
"Kini baru ku sadari jika Rindu itu berbahaya, mematikan dengan perlahan dan membuat diri tak berdaya."
***
Malam datang mengusir cahaya, membawa kegelapan yang nyata, kelam tak menarik. Hingga bintang dan bulan datang, membawa keindahan tersendiri yang nyatanya tak mampu membuat Alan tenang.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan itu belum cukup menghentikan semangat Alan untuk mencari Melody. Ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran kini berbaur menjadi satu.
Sampai-sampai Alan melupakan sesuatu. Alan baru teringat jika ia belum memberikan kabar kepada keluarga Melody. Begitupun dengan keluarga Alan, bahkan sahabat-sahabat Alan dan mereka pun belum tahu jika Melody hilang.
Dengan tak sabaran, Alan kembali mengendari mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata membelah jalan di malam hari, meski keadaan jalan tak sepadat pagi hari, tapi Alan harus tetap berhati-hati.
Tak butuh waktu lama, Alan sudah sampai di rumahnya. Keadaan rumah Alan nampak tak terlalu sepi.
Dengan cepat Alan melangkahkan kakinya masuk. Tepat saat Alan membuka pintu, langsung saja menampakkan tiga sosok lelaki yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lo dari mana aja Lan? Ini udah jam 12 malam, dan lo baru pulang?" kata Eza sambil menatap Alan.
"Dan apa lo gak tahu kalau Melody belum pulang?" kini giliran Gio yang berbicara.
"Atau lo bareng Melody?"
"Apa sekarang lo udah anter Melody pulang?"
"Apa Melody baik-baik aja?"
Alan mendengus kesal saat Eza dan Gio sudah mulai memberikan pertanyaan secara cepat dan hampir bersamaan.
Yah, ketiga lelaki itu adalah Eza, Gio, dan Afraz, papanya.
"Alan jawab!!!" kini suara Afraz sudah ikut terdengar.
Tunggu, bagaimana Alan bisa menjawab, kalau mereka bertiga tak memberikan kesempatan untuk berbicara.
"Lo ini gak tahu, Melody itu anak perawan, gak baik tahu di ajak keluyuran sampe tengah malam gini." itu suara Eza lagi.
"Iya tahu tuh. Masa lupa,"
"Melody di culik."
"Apa?" mereka bertiga berteriak secara serentak.
Kemudian Eza dan Gio mulai heboh melemparkan pertanyaan ke Alan.
"Di culik? Demi apa?"
"Kapan di culiknya?"
"Di culik sama siapa?"
"Lo gak becus yah jaga Melody?"
"Lo kok diem, jawab dong!"
"Woy, siapa yang nyuri Melody?"
Alan semakin kesal, bagaimana bisa Alan harus menjawab semua. Alan tak punya banyak waktu untuk itu.
"Gue gak tahu." singkat Alan dengan suara lirih.
"Semuanya terjadi begitu cepat." Alan menunduk.
"Tapi ini salah gue." akhirnya Alan menceritakan semua, tentang kesalahan pahaman, tentang pertengkaran dan tentang bentakan Alan.
"Lo bodoh Lan, lo tahu lo salah, terus kenapa lo bentak Melody?" teriak Gio dengan kesal. Kenapa bisa Alan membentak Melody, bukankah Alan tahu, jika perempuan itu nyatanya sama, tak suka di bentak.
"Gue salah." lemas Alan dan menunduk. Melihat itu tentu saja Eza, Gio dan Afraz merasa sedih.
Afraz tak pernah melihat Alan selemah ini dan ini menunjukkan jika Melody sangat berarti untuk Alan.
Untuk itu, Afraz tak akan tinggal diam.
"Jangan khawatir Lan, sekarang kita ke rumah keluarga Melody. Dan Papa akan suruh anak buah papa untuk ngelacak keberadaan Melody. Kamu tenang aja, Melody akan ditemuin sebelum pagi nanti." Afraz menepuk pelan bahu Alan, membuat Alan mengangguk.
"Makasih pah." Afraz mengangguk.
Dan tentu Alan tak akan meragukan orang suruhan papanya itu. Lihat saja, Alan tak akan segan-segan membunuh orang yang telah menculik Melody.
Setelah itu, Alan, Afraz, Eza dan Gio langsung bergegas ke rumah Melody.
Tak juga membutuhkan waktu yang lama, Alan sudah tiba di rumah Melody.
Rumah Melody terlihat ramai, bahkan lampu rumah Melody tak ada yang padam, semuanya menyala, pintu rumah Melody pun masih terbuka lebar.
Tanpa langkah ragu, Alan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Melody.
Nesa, Derga dan Satya yang telah duduk di ruang tamu langsung menyambut kedatangan Alan dengan raut kecemasan.
Nesa justru di kagetkan oleh kedatangan orang tua Alan.
"Alan?!" panggil Nesa, lalu mendekat ke arah Alan.
Ada rasa bersalah yang menyelimuti hati Alan. Ini semua gara-gara kebodohannya.
"Melody mana Lan?" tanya Nesa dengan air mata yang sudah menetes. Seketika lidah Alan menjadi keluh, rasa takut menjelajar di tubuhnya.
"Alan, adik gue mana? Dia sama elo kan?" akhirnya Satya membuka mulut di saat melihat Alan hanya diam tak berbicara apapun.
"Nak Alan, Melody mana?" suara Derga yang tegas itu nyatanya tak membuat Alan membuka mulut.
Hingga diam Alan pun semakin membuat tegang.
Tak terduga, Alan langsung bersimpuh di hadapan Bunda Melody, Nesa. Nesa yang melihat itu tentu saja kaget, bukan hanya Nesa, semua yang ada di sana pun kaget saat melihat tingkah Alan.
"Maafin Alan tante, Alan gak bisa jaga Melody." Alan menunduk sembari memeluk kaki Nesa.
Mendengar itu Nesa, Derga dan Satya kembali di buat bingung.
"Melody di culik."
Tiga kata itu mampu membuat Nesa, Derga dan Satya kaget, hingga suara tangisan Nesa pun kembali terdengar di rumah itu.
Nesa berharap jika ini mimpi, Melody tak hilang. Melody ada di kamarnya sedang tertidur pulas. Yah, Nesa berharap itu. Tapi sayang kenyataan merenggut paksa harapannya. Melody benar hilang, di culik.
"Maaf tante." Nesa menatap Alan dengan lirih, ini bukan kesalahan Alan. Mungkin ini takdir. Jadi, Nesa tak berhak menghakimi dengan cara membenci atau memarahi Alan.
"Bangun Lan, bangun. Kamu jangan lemah gini, mungkin Melody butuh kamu." Nesa menjeda ucapannya sebentar. Lalu melanjutkannya lagi. "Tante gak akan marah, tante tahu ini takdir dan di sini gak ada yang salah."
Alan semakin merasa bersalah mendengar ucapan Nesa.
"Bangun nak." Derga meraih pundak Alan dan membantunya berdiri.
Alan pun berdiri dengan keadaan yang masih menunduk.
"Kita akan cari Melody sama-sama." suara tegas Derga membuat semua yang ada di sana mengangguk samar.
***