
"Bukannya sudah ku bilang, masalah akan selalu datang. Dan aku, selalu ada untuk mendengar masalah mu."
***
Melody tak peduli dengan derasnya hujan, oleh karena itu Melody memutusnya untuk nekat berjalan menembus air hujan. Tak peduli dengan keadaannya yang masih tak meyakinkan. Melody hanya ingin menikmati kebahagiaan kecil yang selama ini sangat sulit untuk ia dapatkan.
Dingin, itulah yang dirasakan Melody, saat seluruh tubuhnya sudah basah.
Seperkian detik, tubuhnya menggigil, tapi sebisa mungkin Melody menahan.
Bahkan di saat semuanya terasa mulai menggelap, Melody masih bisa tersenyum. Hingga semuanya benar-benar gelap, sangat gelap, akhirnya Melody pingsan.
Alan yang menyaksikan robohnya tubuh mungil itu langsung berdecak, kesal dan berbagai perasaan mulai bercampur aduk.
Tanpa pikir panjang Alan langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian berlari keluar menghampiri cewek itu yang tak lain adalah Melody.
Melihat Melody lemah tak berdaya, Alan langsung menggendong tubuh mungil Melody ala bridal style kemudian membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Pikirannya kalut, cewek itu terlihat sangat pucat dengan badan menggigil kedinginan, tak bisa di pungkiri hati Alan sedikit goyah melihat keadaan cewek itu.
Tanpa pemikiran jernih, Alan membawa Melody ke rumahnya. Sebenarnya ini pilihan satu-satunya sebab, Alan tak tahu harus membawa Melody kemana, sedikit pun ia tak tahu, dimana Melody tinggal.
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Alan kembali mengangkat tubuh mungil Melody dengan tergesah. Membawanya masuk ke rumahnya, rumah yang terlihat kosong tanpa ada tanda-tanda kehidupan.
Ayahnya, tengah berada di luar negeri, katanya. Sebab kejadian di malam itu, Alan sangat tak minat untuk datang ke rumah ini. Tapi, di saat seperti ini, hanya rumah ini yang bisa Alan gunakan untuk membawa cewek yang pingsan karena hujan.
Di rumahnya sama sekali tak ada pembantu, jadi ini pemandangan yang sangat biasa menurut Alan, tinggal di rumah mewah bak istana tapi sepi seperti kuburan.
Mata Alan menatap cewek yang ada di gendonganya ini, tak sengaja mata Alan menangkap name tag yang tertera di dada kanan cewek itu.
Melody Nicella. Batin Alan, setidaknya tanpa sengaja, Alan mengetahui nama cewek yang di gendongnya saat ini. Boleh di garis bawahi bahwa itu ketidak sengajaan.
Alan membawa Melody memasuki kamarnya yang bernuansa hitam putih, ini kali pertama Alan membawa seorang cewek untuk datang ke rumahnya dan masuk ke kamarnya. Hanya cewek yang bernama Melody ini.
Jika saja Melody tak pingsan maka, fakta ini akan menyebabkan kesenangan tersendiri untuk Melody.
Dengan perlahan, Alan merebahkan Melody di atas kasur. Alan berjongkok, membuka sepatu Melody dengan penuh kehati-hatian.
Melody sama sekali belum memberikan tanda-tanda jika dia akan bangun dari pingsannya itu.
Alan merasakan bahwa baju seragamnya basah, tapi saat melihat ke arah Melody, Alan baru sadar akan satu hal. Baju Melody basah dan Alan tak mungkin membiarkan Melody memakai baju yang basah, karena itu akan membuat keadaannya semakin sulit. Sedingin-dinginnya Alan, tapi dia masih punya hati. Walaupun membeku.
Kegundahan kian melanda, apa yang harus Alan lakukan, yang intinya Alan harus mengganti baju Melody.
Tapi Alan sadar, itu ketidakmungkinan yang harus Alan hargai, bukan tanpa sebab. Alan bukan tipe cowok brengsek yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, ia tak mau gegabah.
Dengan gerakan cepat Alan berlalu keluar, tak lama kemudian datang kembali sambil membawa minyak kayu putih.
Alan bingung, harus melanjutkan kegiatannya ini atau tidak, tapi secepatnya ia harus membuat Melody sadar.
Dengan cepat Alan duduk di pinggir kasur, dan mulai mengoleskan minyak kayu putih di kedua tangan Melody, mendekatkan minyak kayu putih itu ke indera penciuman Melody.
Katakan saja, jika Alan memang sama sekali tak punya pengalaman menghadapi orang pingsan seperti ini. Inilah kenapa ia terlihat sedikit bingung dan kaku.
Hangat, cewek ini demam.
Alan sendiri bingung, ini di luar kendalinya, Alan sama sekali tak pernah menyentuh cewek mana pun selama ini. Tapi, kenapa saat melihat Melody keberanian untuk menyentuh lebih mendominasi.
Mata Alan semakin terpaku, saat melihat wajah Melody yang kian memucat. Oh, tunggu apa ini pantas di sebut khawatir, cemas atau lainnya?
Alan memperbaiki posisi duduknya, matanya tak lepas memandangi wajah Melody. Tangannya bergerak menyusuri kepala Melody, jarinya bergerak lembut untuk mengusap rambut Melody.
Cukup lama, nyatanya itu membuat Alan tak sadar.
"Eughh..." lenguhan Melody membuat Alan sedikit kaget, terbukti saat ujung bibirnya tertarik ke atas, wajahnya menampakkan ekspresi yang salah, tersenyum. Tentu saja itu bukan kehendaknya.
Usapan Alan semakin menjadi-jadi.
Melody yang merasakan usapan itu tentu kaget, dengan terpaksa Melody membuka matanya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
Kak Alan. Melody langsung mengerjapkan matanya berkali-kali, ia takut ini hanya mimpi. Maksudnya, ini kebohongan.
Merasa heran dengan tatapan Melody, Alan langsung menatap Melody juga, membuat pandangan mereka terkunci, tapi Alan sama sekali tak menghentikan usapannya.
"Apa?" tekan Alan dengan semakin gencar menatap bola mata cokelat bening Melody.
Melody menggeleng cepat, matanya menatap ke sekeliling kamar yang berwarna hitam putih ini, semuanya tampak asing, ini bukan kamarnya.
Hatinya menghangat, saat matanya kembali merasakan usapan di kepalanya tak berhenti, sekali lagi ia terkejut, saat otaknya kembali menerka-nerka dimana ia sekarang? Hatinya mengatakan bahwa ia ada di rumah, tepatnya di kamar Alan, kakak kelasnya itu.
Senyumnya sudah tak tertahan, bahagianya luar biasa, Melody tak mampu menahan diri. Ini luar biasa, Alan membanya ke rumahnya, menaruhnya di kamarnya.
"Bangun!" usapan Alan terhenti, membuat Melody terdiam.
Hatinya berkecamuk hebat, pikiran jahatnya mulai menerka-nerka lagi, apa Alan akan mengusirnya keluar? atau banyak kemungkinan hal yang bisa terjadi.
Melihat wajah Melody yang sepertinya mulai berubah, Alan langsung melanjutkan ucapannya.
"Ganti baju dulu." tenggorokan Melody tercekat, Alan menyuruhnya ganti baju? Apa ini hanya halusinasi? Tentu tidak, karena nyatanya di saat Melody bahagia masih ada rasa sakit yang tertinggal.
Tak mau membuang-buang waktu, Melody bangun dengan pelan, hingga terduduk di pinggir kasur empuk Alan.
"Maaf." kata Alan, sembelum akhirnya menggendong Melody kembali dengan ala bridal style.
Bolehka Melody memekik saat ini juga? Bahagia rasanya.
Saat sudah sampai di kamar mandi, Alan menurunkan Melody dengan pelan. Tanpa berkata-kata, Alan keluar dan tak beberapa lama, Alan kembali sembari mambawa hoodie kebesaran dengan model sangat ke cowok-an.
Alan menyodorkan hoodie itu ke Melody. Mengisyaratkan agar Melody memakainya. Setelah memberikan jaket, Alan berlalu keluar tanpa sepata kata apa-pun, menutup pintu dengan pelan tanpa suara.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak yah Readers😁 Satu like, vote dan komen kalian sangat berharga💜