ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Sedikit Kebersamaan



"Kita manfaatkan waktu sebaik mungkin, sebelum semuanya benar-benar berakhir."


***


Alan tengah terduduk di sebuah kursi taman sekolahnya.


Apa benar Melody tak datang?


Apa benar Melody tak mau mengetahui berita kelulusan Alan?


Apa benar Melody tak mau mengucapkan selamat atas kelulusan Alan?


Benarkah?


Alan kini menunduk dalam duduknya. Tak pernah ia sadari jika rasanya akan sesesak ini saat kau mengharapkan orang yang kau sayangi datang, tapi malah kenyataanya tak datang.


Kau tahu, rasa ketakutan datang seolah mengejek Alan jika Alan tak akan bisa bersama Melody lagi. Bukankah itu kurang ajar?


Kini Alan memang sengaja memisahkan dirinya dari sahabat-sahabatnya. Dia ingin menikmati kesendirian yang mungkin lambat laun akan membunuhnya.


Hingga sebuah tangan memeluknya dari belakang. Membawa Alan ke dalam kebahagiaan yang boleh dikatakan sangat berlebihan. Alan tak akan menolak sebab Alan tau siapa itu.


"Kakak lulus, hore..." suara teriakan dan tawa itu membuat dunia Alan seketika runtuh. Rasa ketakutan pun rasanya seolah menghilang dan menjauh.


Alan berdiri dan memeluk Melody dengan sayang. Melody yang kaget pun langsung membalas pelukan Alan.


Hey... Melody datang, bukan berarti tak akan pergi. Melody datang karena Melody ingin lebih menghargai suatu perpisahan. Melody ingin Alan lebih kuat, lebih menghargai perpisahan yang lambat laun akan terjadi.


"Aku kira kamu udah pergi." pelukan Alan semakin erat, seakan-akan tak akan ada lagi kesempatan untuk Melody lepas.


Sayangnya, pelukan seerat apapun tak akan membuat semuanya baik-baik saja. Ini lah takdir, mempertemukan dan memisahkan.


"Belum kak, kita masih punya waktu. Dan Melody pengen habisin waktu berdua sama kakak."


Hati Alan seketika sesak. Maksudnya apa? Apa Melody datang untuk pergi?


"Aku datang untuk pergi kak dan mungkin aku pergi bukan untuk kembali."


Mendengar itu Alan langsung melepaskan pelukannya. Senyuman itu, lihat Melody masih tersenyum. Tapi sungguh Alan tahu ini sangat menyiksa.


"Jangan pergi!" lirih Alan sambil menatap dalam Melody. Tentu saja Melody tak bisa berkata-kata.


Alan pun langsung memeluk Melody dengan erat. Pernahkah kalian merasakan apa yang kini di rasakan Alan? Rasanya sangat sesak, saat dia, seseorang yang berarti akan pergi dari hidup mu. Bukankah itu menyedihkan?


"Kita punya waktu satu hari kak, sebelum perpisahan benar-benar datang."


Apa? Bukankah itu terlalu singkat? Alan rasa itu tak cukup! Kenapa semua terasa sangat menyiksa di saat seperti ini.


"Terlalu singkat, aku nggak mau."


Percuma jika Melody berbicara dengan Alan, bukankah Alan itu sangat keras kepala? Jadi sudahlah.


"Yakin?" Alan mendengus kesal.


"Oke." singkat Alan dan itu membuat Melody memeluk Alan kencang, setidaknya masih ada tambahan kenangan yang akan membuat Melody bisa mengenang Alan saat nanti perpisahan itu benar datang.


"Aku mau ke pantai, bareng kakak, cuman berdua aja. Oke?" Alan membalas pelukan Melody dengan erat.


"Oke sayang." suara lembut Alan seakan membuat Melody melayang.


Melody sebenarnya tak baik-baik saja, tapi dia harus memaksakan diri untuk selalu baik-baik saja. Harus bertahan.


"Sekarang kamu ikut aku ke rumah yah! Ada yang pengen ketemu."


"Yaudah ayo!"


Melody masih tak mau bergerak. Alan pun kembali terdiam sambil menatap Melody dengan tanya.


"Gendong kak," nada suara Melody yang manja membuat Alan tersenyum dengan senang.


"Kok manja banget sih!" Alan pun mencubit kedua pipi Melody yang terlihat semakin chubby.


"Lo berdua, ngilang. Ternyata malah pacaran di sini. Astaga..." suara itu membuat keduanya kaget.


"Melo...." sapa Dena dan langsung memeluk Melody. Melody pun dengan senang hati membalas pelukan Dena.


"Lo mau kemana Lan?" akhirnya Gio pun mengajukan pertanyaan kepada Alan.


"Rumah." singkat Alan dengan malas.


"Wah! Itu ide yang bagus Lan, gue mau ikut..." teriak Eza dengan kencang dan itu membuat Alan semakin kesal.


"Gue juga mau ikut..." teriak Ijaz tak kalah nyaring.


"Gue juga...." kali ini giliran Gio.


Alan hendak membuka suara tapi Melody sudah mendahuluinya.


"Boleh, wah makin rameh deh." seru Melody sambil bertepuk tangan senang. Itu bukan ide yang buruk, hari ini menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabatnya dan besok bersama Alan, berdua saja.


"Gak boleh!" tegas Alan dan menatap ketiga sahabatnya yang terlihat seperti anak TK. Apakah mereka tak peka? Alan hanya ingin bersama Melody lebih lama. Biarkan jika kalian menganggap Alan itu egois, tak apa.


"Pelit!!!" kompak Eza, Gio dan Ijaz.


Mendengar itu Alan hanya memasang wajah datar.


"Kakak..." ah sudahlah, mungkin satu sekolah akan ikut ke rumah Alan. Kenapa? Karena Alan tak akan menolak jika Melody yang telah meminta.


Apapun untuk Melodynya.


"Oke, mereka boleh ikut." sorak bahagia pun terdengar dari Eza, Gio dan Ijaz. Dan rasanya Alan ingin melayangkan satu pukulan ke arah mereka bertiga.


Melody tersenyum ke arah Alan dengan tulus, bisakah Melody meninggalkan lelaki itu?


Bisakah?


Kenapa rasanya sangat sulit.


Alan sudah sangat banyak menuangkan bahagia di hidup Melody, Alan sudah banyak melakukan hal-hal gila untuk kebahagiaan Melody, apakah Melody tega meninggalkan Alan? Tentu jawabannya tidak. Tapi ini takdir, bukan Melody yang ingin berlalu pergi tapi takdir yang memaksa Melody untuk pergi. Dan Melody harus apa? Menolak? Tidak mungkin.


"Kamu baik sayang?" suara Alan kembali membelai telinga Melody dengan lembut. Nanti, Melody akan merindukan suara itu. Akan rindu.


Merasa tak ada jawaban, Alan pun meraih tubuh mungil Melody dan mendekapnya dengan pelan.


Melody juga akan rindu setiap peluk hangat Alan, sebab di saat seperti ini Melody selalu merasa nyaman. Hanya bersama Alan, Melody bisa senyaman ini.


Semua tahu, jika Melody sakit. Hanya tahu jika sakit saja, mereka semua tak pernah di beritahu tentang sakit apa yang di derita Melody. Melody selalu menyimpannya rapat. Hanya selalu mengatakan jika ia sakit dan harus pergi untuk berobat, meski kemungkinan untuk sembuh itu sangat tak memungkinkan.


Tapi jangan salahkan Alan, mungkin Alan tak pernah di beritahu oleh Melody. Tapi apakah Alan akan tinggal diam, tidak. Alan bisa bertindak sendiri, mencari tahu semua. Dan tentu Alan tahu, Alan hanya perlu waktu untuk memberitahu Melody tentang kebenaran yang sudah Alan tahu dengan sendirinya.


Hingga saat ini, Alan masih tak akan menyerah, untuk menahan Melody agar tak pergi terlalu jauh. Mereka akan melewati semua bersama-sama. Tanpa ada kata perpisahan. Dan Alan akan selalu ada untuk Melody, menjaga dan terus menguatkan.


***