di tempati oleh Melody.
***
Jangan lupa tinggalin jejak!!!