
"Rindu, satu kata tanpa makna yang nyata. Tapi, dampaknya membuat hati menderita."
***
Melody menghela nafas kasar, hari minggu lagi. Minggu membosankan. Melody bingung harus apa? Di satu sisi rindu menggerogoti dirinya.
Kemarin, sama sekali dia tak pernah bertemu Alan. Di tambah, hari ini juga kemungkinannya sangat kecil untuk bertemu dengan makhluk dingin itu.
Apa yang harus Melody lakukan? Apa harus membiarkan rindu ini membuatnya menderita karena sesak dan pengap? Oh, itu tak boleh terjadi.
Tapi Melody harus apa?
Melody mengambil Handphone-nya yang sedari tadi terlihat berkedip-kedip. Malas, pasti itu hanya SMS operator.
Melody membuka aplikasi Whatsapp, di sana sudah banyak notif. Tapi, satu yang menjadi pusat perhatian.
Kak Alan
L siap" etr gw jmpt!
Kemana kak?
Jln.
Jam berapa kak?
Skrg!
Hah? Ko dadakan banget sih kak?
Gw ad d dpn rmh lo, skrng kluar!
Apa sih kak? Ngetik jangan singkat-singkat gitu😣 Aku gak ngerti.
Gw ad d dpn rmh lo.
Ihh,Melody gak ngerti kak.
Trn!
Gue ada di depan rumah lo.
Melody langsung berhambur keluar kamar, berlari dengan cepat menuruni tangga.
Hingga sampai di depan pintu, Melody membukanya tergesa. Hingga menampakkan sosok orang yang Melody cintai.
"Kakak." Melody menatap Alan dengan berbinar.
"Hm..."
Merasa gemas, Melody mencubit perut Alan.
"Sakit, sayang..." Alan meringis sambil mengusap pelan perutnya.
Mendengar kata sayang, Melody menunduk. Kesal karena Alan selalu membuatnya merasa tak berdaya, bahkan hanya dengan satu kata itu.
Alan memegang dagu Melody, menarik pelan agar Melody bisa menatapnya.
Alan terpaku saat bola mata biru terangnya berhadapan dengan bola mata cokelat terang Melody yang begitu indah.
"Gue suka mata lo."
Melody tersenyum.
"Melody juga suka mata kakak."
Alan menarik ujung bibirnya, hingga seulas senyum tercipta dengan indahnya.
"Kakak tahu, Melody bahagia bisa sedeket ini sama kakak."
"Iya?"
Melody mengangguk cepat. Merasa semakin gemas, Alan mengusap pelan pucuk kepala Melody, membuat Melody memejamkan matanya.
"Bunda ada?"
Melody membuka mata dan mengangguk.
"Masuk kak."
Alan mengekor di belakang Melody.
Saat memasuki rumah, Alan sudah di hadiahi senyuman yang indah dari Nesa, Bunda Melody.
"Pagi calon mantu." seolah sengaja ingin membuat pipi Melody merona.
"Bunda..." Melody merengek kecil dan sialnya itu nampak sangat menggemaskan di mata Alan.
"Hahah, Lan, liat tuh pipinya merah kayak tomat." Melody benar-benar ingin menghilang saat ini juga, entah kenapa Bunda-nya hari ini sangat menyebalkan.
Alan hanya menatap Melody dengan tatapan yang sulit di artikan. Seperkian detik berlalu, Alan kembali fokus pada Nesa.
"Maaf Tan, saya minta izin buat ngajak Melo jalan."
Melody mendengus kesal, mau ngajak jalan aja cara bicaranya kaku gitu.
"Kok pake minta izin sih? Bunda udah percaya kok sama Alan. Bunda tahu, Alan pasti bisa jagain Melody."
Melody senang, karena Bunda-nya menerima Alan dengan baik. Di satu sisi Alan merasa iri dengan Melody, Bunda Melody terlihat sangat menyangi Melody. Alan tesenyum kecut, membayangkan satu wanita yang telah membuatnya selama menderita, Mama-nya. Perubahan nyata yang wanita itu bawa, sudah terlalu dalam membuat hati Alan terluka parah.
Lama tak bergeming. Melody yang melihat Alan langsung terdiam. Cowok itu terlalu banyak memikul beban sendiri.
***
Melody melipat kedua tangannya di dada. Kesal melihat kakak kelasnya itu masih diam membeku di dalam mobil.
"Kakak itu gak niat banget kayaknya ngajak Melody jalan." Alan mengerutkan alisnya bingung. Mendengar ucapan Melody, fokusnya untuk menyetir kini terpecah belah.
"Tuh kan, gak di respons lagi." Melody mendengus sambil memanyunkan bibirnya.
"Apa?"Â hanya itu respons Alan.
Bolehkah Melody mencakar wajah dingin itu? Boleh? Rasanya sangat kesal ketika ia mengeluarkan banyak kata, tapi hanya di respons satu kata saja atau bahkan tak di respons.
"Gak apa-apa, tadi ada kucing terbang yang lewat pake baju kebaya."
Mendengar itu Alan sedikit terkekeh, Melody-nya itu tengah kesal kepadanya.
"Kenapa ketawa?" cibir Melody.
Alan hanya menggeleng pelan, sambil fokus dengan kemudi setir. Sementara Melody sibuk menatap keluar. Memperhatikan aktivitas sekitar.
Lama, keheningan pun menguasai mereka di dalam mobil, membiarkan semuanya mengalun indah tanpa adanya suara yang berarti.
Hingga mobil Alan terhenti pada suatu taman, yang di dalamnya ada suatu danau buatan. Di situlah Alan sering menghabiskan waktu untuk sendiri. Hingga saat ini, hatinya meyakinkan untuk membagi semua pada satu cewek yang saat ini telah mengambil keseluruhan tempat yang ada di hatinya.
Alan menuntun Melody melewati jalan, mengingat wanita itu terlalu sering jatuh karena ceroboh.
"Kakak itu sweet banget!" Melody mengedipkan matanya ke arah Alan membuat Alan menahan gemas.
"Iya."
"Kakak, kita mau kemana?"
"Kakak, Melody mau ice cream."
"Kakak, Melody mau main ayunan."
"Kakak, itu ada kucing kok lucu banget yah."
"Kakak, itu ada kupu-kupu tangkepin."
Hampir semua rentetan kalimat itu keluar dari mulut Melody dengan kecepatan maksimal.
Alan merengkuh Melody, lalu mengusap pelan pucuk kepalanya. Itu salah satu cara agar wanita itu terdiam. Dan benar saja, itu berhasil Melody bungkam.
Melody ingin memekik keras, tapi itu tertahan. Degup jantungnya terasa tak normal dan yang paling luar biasa adalah ketika Melody mendengar degupan yang sama dari Alan.
Saat sampai di sebuah danau buatan, Alan menggiring Melody untuk duduk di sebuah bangku yang ada di dekat danau itu. Tentu saja Melody menurut.
Melody menatap kagum pada sekitar, sbelumnya Melody tak pernah ke sini. In baru pertama kali.
Sementara Alan nampak gusar, ketakutan melanda dirinya. Alan takut, saat Melody tahu semua maka ia akan menyesal dekat dengan Alan. Bukan hanya itu, banyak ketidakmungkinan yang akan terjadi setelahnya.
Tapi, jika Alan masih diam. Maka itu sama saja Alan tak pernah menganggap Melody ada. Bukankah saat kita telah memutuskan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, maka siap tidak siap kita harus membagi duka kita kepada orang itu.
Jangan egois, karena sudah pasti orang yang kita pilih untuk melengkapi diri kita akan kecewa jika satu kebenaran saja tak pernah bisa kita lontarkan di hadapannya.
Dan, Alan ingin Melody tahu, jika hidupnya tak seperti orang lain, hidupnya itu penuh dengan ketidakadilan. Semuaanya berlangsung dengan lama, hingga Alan sudah terbiasa bersahabat dengan luka.
"Kakak..." Melody bersuara dengan pelan, membuat Alan tersadar. Sedari tadi Alan memang asik dalam pikirannya sendiri.
Tapi, mungkin inilah saatnya, Melody harus tahu semua. Harus tau, jika Alan adalah orang termenyedihkan yang ada di muka bumi.
***