
Melody hanya pasrah saat kini Ajeng kembali mendapatkannya. Tidak ada lagi yang bisa Melody lakukan. Matanya menatap nanar ke arah Ijaz yang sedang di todong oleh senjata api. Tidak, Melody tidak boleh egois.
Jangan karena ia ingin selamat, ia malah mengorbankan nyawa orang lain.
Ijaz melemparkan tatapan memohon ke arah Melody. Melody bisa melihat dengan jelas, jika lelaki itu benar-benar merasa bersalah.
Hingga dengan sekuat tenaga, Melody langsung membalasnya dan memejamkan mata pelan.
"Kalau lo berani bergerak, lo bakal mati!" ancam Ajeng dan mendekat ke arah Melody.
Senyuman itu benar-benar membuat Melody gemetaran. Haruskah ia mengakhiri hidupnya di tempat ini.
Sungguh ini benar-benar menyesakkan.
"Jangan bodoh, Ajeng!" bentak Ijaz.
Namun Ajeng tidak mau ambil pusing, dengan langkah berani. Ajeng mendekat ke arah Melody dan kembali menjambak rambut Melody dengan keras. Tamparan pun membabi buta. Membuat Melody benar-benar terkapar lemah.
Suara tawa yang menggema membuat rasa sesak di dalam hati Melody meraung tak terima.
Namun, sedetik berikutnya Melody hanya bisa pasrah. Melody memejamkan matanya kuat-kuat. Setidaknya ia bisa menikmati hirupan nafas di akhir hidupnya dengan damai.
Ajeng merasa puas bermain-main. Dengan masih tersenyum, Ajeng menyodorkan pistol itu tepat di depan Melody. Ajeng sudah menempatkan sasaran yang tepat.
Kepala Melody, sekiranya jika tepat sasaran, perempuan itu akan mati dalam hitungan detik. Bukankah itu akan istimewa. Ajeng menyukainya. Sangat amat menyukainya.
Brakkk...
Pintu yang terbuka membuat fokus Ajeng kembali buyar. Dengan gerakan cepat, Ijaz langsung membekap Ajeng dan menahan pergerakannya.
Setidaknya ini yang bisa Ijaz lakukan untuk menebus kesalahannya.
Alan yang baru saja masuk langsung kaget ketika melihat keadaan Melody yang sudah di oenuhi oleh luka memar. Rahang tegas Alan mengeras, hingga tatapan matanya terarah pada Ajeng yang sedang di bekap oleh Ijaz.
Mata Ijaz mengisyaratkan agar Alan cepat mendekat dan membantu Melody bergerak.
"Kakak," lirih Melody dan kembali menangis tersedu.
Sedikit tidak menyangka karena Alan bisa menemukannya. Bahkan saat nyawanya masih ada di tempat.
"Maaf." hanya itu yang Alan katakan, sebelum mendekap Melody dengan nyaman. Alan menyalurkan segalanya, termasuk rasa sesaknya yang sedari tadi membuncah.
Alan bersyukur, karena takdir masih bisa memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Melody. Paling tidak, Alan bisa berbangga diri karena ia tidak terlambat.
Melody juga menenggelamkan dirinya di dada bidang Alan. Merasakan detakan jantungnya yang amat tak karuan.
Melody tidak bisa berkata-kata lagi, selain karena tenaganya sudah terkuras. Lidahnya juga terasa keluh. Kejadian beberapa menit tadi benar-benar membuat lutut Melody gemetaran.
"Maaf." ulang Alan dan mengecup pucuk kepala Melody dengan lembut. Tangannya mengusap punggung kecil Melody yang bergerak naik turun. Jelas saja, pasti Melody sangat ketakutan.
Dalam dekapan itu, Melody menggeleng lemah. "Ini bukan salah kakak, kalau aja Melody mau percaya. Pasti semua gak akan kayak gini. Melody bener-bener minta maaf."
"Gak, ini salah gue. Semestinya gue gak bentak elo."
"Pokoknya Melody minta maaf." air mata Melody semakin mengalir deras. Hingga kini, dada Alan sudah basah akibat air mata Melody.
"I love you, Melody." bisik Alan dan masih mempertahankan dekapannya.
Setelah itu, pasangan itu kembali larut dalam sebuah kehangatan. Seakan-akan mereka melupakan segalanya. Mereka menikmati pertemuan mereka dan mereka sama-sama bersuyukur karena mereka masih bisa saling menyapa dan membalas rasa seperti sekarang
Mungkin saja kedua sejoli itu lupa. Jika Ijaz tidak akan selamanya bisa menahan Ajeng yang seperti orang kesetanan.
Perempuan itu benar-benar sudah gila dan terobsesi. Hingga tidak ada yang bisa mengekangnya. Ijaz yang sudah mulai tidak bisa menahan langsung terhempas.
Langsung saja Ajeng menodongkan senjatanya ke arah Melody yang sedang asik tenggelam di dalam dekapan Alan. Sungguh, Ajeng terbakar setelah melihat itu.
Ajeng merasa tidak bisa menahan diri, rasanya sesak saat melihat mereka berdua malah melepas rindu.
Dorr...
Suara tembakan itu memekik telinga. Hingga mau tidak mau, Ijaz memejamkan matanya dengan reflek. Detakan jantungnya sudah tidak bisa tertahan.
Di tambah lagi rasa bersalahnya yang mulai mengudara. Ijaz mulai berandai-andai sekarang.
Hingga suara pekikan dari suara yang Ijaz kenali membuat Ijaz membuka mata. Ijaz melihat Ajeng sudah tertunduk dengan tubuh bergetar hebat. Pistol yang dia pegang sudah terhempas.
Sebenarnya apa?
Dan saat Ijaz mengalihkan matanya menatap ke depan. Mata Ijaz langsung menatap sepasang kekasih itu dengan lirih.
"Kakak?!" panggil Melody sembari menepuk pelan pipi Alan yang sudah terbarik tidak berdaya di atas lantai. Darah segar merembes ke segala arah. Hingga Melody benar-benar bergetar hebat.
Alan melihat Ajeng menyodorkan senjata ke arah Melody. Hingga sebelum senjata itu mengeluarkan peluru, Alan sudah lebih dahulu memutar posisi dan membuat dirinya menjadi temeng untuk tubuh lemah Melody.
Suara gelegar itu mamou membuat Alan melepaskan pelukannya dan luruh ke lantai. Alan merasakan sesak yang perlahan merenggut pusat pernafasannya. Hingga dadanya terasa sangat sakit, seperti terhimpit sesuatu.
Telinga dan matanya masuh bisa berfungsi. Dengan samar-samar, Alan mendengar suara lirih itu menyapanya.
"Jangan nangis, gue gak apa." singkat Alan dengan nafas tercekat. Matanya mulai buram dan udara yang ia hirup mulai semakin berkurang.
Melody menggeleng, bagaimana bisa keadaan seperti ini dikatakan baik-baik saja?
Ini lelucon.
Tapi ini sama sekali tidak lucu
"Kakak jangan bercanda. Kakak itu kenapa-kenapa!" teriak Melody frustasi.
"Gak," singkat Alan. Kemudian dengan suara yang masih tersisa. Alan mengatakan, "Gue cinta sama elo. Jadi jangan nangis. Gue gak suka."
Melody kembali menggeleng.
"Aku juga kak, jadi jangan tinggalin aku."
"Gak akan." kata Alan dan mulai memejamkan matanya.
Alan sudah merasa tidak sanggup. Sesak dadanya semakin menjadi-jadi.
Hingga suara histeris Melody tidak mampu menebus telinga Alan.
Alan tertidur dalam damai dan itu membuat Melody tidak bisa baik-baik saja.
***